Pages

Monday, January 29, 2018

-

Sudah sangat lama rasanya dari terakhir kali saya menulis seperti ini di dunia maya yang memiliki kemungkinan sangat besar untuk dibaca orang. Di umur sekarang ini, saya rasa saya hanya berani terang-terangan di satu media sosial saja. Tapi, kali ini, saya ingin kembali berterus terang pada diri saya sendiri lewat blog yang sudah tua ini.

Saya punya kecenderungan untuk berpikir melebihi yang seharusnya dan seringnya dibarengi dengan cepat merasa bersalah atas hal-hal yang saya lakukan. Contohnya adalah ketika saya ingin sekali-sekali menjadi egois dan memberanikan diri untuk berkata tidak atau pun meminta tolong kepada orang lain. Satu waktu saya merasa tidak apa kalau saya berperilaku seperti itu barang sekali-dua kali, detik berikutnya, saya merasa seperti balas dendam, dan saya tau itu buruk. Saya sering tersandung pikiran-pikiran saya sendiri saking berantakannya. Saya sadar kalau saya hanya menyusahkan diri sendiri dengan semua pikiran yang tidak jelas arah dan tujuannya, tapi ya itu tadi, saya kesulitan mengendalikan kepala saya.

Sunday, May 7, 2017

Tentang Millenials Salurkan Hobi


 "Everyone needs a hobby," he said. "And everyone needs a miracle or two, just to prove life is more than just on long trudge from the cradle to the grave." ― Stephen King, Revival 

Di era teknologi yang terus berkembang dewasa ini, sebagian besar orang berusaha untuk mengukuhkan eksistensinya di media sosial dan kini, fenomena tersebut tidak bisa terelakkan lagi. Sebut saja kalangan selebgram yang berlomba membuat vlog yang menceritakan tentang kesehariannya, yang bagi sebagian besar orang telah menjadi gaya hidup. Jika diperhatikan, sudah banyak akun-akun vlog di Youtube dengan beberapa konten yang berbeda. Yunita Elisabeth salah seorang beauty and fashion vlogger yang membuat vlog tentang tips kecantikan rambut, OOTD, dan tutorial make up. Yunita menyalurkan hobinya lewat vlog agar bisa sharing tentang informasi seputar beauty and fashion khususnya kepada kawula muda. Sesekali Yunita Elisabeth juga sharing tentang kesehariannya di vlog, berawal dengan ketertarikannya kepada dunia fashion and beauty, Yunita sadar semua orang layak tampil cantik dan fashionable, dan untuk dapat tampil fashionable tidak selamanya harus mengeluarkan biaya yang mahal. Dari situlah, Yunita membagikan informasi tentang bagaimana tampil cantik dan fashionable tanpa harus mengeluarkan banyak biaya melalu Youtube channel-nya.

Monday, April 10, 2017

Cerita Tentang yang Asing

Dulu sekali, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya punya kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang asing lewat dunia maya, mencoba berbagai situs hanya untuk mencari teman bicara. Situs yang saya maksud disini tidak memaparkan identitas penggunanya, kita akan bertemu orang lain secara acak, dari seluruh penjuru dunia. Dari pengalaman yang sudah-sudah sebagian besar yang mengakses situs ini adalah remaja dan orang-orang dewasa. Untuk mendapatkan teman bicara yang nyaman bagi saya sendiri butuh beberapa kali percobaan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan yang satu ini.

Biasanya saya berinteraksi dengan orang-orang itu hanya selama beberapa hari bahkan hanya 1 hari itu saja. Dengan teman-kalau bisa saya menyebutnya begitu- saya ini, kami saling bertukar kabar cukup lama setelah sebelumnya bertukar alamat surel, bahkan sampai satu tahun mungkin? Saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, masih dalam kondisi yang cukup labil, sedangkan dia saat itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir kalau tidak salah.

