Sudah sangat lama rasanya dari terakhir kali saya menulis seperti ini di dunia maya yang memiliki kemungkinan sangat besar untuk dibaca orang. Di umur sekarang ini, saya rasa saya hanya berani terang-terangan di satu media sosial saja. Tapi, kali ini, saya ingin kembali berterus terang pada diri saya sendiri lewat blog yang sudah tua ini.
Saya punya kecenderungan untuk berpikir melebihi yang seharusnya dan seringnya dibarengi dengan cepat merasa bersalah atas hal-hal yang saya lakukan. Contohnya adalah ketika saya ingin sekali-sekali menjadi egois dan memberanikan diri untuk berkata tidak atau pun meminta tolong kepada orang lain. Satu waktu saya merasa tidak apa kalau saya berperilaku seperti itu barang sekali-dua kali, detik berikutnya, saya merasa seperti balas dendam, dan saya tau itu buruk. Saya sering tersandung pikiran-pikiran saya sendiri saking berantakannya. Saya sadar kalau saya hanya menyusahkan diri sendiri dengan semua pikiran yang tidak jelas arah dan tujuannya, tapi ya itu tadi, saya kesulitan mengendalikan kepala saya.
Showing posts with label Nyapnyap. Show all posts
Showing posts with label Nyapnyap. Show all posts
Monday, January 29, 2018
Monday, April 10, 2017
Cerita Tentang yang Asing
Dulu sekali, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya punya kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang asing lewat dunia maya, mencoba berbagai situs hanya untuk mencari teman bicara. Situs yang saya maksud disini tidak memaparkan identitas penggunanya, kita akan bertemu orang lain secara acak, dari seluruh penjuru dunia. Dari pengalaman yang sudah-sudah sebagian besar yang mengakses situs ini adalah remaja dan orang-orang dewasa. Untuk mendapatkan teman bicara yang nyaman bagi saya sendiri butuh beberapa kali percobaan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan yang satu ini.
Biasanya saya berinteraksi dengan orang-orang itu hanya selama beberapa hari bahkan hanya 1 hari itu saja. Dengan teman-kalau bisa saya menyebutnya begitu- saya ini, kami saling bertukar kabar cukup lama setelah sebelumnya bertukar alamat surel, bahkan sampai satu tahun mungkin? Saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, masih dalam kondisi yang cukup labil, sedangkan dia saat itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir kalau tidak salah.
Saya sendiri sampai bingung bagaimana caranya kami bisa begitu akrab, padahal ada begitu banyak hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Ah ya, mungkin karna itu. Karena kami tidak kenal. Kami berdua adalah orang asing yang tidak perlu berbasa-basi, toh pada dasarnya tidak ada tuntutan atau keharusan bersikap. Dan bagi saya sendiri, dia adalah sebuah ruang berlari, tanpa perlu takut dianggap seperti apa. Entah dia menganggap saya apa, saya tak terlalu ambil pusing.
Untuk seorang asing, dia terbilang sangat baik. Dia juga temang bicara yang cukup menyenangkan. Bahkan saling mencaci pun tak terasa menyakitkan. Apa yang perlu ditakutkan dari cacian orang asing?
Sekarang saya sudah berada di tahun ketiga perguruan tinggi. Sudah cukup lama saya tidak mendengar kabar teman saya itu. Terkadang saya merasa rindu bercerita tanpa takut dihakimi. Tapi, di sisi yang lain, saya merasa sudah cukup.
Beda rasanya jika saya berbicara atau bertukar sapa dengan teman lama saya. Saya terlalu takut dengan perubahan-perubahan yang bisa terjadi selama pembicaraan itu berlangsung. Saya takut merasa saya tak mampu mengimbangi mereka. Saya takut merasa mereka tidak ingin berteman dengan saya lebih lama lagi. Ya, saya memang se-insecure itu. Hal yang tidak saya dapati dari orang asing. Saya tidak akan memaksa mereka memahami saya karna sekali pun saya meminta mereka tidak akan pernah benar-benar melakukannya. Dan saya cukup tahu diri untuk tidak meminta hal yang berlebihan seperti pengertian atau yang semacamnya.
Sekarang saya benar-benar penasaran dengan kabar teman saya itu. Apakah dia baik-baik saja? Semoga kebahagiaan selalu ada bersamanya.
Sometimes, they made you think that strangers know you better.
Biasanya saya berinteraksi dengan orang-orang itu hanya selama beberapa hari bahkan hanya 1 hari itu saja. Dengan teman-kalau bisa saya menyebutnya begitu- saya ini, kami saling bertukar kabar cukup lama setelah sebelumnya bertukar alamat surel, bahkan sampai satu tahun mungkin? Saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, masih dalam kondisi yang cukup labil, sedangkan dia saat itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir kalau tidak salah.
Saya sendiri sampai bingung bagaimana caranya kami bisa begitu akrab, padahal ada begitu banyak hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Ah ya, mungkin karna itu. Karena kami tidak kenal. Kami berdua adalah orang asing yang tidak perlu berbasa-basi, toh pada dasarnya tidak ada tuntutan atau keharusan bersikap. Dan bagi saya sendiri, dia adalah sebuah ruang berlari, tanpa perlu takut dianggap seperti apa. Entah dia menganggap saya apa, saya tak terlalu ambil pusing.
Untuk seorang asing, dia terbilang sangat baik. Dia juga temang bicara yang cukup menyenangkan. Bahkan saling mencaci pun tak terasa menyakitkan. Apa yang perlu ditakutkan dari cacian orang asing?
Sekarang saya sudah berada di tahun ketiga perguruan tinggi. Sudah cukup lama saya tidak mendengar kabar teman saya itu. Terkadang saya merasa rindu bercerita tanpa takut dihakimi. Tapi, di sisi yang lain, saya merasa sudah cukup.
