Pages

Sunday, December 25, 2011

Siapa sih yang mau dilahirkan sebagai orang gagal? Sebagai orang yang nggak becus dalam hal apapun? Apa kita bisa milih mau dilahirin gimana? Kan nggak sih. Udah sukur dikasih hidup.
Aku taunya aku nggak bisa apa-apa. Tapi, aku juga manusia bos. Punya rasa membutuhkan dan ingin dibutuhkan. Setidaknya gak sia-sia Tuhan nempatin aku disini. Setidaknya, adalah gunanya aku disini. Pengen dianggap. Itu aja. Gak muluk-muluk kok.
Ini perasaan lek. Bukan kresek yang dipijak-pijak tetap utuh. Lebay? Gak peduli aku.
Aku ada. Bernafas disini, bergerak. Masih hidup. Ketawa-ketawa kayak gadak masalah bukannya gak sakit.
Ngarepin tangan yang terulur buat nangkep, tapi gak ada yang datang. Ngeraih angin? Bodoh.
Ngarepin suara yang bantuin bangkit, tapi sunyi senyap kayak kuburan. Ngomong aja sama tembok. Hahaha.
Dikit aja dari waktu yang kelen punya. Ada?

Saturday, December 17, 2011

Berusaha mengerti. Berusaha melihat dari sisi positif. Berusaha mengejar cahaya yang kian menjauh. Jarak semu yang tercipta kini semakin nyata. Jelas. Jauh. Lebar. Curam. Tanpa celah untuk mengimbangi.
Terlalu lelah untuk merangkul. Terlalu kacau untuk percaya.
Menjauh? Diam? Berpura-pura? Bergunakah?
Entah kekuatan dari mana bisa berdiri sampai saat ini. Dengan semua......yah, ini.
Mempercayai hal yang sama sekali tidak nyata dan hanya sebatas selingan. Hiasan sederhana buku buram yang tertulis. Bisakah bertahan untuk seterusnya?
Bergerak mengikuti arus yang tak tentu arahnya kemana. Mencoba untuk bisa diterima. Dengan tekanan "harus" seperti itu. Mencoba untuk menjadi apa yang diharapkan.
Merasa tidak dibutuhkan. Adilkah? Hanya beberapa detik dari setiap putaran waktu yang tersedia. Bisakah aku rasakan? I doubt it.
Sadarlah.

Monday, December 5, 2011

Dan saya pun menyadari satu hal. Kalian telah terbang meninggalkan saya jauh dibawah. Kepakan sayap kalian terlalu hebat untuk bisa kusamai. Langkah kalian terlalu lebar untuk bisa kusejajari. Kalian telah menemukan rumah kalian. Aku? Ntah. Tau arah saja tidak. Untuk menyamai saja sulit, apa lagi melampaui. Oke! Selamat berjuang untuk kalian. Aku akan menyusul kalian. Kalau kalian terjatuh, aku siap menarik kalian kembali.

Galeri

Berhenti menapak untuk sejenak menoleh kebelakang. Mencoba mencari titik putih di antara goresan tinta hitam dalam lembaran cerita berdebu. Berusaha mengais harapan yang mungkin tertinggal. Berharap sang waktu sudi istirahat sebentar, memberikan kesempatan untuk bernafas sebelum akhirnya mati terbunuh ingatan kelam.
sistem pengatur ini tak lagi mampu bekerja hanya untuk memikirkan arah mana yang harus dituju, bahkan sekedar untuk mencerna apa yang terjadi saja pun tak mampu. Tangan ini tak lagi mampu menggapai bayangan yang tadinya menutup lensa mataku sampai aku buta akan kenyataan yang terpampang dimukaku. Jemari dari Tuhan tak cukup untuk bisa menghancurkan potret buram di galeriku sendiri.
Rekaman dalam kepalaku pun kembali terputar. Menceritakan kebodohan dan kesalahan yang tak kunjung bisa kupelajari, yang tampaknya kembali terulang untuk yang kesekian kalinya. Sebuah keteguhan yang melayang entah kemana. Sebuah kepercayaan yang menguap dan jatuh menjadi titik-titik kekecewaan. Mencoba memahami kata-kata yang terucap dalam keheningan. Mencari kebenaran dalam tumpukan omong kosong yang disodorkan.
Seirama dengan detak jantung yang kian terpompa tak beraturan, seolah realita mengatakan inilah garis akhir dari cerita yang telah tertulis. Mimpi yang tergambar hilang bersamaan dengan langkah yang kau ambil. Aku pun harus pergi sebagai orang lain.

Thursday, October 27, 2011

Menurutmu kenapa sekarang aku sering mendengarkan lagu itu?
Menurutmu kenapa aku mau tau kabar tentangmu?
Menurutmu kenapa aku selalu mengedarkan pandanganku hanya untuk mencari sosok yang kini menjauh?
Coba kau jelaskan. Di depan mukaku, jelaskan secara langsung, tanpa perantara siapa pun.
Aku hanya ingin mendengarnya darimu, bukan dari orang lain.
Mereka bisa saja mengarang cerita yakan? Hahahaha
Kau tidak perlu menatapku dengan pandangan seolah-olah kaulah orang yang paling menderita.
Kalau kau memang beranggapan begitu, selamat. Perkiraanmu salah.
Kau yang jelas-jelas milik orang lain tidak seharusnya menderita hanya karena berita yang kau dengar.
Kalaulah berita itu benar, kau bisa bilang kalau kau juga sempat menderita.
Nyatanya, kau hanya termakan omong kosong.

Tuesday, October 11, 2011

Kekonyolan itu kembali terulang. Bodoh. Tersungkur menghadap aspal kehidupan. Miris.
Semua terjadi sangat cepat. Sama seperti dulu. Tidak pernah ada akhir bahagia. Tidak ada perubahan skenario.
Haaah! Indahnya hidup
Terlalu indah malah, aku nyaris mati dikelabuinya
Teka-teki yang jawabannya serumit lukisan abstrak yang paling abstrak.
Harapan itu konyol. Bertindak seolah dia menarikmu bangkit, nyatanya kau malah tersungkur. Dan lihat dia, tertawa seperti iblis. Mau lari? Lari saja, tapi lihat, dia tetap akan menangkapmu. Atau kau mau sembunyi? Jangan bodoh, kau sudah bersembunyi di belakangnya.
Aku tau tidak seharusnya aku membiarkan otakku memainkan imajinasinya lagi.
Sebuah percakapan sekalipun.
Lihat aku. Aku merangkak terseok mencoba meraihmu. Dan lihat dirimu. Tersenyum tanpa sesal.
Aku terlalu mudah untuk kau tipu

Saturday, October 1, 2011

Sesaat aku menyadarinya sebagai anugrah yang memang ditujukan untukku, sampai pada akhirnya, kenyataan menamparku untuk tetap sadar kalau ini adalah permainan hidup.
Sakit memang, dibawa melayang oleh sepercik harapan kemudian ditarik dengan keras sampai tersungkur oleh kenyataan.
Kembali pada kehidupan. Gelap. Suram. Buram. Curam.
Aku meraih uluran tangan yang akan menjatuhkanku kedepannya.
Tidak bermaksud berprasangka buruk, tapi ada sedikit fakta yang mengintip dibalik skenario yang terjadi.
Jangan tanya tentang perasaan. Aku gak tau.
Jujur, aku benci keadaan ini. Menjebak. Salah langkah, hancur semua.
Bangkit dari kejatuhan bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
Entah apa permainan yang sedang diputar, bagaimana memainkannya saja aku tidak mengerti.
Dipermainkan layaknya sebuah boneka. Miris. Hahahaha