Saya sendiri sampai bingung bagaimana caranya kami bisa begitu akrab, padahal ada begitu banyak hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Ah ya, mungkin karna itu. Karena kami tidak kenal. Kami berdua adalah orang asing yang tidak perlu berbasa-basi, toh pada dasarnya tidak ada tuntutan atau keharusan bersikap. Dan bagi saya sendiri, dia adalah sebuah ruang berlari, tanpa perlu takut dianggap seperti apa. Entah dia menganggap saya apa, saya tak terlalu ambil pusing.

Untuk seorang asing, dia terbilang sangat baik. Dia juga temang bicara yang cukup menyenangkan. Bahkan saling mencaci pun tak terasa menyakitkan. Apa yang perlu ditakutkan dari cacian orang asing?

Sekarang saya sudah berada di tahun ketiga perguruan tinggi. Sudah cukup lama saya tidak mendengar kabar teman saya itu. Terkadang saya merasa rindu bercerita tanpa takut dihakimi. Tapi, di sisi yang lain, saya merasa sudah cukup.

Beda rasanya jika saya berbicara atau bertukar sapa dengan teman lama saya. Saya terlalu takut dengan perubahan-perubahan yang bisa terjadi selama pembicaraan itu berlangsung. Saya takut merasa saya tak mampu mengimbangi mereka. Saya takut merasa mereka tidak ingin berteman dengan saya lebih lama lagi. Ya, saya memang se-insecure itu. Hal yang tidak saya dapati dari orang asing. Saya tidak akan memaksa mereka memahami saya karna sekali pun saya meminta mereka tidak akan pernah benar-benar melakukannya. Dan saya cukup tahu diri untuk tidak meminta hal yang berlebihan seperti pengertian atau yang semacamnya.

Sekarang saya benar-benar penasaran dengan kabar teman saya itu. Apakah dia baik-baik saja? Semoga kebahagiaan selalu ada bersamanya.

Sometimes, they made you think that strangers know you better.

Monday, February 29, 2016

The Concert

Saya bukan makhluk konser, bahkan bisa dibilang saya tidak terlalu menikmati berada di lautan manusia dengan musik yang seakan-akan mencengkeram gendang telinga saya. Walapun saya pernah mengikuti acara pentas seni di SMA dulu--karena sebuah keharusan, saya tidak pernah mengikutinya sampai selesai. Sebelum bintang utamanya keluar, sebisa mungkin saya berada jauh dari sound system.

Selain konser musikaliasi yang diadakan ekskul saya dulu, konser Efek Rumah Kaca di acara Iridescent February tempo hari adalah konser yang paling membuat saya girang. Awalnya saya ragu mau datang, membayangkan kondisi hingar bingar sebuah konser musik yang tidak pernah terasa nyaman. Tapi, teman kuliah saya yang teramat sangat persuasif, berhasil membuat saya mengiyakan ajakan untuk datang, ditambah dengan isu yang mengatakan bahwa ERK akan vakum. Dan saya tidak menyesal dia terus merecoki saya.

Kali pertama saya berkenalan dengan musik ERK ini saat masih duduk di bangku SMP, apalagi kalau bukan Desember. Saya menyukai iramanya yang menenangkan. Setelah itu, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya karena tidak ada orang lain yang tau tentang band ini. Setelah masuk kuliah, saya bertemu dengan teman saya ini, dan ternyata playlist-nya terbilang lengkap. Saya langsung mendengarkan semua albumnya, dan kembali jatuh cinta. Beberapa orang yang saya kenalkan dengan band ini kebanyakan mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang mereka dengar. Pun saya tidak mengerti mereka.

Kembali ke konser, acara ini dimulai jam 19.00, diisi dengan band-band lokal. Kami berdua duduk di sayap kanan. Memasuki jam 21.00, nama ERK mulai digaungkan. Bisa dibayangkan, jantung saya berdebar bukan main. Melihat band yang selama ini hanya saya kagumi dari playlist saya. Entah siapa yang memulai, penonton yang semula duduk langsung bergerak ke bibir panggung, berdiri dihadapan ERK. Dibuka dengan lagu Merah, sontak semuanya berteriak riuh, tepuk tangan dan ikut melantunkan lagunya.