Beda rasanya jika saya berbicara atau bertukar sapa dengan teman lama saya. Saya terlalu takut dengan perubahan-perubahan yang bisa terjadi selama pembicaraan itu berlangsung. Saya takut merasa saya tak mampu mengimbangi mereka. Saya takut merasa mereka tidak ingin berteman dengan saya lebih lama lagi. Ya, saya memang se-insecure itu. Hal yang tidak saya dapati dari orang asing. Saya tidak akan memaksa mereka memahami saya karna sekali pun saya meminta mereka tidak akan pernah benar-benar melakukannya. Dan saya cukup tahu diri untuk tidak meminta hal yang berlebihan seperti pengertian atau yang semacamnya.
Sekarang saya benar-benar penasaran dengan kabar teman saya itu. Apakah dia baik-baik saja? Semoga kebahagiaan selalu ada bersamanya.
Sometimes, they made you think that strangers know you better.
Tuesday, September 1, 2015
Satu Tahun (Penghujung Abu-Abu III)
Satu tahun lagi terlewati dengan aman sentosa.
***
Genap setahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu. Dalam
jangka waktu itu pula saya menyandang status sebagai mahasiswi. Tidak lagi
berbagi meja dengan Hilda, tidak lagi menelan mata pelajaran yang mengulas
semua bidang sains. Sekarang saya di sini, mengambil jalan yang telah saya
pilih beberapa hari tepat sebelum angket pemilihan jurusan dikembalikan ke
bidang kurikulum sekolah.
Tahun ketiga saya sebagai siswi sekolah menengah atas
terbilang santai. Di saat orang lain menyibukkan diri dengan bimbingan belajar
dengan dalih mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas, saya memilih
untuk mempersiapkan sendiri—dengan bantuan teman saya yang juga mengikuti
bimbingan belajar. Saya hanya mengikuti bimbingan untuk memperdalam ilmu Kimia saya, entah kenapa, itupun
hanya satu semester. Selebihnya, saya terus merecoki teman saya itu.
Tak banyak perubahan dalam pergaulan saya di kelas. Sedikit
banyak, saya mulai membuka diri namun tetap membuat jarak. Saya lebih banyak
menolak ketimbang mengiyakan ajakan mereka untuk sekedar makan bersama. Entah kenapa
saya masih merasa asing. Tapi, tetap, bukan berarti saya membenci mereka. Saya hanya
merasa...berbeda.
Tahun ketiga juga berarti melepas jabatan yang saya sandang
di ekstrakulikuler yang saya geluti. Bagian ini yang paling berat sebenarnya. Selama
3 tahun kami berusaha untuk saling menerima, bukan sedikit waktu yang saya bagi
bersama mereka. Sampai bosan rasanya. Ritual serah-jabatan bukanlah agenda yang
saya sambut secara suka cita. Dengan melepas jabatan seolah menjadi lampu kuning—kami
akan segera meninggalkan kelompok ini. Sekali lagi kami berdiri di hadapan
adik-adik yang kelak akan memegang kendali yang telah setahun kami pegang, menghujani mereka dengan petuah-petuah dan harapan kami kedepannya. Kami
terlalu menyayangi persaudaraan ini. Tapi, toh kami tetap harus bergerak maju.
Monday, February 9, 2015
Antara Realistis dan Eskapisme
Satu
semester berlalu dengan ketenangan yang—sebenarnya sedikit—dipaksakan. Waktu
seolah menggelinding begitu saja, tahu-tahu sudah pukul sekian, sudah minggu ke
sekian. Saya sendiri seperti orang linglung karena kesulitan mengingat hari.
Saya ingat pernah meminta biar tahun ini bergulir saja dengan cepat, tapi saya
tidak pernah menyangka akan secepat ini. Masih gamang kalau menelisik beberapa
langkah ke belakang, takjub pada apa yang telah saya lewati, ternyata sekeras
itu saya tertempah 2 tahun yang lalu, yang bisa saya rasakan dampaknya sekarang
ini.
Tidak ada
lagi wajah-wajah menyebalkan yang sangat familier bagi mata saya selama 3 tahun
yang lewat. Wajah baru yang berusaha saya kenali 6 bulan belakangan inilah yang
berlalu lalang hampir tiap hari. Orang-orang yang akan mengumpat bersama saya
ke depannya. Orang-orang yang mungkin akan melihat saya jatuh untuk kemudian
bangkit kembali. Saya sama sekali tidak punya gambaran akan seperti apa saya
menjalani tahun-tahun ke depan. Menerka pun tidak berani, takut dikecewakan
mimpi.
Sunday, June 8, 2014
Penghujung Abu-Abu (I)
Assalamualaikum.
Baru bulan lalu saya resmi dinyatakan lulus sekolah menengah atas, menanggalkan seragam sekolah saya untuk seterusnya. Jadilah saya bukan siswa, belum pula mahasiswa walaupun saya sudah tahu di mana saya akan melanjutkan pendidikan saya. Saya ingin bercerita bagaimana tiga tahun saya tumbuh dalam warna abu-abu.
Mungkin waktu itu bulan Juni atau Juli 2 tahun lalu, saya lupa, rok seragam saya abu-abu alih-alih biru. Bukan lagi seragam pendek, melainkan panjang. Saya masuk dengan pemikiran masa orientasi yang akan saya hadapi waktu itu adalah salah satu dari pembodohan yang akan saya temui. Saya bukannya menentang masa orientasi, saya hanya kesal dengan ulah kakak kelas saya yang terkesan mencari-cari alasan untuk marah-marah selama masa orientasi tersebut. Saya dulu saya termasuk orang yang sewot terhadap senioritas yang berlebihan, bahkan mungkin sampai saat ini saya merasa begitu. Kalau boleh jujur dan tidak bermaksud berburuk sangka, saya selalu merasa beberapa kakak kelas saya ingin membuat juniornya merasakan apa yang dulu mereka rasakan saat ada di posisi kami saat itu. Saya tidak pernah pulang dengan hati yang berbunga-bunga selama 3 hari itu. Selalu ada umpatan yang saya sumbangkan setiap sore untuk tingkah mereka. Tapi, tidak semua kakak kelas seperti itu. Selalu ada kakak kelas yang lebih menghargai juniornya tanpa membuatnya dilupakan sebagai senior. Saya senang dengan orang-orang yang tahu kapan harus memasang sikap sebagai senior dan kapan tidak. Karena percayalah, kalian akan lebih senang jika disegani daripada ditakuti.
