Dulu sekali, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya punya kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang asing lewat dunia maya, mencoba berbagai situs hanya untuk mencari teman bicara. Situs yang saya maksud disini tidak memaparkan identitas penggunanya, kita akan bertemu orang lain secara acak, dari seluruh penjuru dunia. Dari pengalaman yang sudah-sudah sebagian besar yang mengakses situs ini adalah remaja dan orang-orang dewasa. Untuk mendapatkan teman bicara yang nyaman bagi saya sendiri butuh beberapa kali percobaan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan yang satu ini.
Biasanya saya berinteraksi dengan orang-orang itu hanya selama beberapa hari bahkan hanya 1 hari itu saja. Dengan teman-kalau bisa saya menyebutnya begitu- saya ini, kami saling bertukar kabar cukup lama setelah sebelumnya bertukar alamat surel, bahkan sampai satu tahun mungkin? Saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, masih dalam kondisi yang cukup labil, sedangkan dia saat itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir kalau tidak salah.
Saya sendiri sampai bingung bagaimana caranya kami bisa begitu akrab, padahal ada begitu banyak hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Ah ya, mungkin karna itu. Karena kami tidak kenal. Kami berdua adalah orang asing yang tidak perlu berbasa-basi, toh pada dasarnya tidak ada tuntutan atau keharusan bersikap. Dan bagi saya sendiri, dia adalah sebuah ruang berlari, tanpa perlu takut dianggap seperti apa. Entah dia menganggap saya apa, saya tak terlalu ambil pusing.
Untuk seorang asing, dia terbilang sangat baik. Dia juga temang bicara yang cukup menyenangkan. Bahkan saling mencaci pun tak terasa menyakitkan. Apa yang perlu ditakutkan dari cacian orang asing?
Sekarang saya sudah berada di tahun ketiga perguruan tinggi. Sudah cukup lama saya tidak mendengar kabar teman saya itu. Terkadang saya merasa rindu bercerita tanpa takut dihakimi. Tapi, di sisi yang lain, saya merasa sudah cukup.
Beda rasanya jika saya berbicara atau bertukar sapa dengan teman lama saya. Saya terlalu takut dengan perubahan-perubahan yang bisa terjadi selama pembicaraan itu berlangsung. Saya takut merasa saya tak mampu mengimbangi mereka. Saya takut merasa mereka tidak ingin berteman dengan saya lebih lama lagi. Ya, saya memang se-insecure itu. Hal yang tidak saya dapati dari orang asing. Saya tidak akan memaksa mereka memahami saya karna sekali pun saya meminta mereka tidak akan pernah benar-benar melakukannya. Dan saya cukup tahu diri untuk tidak meminta hal yang berlebihan seperti pengertian atau yang semacamnya.
Sekarang saya benar-benar penasaran dengan kabar teman saya itu. Apakah dia baik-baik saja? Semoga kebahagiaan selalu ada bersamanya.
Sometimes, they made you think that strangers know you better.
Showing posts with label Flashback. Show all posts
Showing posts with label Flashback. Show all posts
Monday, April 10, 2017
Tuesday, September 1, 2015
Satu Tahun (Penghujung Abu-Abu III)
Satu tahun lagi terlewati dengan aman sentosa.
***
Genap setahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu. Dalam
jangka waktu itu pula saya menyandang status sebagai mahasiswi. Tidak lagi
berbagi meja dengan Hilda, tidak lagi menelan mata pelajaran yang mengulas
semua bidang sains. Sekarang saya di sini, mengambil jalan yang telah saya
pilih beberapa hari tepat sebelum angket pemilihan jurusan dikembalikan ke
bidang kurikulum sekolah.
Tahun ketiga saya sebagai siswi sekolah menengah atas
terbilang santai. Di saat orang lain menyibukkan diri dengan bimbingan belajar
dengan dalih mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas, saya memilih
untuk mempersiapkan sendiri—dengan bantuan teman saya yang juga mengikuti
bimbingan belajar. Saya hanya mengikuti bimbingan untuk memperdalam ilmu Kimia saya, entah kenapa, itupun
hanya satu semester. Selebihnya, saya terus merecoki teman saya itu.
Tak banyak perubahan dalam pergaulan saya di kelas. Sedikit
banyak, saya mulai membuka diri namun tetap membuat jarak. Saya lebih banyak
menolak ketimbang mengiyakan ajakan mereka untuk sekedar makan bersama. Entah kenapa
saya masih merasa asing. Tapi, tetap, bukan berarti saya membenci mereka. Saya hanya
merasa...berbeda.