Tak bisa dipungkiri, ketika menonton sesuatu yang saya sukai seperti ini secara langsung, saya menjadi hyperactive, badan saya tidak mau diam, berteriak tidak karuan, memanfaatkan kondisi disekitar saya yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Saya menyukai atmosfer selama Mas Cholil dan kawan-kawan (minus Mas Adrian) manggung. Penonton ikut bernyanyi di semua lagu yang mereka bawakan. Saya tidak bisa mengatakan lagu mana yang paling “berisik”, karena rata-rata lagu yang dibawakan memicu teriakan maksimal. Lagu-lagu dari album Sinestesia, dan album lainnya.

Cara mereka membawakan lagu-lagunya pun membuat saya melupakan tugas-tugas yang harusnya saya siapkan. Mereka terlihat bermain dengan hati, bergerak mengikuti musik, saya sendiri sampai ikut memejamkan mata, mengisolasikan diri saya dengan musik mereka. Terlebih cara Mas Cholil bernanyi, membuat saya lebih memaknai lagu-lagu ERK. Favorit saya? Semuanya! Saya sangat menikmati permainan mereka. Saya jatuh cinta lebih dalam terhadap karya-karya mereka. Maybe I’m a freak, but at least I have my own world. Sayang aja saya tidak dapat pick gitar yang dilempar, padahal mupeng pas liat Mas Cholil ngeluarin pick dari kantong.


Mungkin saya akan mengikuti konser mereka setelah vakum kalau saya ada kesempatan. Well, goodluck, Efek Rumah Kaca! You worth my voice!

Ah ya, kalian harus mulai mencoba untuk mendengar musik mereka. Mulai dengan Desember!

Salam,

T

Tuesday, September 1, 2015

Satu Tahun (Penghujung Abu-Abu III)

Satu tahun lagi terlewati dengan aman sentosa.

***

Genap setahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu. Dalam jangka waktu itu pula saya menyandang status sebagai mahasiswi. Tidak lagi berbagi meja dengan Hilda, tidak lagi menelan mata pelajaran yang mengulas semua bidang sains. Sekarang saya di sini, mengambil jalan yang telah saya pilih beberapa hari tepat sebelum angket pemilihan jurusan dikembalikan ke bidang kurikulum sekolah.

Tahun ketiga saya sebagai siswi sekolah menengah atas terbilang santai. Di saat orang lain menyibukkan diri dengan bimbingan belajar dengan dalih mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas, saya memilih untuk mempersiapkan sendiri—dengan bantuan teman saya yang juga mengikuti bimbingan belajar. Saya hanya mengikuti bimbingan untuk memperdalam ilmu Kimia saya, entah kenapa, itupun hanya satu semester. Selebihnya, saya terus merecoki teman saya itu.

Tak banyak perubahan dalam pergaulan saya di kelas. Sedikit banyak, saya mulai membuka diri namun tetap membuat jarak. Saya lebih banyak menolak ketimbang mengiyakan ajakan mereka untuk sekedar makan bersama. Entah kenapa saya masih merasa asing. Tapi, tetap, bukan berarti saya membenci mereka. Saya hanya merasa...berbeda.

Tahun ketiga juga berarti melepas jabatan yang saya sandang di ekstrakulikuler yang saya geluti. Bagian ini yang paling berat sebenarnya. Selama 3 tahun kami berusaha untuk saling menerima, bukan sedikit waktu yang saya bagi bersama mereka. Sampai bosan rasanya. Ritual serah-jabatan bukanlah agenda yang saya sambut secara suka cita. Dengan melepas jabatan seolah menjadi lampu kuning—kami akan segera meninggalkan kelompok ini. Sekali lagi kami berdiri di hadapan adik-adik yang kelak akan memegang kendali yang telah setahun kami pegang, menghujani mereka dengan petuah-petuah dan harapan kami kedepannya. Kami terlalu menyayangi persaudaraan ini. Tapi, toh kami tetap harus bergerak maju.