Saturday, April 19, 2014
Mimpi Melanggar "Teritori"
Katanya,
hidup berawal dari sebuah mimpi. Banyak persepsi tentang mimpi itu sendiri.
Beberapa orang mengatakan, “Jangan bermimpi terlampau tinggi, kelak jatuh akan
mendalam sakitnya.”, beberapa ada pula yang seolah menjawab pemikiran pertama,
“Bagaimana kita tau bangkit, jika tak pernah jatuh sebelumnya?”, beberapa lagi
malah mengatakan, “Gantungkanlah mimpimu setinggi-tingginya, karena percayalah
kamu tidak akan jatuh sedalam-dalamnya.”. Atau yang lebih menggelikan, mereka yang
menghadang mimpi orang lain, entah itu dengan kata, maupun tindakan.
Terkadang
saya merasa lucu sekaligus prihatin melihat orang yang menertawai mimpi orang
lain hanya karena mimpi itu berada di luar lingkarannya. Layaknya sebuah
lelucon yang mustahil dan tidak masuk akal, mereka tertawa atas mimpi yang
setinggi langit itu. Katakanlah mereka yang tertawa itu adalah orang yang
merasa dirinya mampu atas segala hal, pun mimpi orang lain dia yang mengatur.
Apa mereka harus bertindak sekejam itu? Bukankah mimpi itu harusnya indah dan
tanpa beban? Kita bebas untuk menggantung mimpi di bentangan langit, di samping
itu, yang perlu kita lakukan hanyalah mengusahakan agar mimpi itu tidak menjadi
sekedar mimpi. Mereka yang tertawa sesungguhnya telah menghilangkan estetika
sebuah mimpi. Membuatnya menjadi buram, tampak jauh di atas, sehingga si
empunya mimpi tak mampu meraihnya. Seharusnya mereka yang tertawa itu
mengasihani diri mereka sendiri karena tidak mampu bermimpi setinggi orang yang
bermimpi di luar batas.
Saturday, April 12, 2014
Detik-Detik Sebelum Hari Senin
Assalamualaikum!
Hai, dua hari lagi sudah harus membayar 1080 hari di SMA dengan 3 hari UN. Gak nyangka, ya, saya sudah setua ini. *tertawa miris*
Yah, mungkin buat yang baca ini mikirnya, "Ini anak mau ujian bukannya belajar malah nge-blog, emangnya ntar keluar pas UN?", atau hipotesis lainnya. Ya, jujur aja saya sih mumet belajar, mau ngurangin beban di otak lewat nonton tv, malah makin stress, jadilah saya lari ke sini, itung-itung ada temen ngobrol walaupun satu arah. *ngeringkuk di pojokan*
Monday, March 17, 2014
Sebuah Cerita dari Balik Dinding
Menyenangkan rasanya ternggelam dalam rengkuhan yang kuciptakan sendiri. Menjalari hangat yang menyelinap di antara sergapan dinginnya tembok di sekelilingku. Butir-butir rasa nyaman yang kupungut satu per satu di jalan yang mulai terlupakan. Entah aku yang terlalu sensitif atau memang aku yang selalu di belakang.
Aku merasa terlampau monoton, terlampau konsisten dalam arti yang tidak menyenangkan, aku nyaris bisa menebak kemana angin akan membawa kisah yang kuhadapi. Aku tidak menyalahi apa-apa, atau siapa-siapa. Aku hanya...mungkin aku hanya lelah. Sangking lelahnya, aku buta arah, tak lagi tahu kemana harus berlari, tak lagi tahu kemana harus pulang.
Sunday, March 2, 2014
Karena untuk sejenak saja, saya terlena karena merasa begitu penting bagi orang lain. Dan untuk kesekian kalinya, saya merasa begitu menyedihkan, karena harus kembali tertipu. Karena, kemana pun saya berlari, sepertinya akan menemukan hal yang sama. Saya lemah akan iming-iming kata-kata manis. Saya lemah akan segala tindak pencitraan-ala-caleg. Untuk yang entah ke berapa, saya tertipu.
Monday, October 7, 2013
Heyhow
Heyhow. It's been a week from the first day on October, and I don't feel like writing these days. I don't know, I lost my will to write about my day. Well, no one would waiting for that. Yah, daripada tidak sama sekali.
Saya nyaris lupa dengan apa yang saya alami bulan lalu. Yang saya ingat, saya bertambah tua, seseorang melangkah pergi, dan saya belajar mengikhlaskan sesuatu setelahnya. Saya rasa saya harus berterima kasih atas semua kue yang diberikan beriringan dengan doa yang dipanjatkan.
Saya nyaris lupa dengan apa yang saya alami bulan lalu. Yang saya ingat, saya bertambah tua, seseorang melangkah pergi, dan saya belajar mengikhlaskan sesuatu setelahnya. Saya rasa saya harus berterima kasih atas semua kue yang diberikan beriringan dengan doa yang dipanjatkan.
Thursday, September 19, 2013
Tanpa Penerima
Assalamualaikum, yang tak mungkin saya sebut namanya secara gamblang di sini
Sebelumnya saya minta maaf, kalau saja postingan kali ini sedikit menjijikkan. Saya tidak mau dianggap sebagai blogger galau menyedihkan yang ceritanya melulu tentang hati. Sekalipun itu benar, saya menolak mengakuinya. Karena, coba Anda bayangkan, rasanya akan sangat menggelikan mendapati dirimu ternyata begitu menyedihkan hanya bersebab hal sepele.
Ah, saya lupa, untuk mempermudah tata bahasa saya, bagaimana kalau saya panggil Anda dengan 'Tuan Muda'? Biarlah orang-orang menebaknya sebagai siapa. Nasib baik kalau Tuan tanpa sengaja membacanya dan tidak menyalah artikan semua kata-kata ini. Tapi, kalau boleh jujur, saya sedikit malu mengeluarkan pikiran saya dalam lembar maya ini.
Sebelumnya saya minta maaf, kalau saja postingan kali ini sedikit menjijikkan. Saya tidak mau dianggap sebagai blogger galau menyedihkan yang ceritanya melulu tentang hati. Sekalipun itu benar, saya menolak mengakuinya. Karena, coba Anda bayangkan, rasanya akan sangat menggelikan mendapati dirimu ternyata begitu menyedihkan hanya bersebab hal sepele.
Ah, saya lupa, untuk mempermudah tata bahasa saya, bagaimana kalau saya panggil Anda dengan 'Tuan Muda'? Biarlah orang-orang menebaknya sebagai siapa. Nasib baik kalau Tuan tanpa sengaja membacanya dan tidak menyalah artikan semua kata-kata ini. Tapi, kalau boleh jujur, saya sedikit malu mengeluarkan pikiran saya dalam lembar maya ini.
Tuesday, September 3, 2013
Ah, Sudahlah
Assalamualaikum.
Kasihan sekali saya. Belakangan ini saya seperti terserang entah-apa-namanya yang menyebabkan otak saya enggan untuk bekerja sedikit lebih keras dari biasanya. Bahkan saya kehabisan bahan tulisan dan akhirnya blog ini teronggok tanpa ada sesuatu yang baru dan menyegarkan. Kemampuan mem-verbal-kan-sesuatu saya semakin parah. Sebuah kalimat terdengar jauh lebih baik saat masih berada di dalam kepala saya, namun seketika itu juga lidah saya terbelit saat mengutarakannya. Saya memang payah.
Belakangan ini juga saya menjadi lebih produktif dengan menghasilkan coretan-coretan yang jauh dari kata menarik. Tapi, setidaknya saya berhasil menuangkan ekspresi di dalam otak saya ke selembar kertas, sekalipun hasilnya jauh dari imajinasi saya. Saya juga heran kenapa bisa begitu. Bagaimana bisa saya membayangkan menghasilkan sebuah karya yang cukup bagus, namun ketika saya realisasikan, hasilnya malah awut-awutan.
Kasihan sekali saya. Belakangan ini saya seperti terserang entah-apa-namanya yang menyebabkan otak saya enggan untuk bekerja sedikit lebih keras dari biasanya. Bahkan saya kehabisan bahan tulisan dan akhirnya blog ini teronggok tanpa ada sesuatu yang baru dan menyegarkan. Kemampuan mem-verbal-kan-sesuatu saya semakin parah. Sebuah kalimat terdengar jauh lebih baik saat masih berada di dalam kepala saya, namun seketika itu juga lidah saya terbelit saat mengutarakannya. Saya memang payah.
Belakangan ini juga saya menjadi lebih produktif dengan menghasilkan coretan-coretan yang jauh dari kata menarik. Tapi, setidaknya saya berhasil menuangkan ekspresi di dalam otak saya ke selembar kertas, sekalipun hasilnya jauh dari imajinasi saya. Saya juga heran kenapa bisa begitu. Bagaimana bisa saya membayangkan menghasilkan sebuah karya yang cukup bagus, namun ketika saya realisasikan, hasilnya malah awut-awutan.
Wednesday, July 17, 2013
Trip!
Assalamualaikum hai hai!!
Wah sudah ada sarang laba-laba. Apa cerita? Jadi, setelah satu minggu perantauan di Bandung dengan penampilan yang luar biasa disertakan pengalaman luar biasa pula, saya langsung hijrah ke Bogor dan cus ke Jogja. Luar biasa kan?
Eh, eh, tapi ada apa di Bandung? Merupakan sebuah pengalaman yang tidak terbayarkan bisa bermain di atas panggung Gedung Sunan Ambu STSI sebagai perwakilan dari Sumatera Utara di antara 31 peserta lainnya. Selain pengalaman, kita juga ketemu orang-orang dari pulau seberang; Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan lainnya. Walaupun kami tidak membawa pulang penghargaan apapun, setidaknya kami telah menampilkan yang terbaik yang bisa kami tunjukkan. Terima kasih Temuga!
Wah sudah ada sarang laba-laba. Apa cerita? Jadi, setelah satu minggu perantauan di Bandung dengan penampilan yang luar biasa disertakan pengalaman luar biasa pula, saya langsung hijrah ke Bogor dan cus ke Jogja. Luar biasa kan?
Eh, eh, tapi ada apa di Bandung? Merupakan sebuah pengalaman yang tidak terbayarkan bisa bermain di atas panggung Gedung Sunan Ambu STSI sebagai perwakilan dari Sumatera Utara di antara 31 peserta lainnya. Selain pengalaman, kita juga ketemu orang-orang dari pulau seberang; Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan lainnya. Walaupun kami tidak membawa pulang penghargaan apapun, setidaknya kami telah menampilkan yang terbaik yang bisa kami tunjukkan. Terima kasih Temuga!
Sunday, June 30, 2013
Hah
Assalamualaikum, haiiii.
Wah, sangat tidak terasa besok tanggal 1 Juli. Bulan ini berlalu sangat padat, sambar sana sambar sini. Sedikit ruang buat tarik nafas.