Wednesday, August 26, 2015

Tamara

Kalau ada orang yang harus saya kagumi karena kepintarannya, maka Tamara akan menjadi salah seorang di antaranya. Sejak saya mengenalnya kurang lebih 8 tahun yang lalu, dia selalu hadir dengan prestasi akademis yang membanggakan. Nilainya selalu cemerlang, terlebih kemampuan berbahasa asingnya yang tidak perlu diragukan lagi.

Kali pertama saya  mengenal sosok dengan otak brilian ini sewaktu saya duduk di sekolah dasar, kebetulan kami berada di bimbingan belajar yang sama. Di luar itu, kami tidak pernah bertemu sekalipun kami satu sekolah. Saat itu, tidak pernah terlintas di kepala saya kami akan menjalin pertemanan sejauh ini.

Ketika akhirnya seragam saya tak lagi rok lipit merah, saya tahu Tamara memasuki sekolah yang sama, tapi tidak duduk di kelas yang sama. Saat memasuki tahun kedualah, saya kembali bertemu dengan Tamara dalam satu ruang kelas. Dialah yang menjadi teman sebangku Asha selama 2 tahun. Mereka tampak seperti duo pintar yang tidak berusaha untuk terlihat pintar. Dan beruntungnya, mereka mau berteman dengan saya yang biasa-biasa saja.

Di antara kami bertiga, saya dan Tamara acap kali berbeda jalan. Tak jarang kami tidak saling menegur sapa karena ego masing-masing. Semua perang dingin itu untungnya selalu berakhir secara damai. Tapi, hal itu justru menumbuhkan rasa pengertian dalam diri kami. Saya tidak pernah menyesali adanya pertengkaran-pertengkaran itu, bukan berarti saya menginginkannya lagi. Hanya saja, saya puas, pertemanan kami tidak semudah itu, yang justru menjadikannya berharga.

Monday, August 10, 2015

Selalu Ada Surat yang Menunggu untuk Dibaca

Sumber: Goodreads.com
Judul Buku         : Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis                : Dewi Kharisma Michellia
Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan              : I, Juni 2013
Tebal                  : 240 hal
Rate                    : 5/5



Buku dengan judul yang cukup panjang ini sebenarnya sudah pernah saya baca. Review ini saya tulis ketika saya membaca untuk yang kesekian kalinya, namun sedikit lebih seksama.

Ini merupakan setumpuk surat yang tak pernah sampai. Dari seorang wanita yang terlalu terpaku pada Tuan Alien—sahabatnya, berdua mereka menolak dunia, mengklaim bahwa mereka tidak sama dengan “manusia” lain di bumi. Segala tentang mereka amat mirip, mulai dari bentuk fisik hingga kesukaan. Sampai terucaplah sebuah janji, mereka akan melawan dunia bersama, dalam lingkaran pernikahan.

Wush!

Bak tertiup angin, Tuan Alien menghilang tanpa kabar hingga puluhan tahun. Entah melajang atau tidak “Aku” tak pernah tahu, yang “Aku” tahu, dia tidak ingin siapapun kecuali sahabatnya, Tuan Alien yang menerimanya dan mengerti dirinya. Terlepas dari itu, “Aku” memang tidak memiliki siapa-siapa. Kepada tuan pemilik toko buku langganannya, “Aku” menceritakan semua tentang satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak kecil, yang kini bahkan tak ia ketahui keberadaanya. Sampai suatu saat sahabat sekaligus cintanya itu hadir dalam bentuk sebuah undangan pernikahan. Tuan Alien tak lagi menjadi alien-nya. Dari situlah, “Aku” mengawali berpuluh surat-suratnya.