Aku ndak ikut perpisahan kelas tahun ini, sebagai gantinya ke Panyabungan sama Bunda dan makhluk lainnya. Sebenernya bukan liburan sih, kesana sekalian belajar sama latihan juga. Kemaren juga udah terima rapor yang hasilnya buat tarik nafas. Ndak ngerti deh liat nilai. *bakar rapor*
Aku ndak mau ambil pusing sama cerita yang telanjur selesai sebelum mulai. Kalo emang jodoh kan ndak lari kemana. Biarpun aku mengelana sampai ke Jawa sana.
Oiya, selamat menjadi anggota Temuga seutuhnya angkatan 14! Selamat ya, adik angkat, Ruri Arindri. Semoga menjadi adik yang baik dan nggak bikin malu. Hehehe. Sok banget aku ya sementang senior paling tua. :))
Selamat ulang tahun buat Arby tanggal 13, Upek tanggal 14, Eky tanggal 22. Terus juga Mbak Rere tanggal 29 kemaren. Me love you, Sistaaa! Syelamat buat kaliaaan! Bunch of love. <3
Ndak bisa cerita banyak nih. Udah lupa juga kemaren-kemaren ngapain aja.-_- Yang jelas, insyaAllah, lusa berangkat ke Bandung. Nggak nyangka bisa sampai ke tahap ini. Sekalipun sampai bercucuran air mata, sesenggukan, sesak nafas. Semoga latihan kita kurang lebih satu bulan ini bisa bermanfaat dan kita bisa memberikan hasil yang terbaik. Tim Sumut! Akakis! Bismillah.
Wah, sangat tidak terasa besok tanggal 1 Juli. Bulan ini berlalu sangat padat, sambar sana sambar sini. Sedikit ruang buat tarik nafas.
Aku ndak ikut perpisahan kelas tahun ini, sebagai gantinya ke Panyabungan sama Bunda dan makhluk lainnya. Sebenernya bukan liburan sih, kesana sekalian belajar sama latihan juga. Kemaren juga udah terima rapor yang hasilnya buat tarik nafas. Ndak ngerti deh liat nilai. *bakar rapor*
Aku ndak mau ambil pusing sama cerita yang telanjur selesai sebelum mulai. Kalo emang jodoh kan ndak lari kemana. Biarpun aku mengelana sampai ke Jawa sana.
Oiya, selamat menjadi anggota Temuga seutuhnya angkatan 14! Selamat ya, adik angkat, Ruri Arindri. Semoga menjadi adik yang baik dan nggak bikin malu. Hehehe. Sok banget aku ya sementang senior paling tua. :))
Selamat ulang tahun buat Arby tanggal 13, Upek tanggal 14, Eky tanggal 22. Terus juga Mbak Rere tanggal 29 kemaren. Me love you, Sistaaa! Syelamat buat kaliaaan! Bunch of love. <3
Ndak bisa cerita banyak nih. Udah lupa juga kemaren-kemaren ngapain aja.-_- Yang jelas, insyaAllah, lusa berangkat ke Bandung. Nggak nyangka bisa sampai ke tahap ini. Sekalipun sampai bercucuran air mata, sesenggukan, sesak nafas. Semoga latihan kita kurang lebih satu bulan ini bisa bermanfaat dan kita bisa memberikan hasil yang terbaik. Tim Sumut! Akakis! Bismillah.
Hugs!
Yas
Sunday, June 23, 2013
Kan kukujungi kota yang menyimpan tanya, biar kutelusuri jejakmu. Kujelajahi tiap sudutnya, biar kubentuk kenangan baru. Kalau memang Tuhan mengijinkan, akan kulukis jalanan Jogja dengan cerita baru. Bismillah.
Untuk sebuah cerita yang berakhir tanpa awal, mari kita melukis dan berlari mengejar mimpi bersama walau terpisah pada persimpangan. Setidaknya, mari berlari sebagai teman.
Untuk sebuah cerita yang berakhir tanpa awal, mari kita melukis dan berlari mengejar mimpi bersama walau terpisah pada persimpangan. Setidaknya, mari berlari sebagai teman.
Saturday, June 15, 2013
Saya Butuh Mental
Assalamualaikum. Hai, selamat malam.
Kalian pernah merasa suatu masalah terasa amat kompleks di dalam otak kalian, padahal itu hanya masalah kecil yang tidak penting? Saya pernah. Saya memiliki masalah dalam memproyeksikan satu hal sepele menjadi hal yang terasa sangat berat di kepala saya. Sebuah pemikiran yang membunuh saya setiap malam, membuat saya kehabisan nafas karena sesenggukan. Saya tenggelam selama satu minggu belakangan tanpa saya tau kenapa saya bisa tenggelam.
Tapi, saya hampir tidak pernah merasa sesesak tadi, selemas tadi, bahkan sampai tidak saya rasakan lagi kekuatan di lutut saya. Saya meledak di hadapan orang. Padahal saya sudah meyakinkan diri saya sendiri kalau saya tidak boleh sefrontal itu. Saya ingin bicara, tapi seketika saya lupa bagaimana caranya berkomunikasi. Saya bahkan tidak membuka mata saya sekedar untuk melihat siapa yang berdiri di depan saya. Yang saya tau, saya telah kalah dengan monster di kepala saya. Mereka berhasil menguasai saya dengan segala asumsi negatif yang mereka cecoki setiap malam.
Saturday, June 1, 2013
June
Assalamualaikum!!
Wah, Mei udah berubah wujud. Padahal, sebenernya Mei kemarin banyak cerita, cuma karena ngejalaninnya bersungut-sungut, jadi nggak ada yang bisa diceritain. Mei kemarin adalah perjuangan yang bener-bener perjuangan. Perjuangan melawan kenangan. *tsaah*
Selain itu, Mei adalah perjuangan untuk mempertahankan piala bergilir Expo, and we did it! Alhamdulillah. Rasanya lega, bebannya nguap dikit. Iya, dikit aja. Hehehe.
Terus, main-main sama Mama ke Pasar Malam itu unyu maksimal. Udah lupa kapan terakhir kali makan permen kapas di Pasar Malam. Tapi, dari dulu sampe sekarang, kalo jalan tetep gandeng Mama. <3
Setiap hari selalu penuh pilihan, pilihan tentang apa aja. Mei kembali mengajari tentang pilihan. Terima kasih, Mei. I moved.
Selamat datang, Juni! Bulannya ujian, bulannya sibuk. Berjuang buat bulan Juli! Lusa udah mulai ujian, tapi masih aja stress. Gatau bisa apa nggak. Tapi, usaha dong!! Doakan, ya! *berasa ada aja yang baca ini blog*
Wah, Mei udah berubah wujud. Padahal, sebenernya Mei kemarin banyak cerita, cuma karena ngejalaninnya bersungut-sungut, jadi nggak ada yang bisa diceritain. Mei kemarin adalah perjuangan yang bener-bener perjuangan. Perjuangan melawan kenangan. *tsaah*
Selain itu, Mei adalah perjuangan untuk mempertahankan piala bergilir Expo, and we did it! Alhamdulillah. Rasanya lega, bebannya nguap dikit. Iya, dikit aja. Hehehe.
Terus, main-main sama Mama ke Pasar Malam itu unyu maksimal. Udah lupa kapan terakhir kali makan permen kapas di Pasar Malam. Tapi, dari dulu sampe sekarang, kalo jalan tetep gandeng Mama. <3
Setiap hari selalu penuh pilihan, pilihan tentang apa aja. Mei kembali mengajari tentang pilihan. Terima kasih, Mei. I moved.
Selamat datang, Juni! Bulannya ujian, bulannya sibuk. Berjuang buat bulan Juli! Lusa udah mulai ujian, tapi masih aja stress. Gatau bisa apa nggak. Tapi, usaha dong!! Doakan, ya! *berasa ada aja yang baca ini blog*
Medan, kamar,
Yas
Wednesday, May 29, 2013
Perjalanan Pulang
Assalamualaikum.
Katanya, setiap orang bisa merasa jenuh. Mungkin jenuh karena kegiatan yang itu-itu saja. Mungkin bosan dengan pola hidup monoton yang dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun. Katanya, kejenuhan bisa diatasi tergantung dari cara kita menikmati apa yang kita jenuhkan itu. Hidup, misalnya?
Semua rutinitas yang terjadi, pada akhirnya akan mencapai kata "pulang". Kata yang mengundang sorak sorai pelajar dengan mata berat, apalagi kalau ada embel-embel "cepat" dibelakangnya. Kata yang membuat kita bisa kembali bernapas setelah beberapa saat menahannya. Kata yang membuat kita membayangkan rumah. Ketuk pintu, ucap salam, menghampiri orang tua, cium tangan, bergegas ke kamar, atau mungkin sambil mencomot perkedel yang baru digoreng, kemudian ganti baju, sejenak rebahan di atas tempat tidur, memereteli penat dan lelah setelah satu harian diluar. Menikmati langit-langit kamar, semilir angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Mungkin sedikit mencuri lelap.
Terkadang, pulang tidak selalu berarti ke rumah. Ada yang berteriak, "Aku pulang, ya!", nyatanya dia hanya keluar pagar dan duduk di warung nasi. Terkadang, pulang hanya menjadi alasan untuk lari.
13.45 adalah harapan. Tarikan nafas kelegaan. Bel yang berbunyi nyaring seiring dengan dentuman jantung, terasa lebih merdu saat siang. Banyak yang terbayang pada "pulang". Latihan. Musholla. Perjalanan panjang ke rumah.
Dalam setiap langkah pulang, selalu ada cerita yang terjalin. Ketika tumit sepatu mencumbu aspal panas, selalu ada alasan yang membuat kita untuk terus bergerak memberi napas pada sol sepatu karet. Ketika terik menembus kulit, selalu ada alasan yang membuat kita terus bergerak membelah hari. Ketika angkutan umum tak kunjung tampak, selalu ada alasan yang membuat kita tetap menunggu. Pulang seolah memberi harapan baru.
Pulang seperti mengoreksi diri. Apa yang sudah dilakukan, apa yang telah dipelajari, siapa yang dijumpai, apa yang terjadi, apa yang dikatakan. Seperti menilai perjalanan satu hari. Tentang persimpangan yang telah dilewati, batu yang dilompati, jalan yang dipilih, pelajaran yang didapat, dan tentang konsekuensi. Pulang membuat kita berpikir tentang hari esok. Pulang juga berarti bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk membuat resolusi yang lebih baik, untuk kembali bermimpi dengan harapan yang masih segar.
Karena setiap hari adalah pelajaran.
Katanya, setiap orang bisa merasa jenuh. Mungkin jenuh karena kegiatan yang itu-itu saja. Mungkin bosan dengan pola hidup monoton yang dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun. Katanya, kejenuhan bisa diatasi tergantung dari cara kita menikmati apa yang kita jenuhkan itu. Hidup, misalnya?
Semua rutinitas yang terjadi, pada akhirnya akan mencapai kata "pulang". Kata yang mengundang sorak sorai pelajar dengan mata berat, apalagi kalau ada embel-embel "cepat" dibelakangnya. Kata yang membuat kita bisa kembali bernapas setelah beberapa saat menahannya. Kata yang membuat kita membayangkan rumah. Ketuk pintu, ucap salam, menghampiri orang tua, cium tangan, bergegas ke kamar, atau mungkin sambil mencomot perkedel yang baru digoreng, kemudian ganti baju, sejenak rebahan di atas tempat tidur, memereteli penat dan lelah setelah satu harian diluar. Menikmati langit-langit kamar, semilir angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Mungkin sedikit mencuri lelap.
Terkadang, pulang tidak selalu berarti ke rumah. Ada yang berteriak, "Aku pulang, ya!", nyatanya dia hanya keluar pagar dan duduk di warung nasi. Terkadang, pulang hanya menjadi alasan untuk lari.
13.45 adalah harapan. Tarikan nafas kelegaan. Bel yang berbunyi nyaring seiring dengan dentuman jantung, terasa lebih merdu saat siang. Banyak yang terbayang pada "pulang". Latihan. Musholla. Perjalanan panjang ke rumah.
Dalam setiap langkah pulang, selalu ada cerita yang terjalin. Ketika tumit sepatu mencumbu aspal panas, selalu ada alasan yang membuat kita untuk terus bergerak memberi napas pada sol sepatu karet. Ketika terik menembus kulit, selalu ada alasan yang membuat kita terus bergerak membelah hari. Ketika angkutan umum tak kunjung tampak, selalu ada alasan yang membuat kita tetap menunggu. Pulang seolah memberi harapan baru.
Pulang seperti mengoreksi diri. Apa yang sudah dilakukan, apa yang telah dipelajari, siapa yang dijumpai, apa yang terjadi, apa yang dikatakan. Seperti menilai perjalanan satu hari. Tentang persimpangan yang telah dilewati, batu yang dilompati, jalan yang dipilih, pelajaran yang didapat, dan tentang konsekuensi. Pulang membuat kita berpikir tentang hari esok. Pulang juga berarti bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk membuat resolusi yang lebih baik, untuk kembali bermimpi dengan harapan yang masih segar.
Karena setiap hari adalah pelajaran.
Medan, tepat di sebelah tembok,
Yas
Wednesday, May 22, 2013
Perjalanan Pergi
Assalamualaikum.
Katanya, kalau sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan, lambat laun kita lupa alasan awal kita melakukannya. Seperti halnya bangun pagi. Kita hanya tau kalau kita harus bangun pagi. Kalau alasan anak sekolah, supaya bisa tepat waktu ke sekolah. Kalau alasan Mama mungkin beda. Beliau harus masak, beresin meja makan, bangunin anak dan suaminya. Setelah itu lanjut beres-beres rumah.
Jadi, setiap pagi selama nyaris 17 tahun ini, Mama adalah perempuan multi-talented, kalau bisa dikatakan begitu. Mungkin aneh, cupu, atau apalah, kalau anak kelas 2 SMA masih dibangunin emaknye. Tapi, bukankah ada rasa syukur waktu bangun tidur, yang pertama kita lihat adalah perempuan terhebat sepanjang masa?
Rutinitas yang sama setiap harinya. Bangun pagi, lihat tampilan muka di cermin sebentar, mandi, ganti baju, sarapan, pergi sekolah, pulang sekolah, mandi, tidur, bangun lagi, dan begitu seterusnya, dengan selipan ibadah wajib 5 waktu (walaupun lebih sering bolong). Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada bunga-bunga penghias di beberapa perhentian. Bunga-bunga yang mungkin akan kita sadari saat sudah berada cukup jauh. Atau bunga-bunga yang memiliki duri yang menusuk sampai ke ulu hati.
Nah, sebenernya, yang jadi pembahasan kali ini adalah perjalanan pergi. Bagaimana sebuah pagi menjadi judul baru atau bahkan bab baru. Terpaan sinarnya menjadi tinta segar yang melukiskan pelajaran. Bagaimana perjalanan 20 menit menuju sekolah membuat kita sejenak berpikir tentang apa yang harus dilakukan, tentang apa yang sebaiknya diucapkan, tentang penyelesaian alternatif saat sebuah situasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tentang orang-orang yang akan kujumpai hari itu. Tentang pelajaran yang harus kutaklukkan hari itu, tentang tugas yang terlambat kuserahkan. Tentang jadi apa aku setelah kutanggalkan seragam SMA-ku. Tentang sebuah harapan yang pertumbuhannya ada ditanganku, dalam keyakinanku, dalam keoptimisanku menjaganya. Tentang sebuah kisah yang kuharapkan permulaannya. Tentang pertemanan yang sedang kuusahakan selama hampir setahun berjalan. Tentang aku yang kemarin. Semuanya dalam 20 menit.
Perjalanan yang merupakan sebuah awal untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang mampu menerima dirinya sendiri dengan lingkungan lain. Perjalanan untuk lebih mengerti apa yang harus dan tidak boleh. Tentang pilihan juga. Perjalanan yang menyimpan banyak persimpangan. Perjalanan yang memberikan waktu untuk sejenak berpikir akan jadi apa aku kelak. Perjalanan yang tak terduga ujungnya, apakah sebuah ladang hijau dengan matahari tersenyum di sudut kanannya, atau jurang curam tiada berdasar?
Perjalanan yang awalnya kita tentukan sendiri. Akankah kita bahagia hari itu, atau hanya sekedar melanjutkan rutinitas biasa tanpa menanam benih bunga di setiap persimpangan? Karena Tuhan yang Maha Menentukan, tergantung kita menanggapinya dengan cara apa. Apakah bersyukur, atau mengeluh sepanjang perjalanan sampai lupa untuk memperhatikan nikmat terkecil yang diberikan?
Karena bahagia itu sederhana.
Katanya, kalau sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan, lambat laun kita lupa alasan awal kita melakukannya. Seperti halnya bangun pagi. Kita hanya tau kalau kita harus bangun pagi. Kalau alasan anak sekolah, supaya bisa tepat waktu ke sekolah. Kalau alasan Mama mungkin beda. Beliau harus masak, beresin meja makan, bangunin anak dan suaminya. Setelah itu lanjut beres-beres rumah.
Jadi, setiap pagi selama nyaris 17 tahun ini, Mama adalah perempuan multi-talented, kalau bisa dikatakan begitu. Mungkin aneh, cupu, atau apalah, kalau anak kelas 2 SMA masih dibangunin emaknye. Tapi, bukankah ada rasa syukur waktu bangun tidur, yang pertama kita lihat adalah perempuan terhebat sepanjang masa?
Rutinitas yang sama setiap harinya. Bangun pagi, lihat tampilan muka di cermin sebentar, mandi, ganti baju, sarapan, pergi sekolah, pulang sekolah, mandi, tidur, bangun lagi, dan begitu seterusnya, dengan selipan ibadah wajib 5 waktu (walaupun lebih sering bolong). Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada bunga-bunga penghias di beberapa perhentian. Bunga-bunga yang mungkin akan kita sadari saat sudah berada cukup jauh. Atau bunga-bunga yang memiliki duri yang menusuk sampai ke ulu hati.
Nah, sebenernya, yang jadi pembahasan kali ini adalah perjalanan pergi. Bagaimana sebuah pagi menjadi judul baru atau bahkan bab baru. Terpaan sinarnya menjadi tinta segar yang melukiskan pelajaran. Bagaimana perjalanan 20 menit menuju sekolah membuat kita sejenak berpikir tentang apa yang harus dilakukan, tentang apa yang sebaiknya diucapkan, tentang penyelesaian alternatif saat sebuah situasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tentang orang-orang yang akan kujumpai hari itu. Tentang pelajaran yang harus kutaklukkan hari itu, tentang tugas yang terlambat kuserahkan. Tentang jadi apa aku setelah kutanggalkan seragam SMA-ku. Tentang sebuah harapan yang pertumbuhannya ada ditanganku, dalam keyakinanku, dalam keoptimisanku menjaganya. Tentang sebuah kisah yang kuharapkan permulaannya. Tentang pertemanan yang sedang kuusahakan selama hampir setahun berjalan. Tentang aku yang kemarin. Semuanya dalam 20 menit.
Perjalanan yang merupakan sebuah awal untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang mampu menerima dirinya sendiri dengan lingkungan lain. Perjalanan untuk lebih mengerti apa yang harus dan tidak boleh. Tentang pilihan juga. Perjalanan yang menyimpan banyak persimpangan. Perjalanan yang memberikan waktu untuk sejenak berpikir akan jadi apa aku kelak. Perjalanan yang tak terduga ujungnya, apakah sebuah ladang hijau dengan matahari tersenyum di sudut kanannya, atau jurang curam tiada berdasar?
Perjalanan yang awalnya kita tentukan sendiri. Akankah kita bahagia hari itu, atau hanya sekedar melanjutkan rutinitas biasa tanpa menanam benih bunga di setiap persimpangan? Karena Tuhan yang Maha Menentukan, tergantung kita menanggapinya dengan cara apa. Apakah bersyukur, atau mengeluh sepanjang perjalanan sampai lupa untuk memperhatikan nikmat terkecil yang diberikan?
Karena bahagia itu sederhana.
Medan, sudut kamar
Yas.
Tuesday, May 21, 2013
Hubungan Percakapan dan Ingatan
Hari monoton lainnya dengan kejiwaan yang nyaris mencapai kejenuhan teratas, sebuah percakapan sederhana namun menohok terjadi di sebuah ruang kelas di lantai atas, tepatnya meja ketiga deret ketiga pula. Dua makhluk, yang satu memiliki rezeki yang berlimpah―yakni badan yang padat, sebut saja namanya Hilda. Sedang yang satu tampak kurus, entah karena makan hati atau memang cacingan, yang ini sebut saja Tias.
Tias: Da, kira-kira ingat gak, ya?
Hilda: Diakan gak sakit kali, berarti nggak.
T: Oo, berarti cuma yang sakit aja, ya, yang punya ingatan? Kasian, ya.
H: Nggak juga. Kalo bahagia kali pun pasti ingat.
T: Dia bahagia kali? Nggak mungkinlah. Aku nggak bahagia kali, nggak sedih kali juga, tapi ingat.
H: Halah, banyak cakap.
T: Lah, ini buktinya nggak nangis.
H: Yang ingat itu kalo nggak yang bahagia kali, yang sedih kali, ya yang emang pengingat.
T: Dia ingat gak?
H: Dia nggak senang, nggak sedih, nggak pengingat juga. Nggak.
T: Iya juga, ya, Da.
H: *bereng*
Jadi, sebenarnya ingatan itu punyanya siapa? Jadi, kenapa ingatan tidak bisa setidaknya membantu sebuah keadaan dalam masa krisisnya, putus misalnya? Okesip, ngawur. Bye!
Tias: Da, kira-kira ingat gak, ya?
Hilda: Diakan gak sakit kali, berarti nggak.
T: Oo, berarti cuma yang sakit aja, ya, yang punya ingatan? Kasian, ya.
H: Nggak juga. Kalo bahagia kali pun pasti ingat.
T: Dia bahagia kali? Nggak mungkinlah. Aku nggak bahagia kali, nggak sedih kali juga, tapi ingat.
H: Halah, banyak cakap.
T: Lah, ini buktinya nggak nangis.
H: Yang ingat itu kalo nggak yang bahagia kali, yang sedih kali, ya yang emang pengingat.
T: Dia ingat gak?
H: Dia nggak senang, nggak sedih, nggak pengingat juga. Nggak.
T: Iya juga, ya, Da.
H: *bereng*
Jadi, sebenarnya ingatan itu punyanya siapa? Jadi, kenapa ingatan tidak bisa setidaknya membantu sebuah keadaan dalam masa krisisnya, putus misalnya? Okesip, ngawur. Bye!
Pojok kamar, meringkuk memeluk lepi
Iyas
Subscribe to:
Posts (Atom)