Tahun ketiga juga berarti melepas jabatan yang saya sandang
di ekstrakulikuler yang saya geluti. Bagian ini yang paling berat sebenarnya. Selama
3 tahun kami berusaha untuk saling menerima, bukan sedikit waktu yang saya bagi
bersama mereka. Sampai bosan rasanya. Ritual serah-jabatan bukanlah agenda yang
saya sambut secara suka cita. Dengan melepas jabatan seolah menjadi lampu kuning—kami
akan segera meninggalkan kelompok ini. Sekali lagi kami berdiri di hadapan
adik-adik yang kelak akan memegang kendali yang telah setahun kami pegang, menghujani mereka dengan petuah-petuah dan harapan kami kedepannya. Kami
terlalu menyayangi persaudaraan ini. Tapi, toh kami tetap harus bergerak maju.
Saturday, June 20, 2015
Halo, 13
“Pi, ekskul apa?”
“Ntah. Abangku nyuruh Temuga aja.”
“Terus?”
“Yaudahlah, coba aja dulu. Kau Temuga aja
udah.”
“Ng... Okelah.”
***
“Hilda, nanti mau daftar ekskul apa?”
“Temuga. Tias?”
“Eh, sama.”
“Iya? Ntar ngasih formulirnya bareng, ya.”
“Sip.”
***
“Perkenalkan, nama saya Tias Septilia,
panggilan Tias. Kelas X-2. Mirip artis, Indah D P. Motivasi masuk Temuga, ikut
temen.”
***
Suasana
sekolah yang saat itu sudah riuh akibat MOS, bertambah riuh perihal promosi
ekstrakurikuler. Yang saya ingat, waktu itu ada satu ekskul yang langsung
membuat saya tertarik. Temuga. Tau apa yang membuatnya tampak menarik? Baju
seragamnya. Kaos lengan panjang berwarna hitam. Desainnya pada waktu itu,
terdapat logo Temuga yang setidaknya memakan lebih dari setengah bidang depan
baju, tulisan TEMUGA di kanan lengan, tulisan angkatan serta slogan AKAKIS
tercetak di belakang baju. Kali pertama melihatnya, langsung terbayang tampang
saya saat mengenakannya. Tidak buruk.
Selepas MOS
sekolah, senior dari berbagai ekskul sibuk menjajakan formulir pendaftaran
ekskul yang mereka geluti. Saling berteriak tak mau kalah. Dapat saya rasakan
gulungan kertas HVS berwarna di genggaman saya. Formulir Temuga. Hanya perlu
mengisi biodata, kemudian kembalikan kepada senior di ekskul tersebut.
Masalahnya, niat. Antara ogah-ogahan dan tidak sabar untuk mengembalikan
formulirnya. Terus berusaha mencari teman, lantas berani mengembalikan
formulir.
Pada saat
itu, atau mungkin sampai saat ini, MOS Temuga bukanlah hal yang paling ingin
kuikuti. Adu mulut pun kulakukan karena kepalang tersulut emosi. Bisa kurasakan
mataku menikam orang-orang yang berada di sekitarku saat itu. Sampai akhirnya
ketika saya di posisi mereka, saya paham, beginilah cara mereka menyalurkan
rasa kekeluargaan. Beginilah cara mereka mengajarkan untuk berani mengambil
langkah.
Monday, February 9, 2015
Antara Realistis dan Eskapisme
Satu
semester berlalu dengan ketenangan yang—sebenarnya sedikit—dipaksakan. Waktu
seolah menggelinding begitu saja, tahu-tahu sudah pukul sekian, sudah minggu ke
sekian. Saya sendiri seperti orang linglung karena kesulitan mengingat hari.
Saya ingat pernah meminta biar tahun ini bergulir saja dengan cepat, tapi saya
tidak pernah menyangka akan secepat ini. Masih gamang kalau menelisik beberapa
langkah ke belakang, takjub pada apa yang telah saya lewati, ternyata sekeras
itu saya tertempah 2 tahun yang lalu, yang bisa saya rasakan dampaknya sekarang
ini.
Tidak ada
lagi wajah-wajah menyebalkan yang sangat familier bagi mata saya selama 3 tahun
yang lewat. Wajah baru yang berusaha saya kenali 6 bulan belakangan inilah yang
berlalu lalang hampir tiap hari. Orang-orang yang akan mengumpat bersama saya
ke depannya. Orang-orang yang mungkin akan melihat saya jatuh untuk kemudian
bangkit kembali. Saya sama sekali tidak punya gambaran akan seperti apa saya
menjalani tahun-tahun ke depan. Menerka pun tidak berani, takut dikecewakan
mimpi.
Friday, June 20, 2014
Penghujung Abu-Abu (II)
Beruntungnya saya, tahun pertama SMA bisa saya lewati tanpa kurang apapun.
***
Akhirnya saya terlepas dari tahun sebagai junior. Selama satu tahun saya menjadi siswa yang tidak terlalu aktif di kelas, namun saya imbangi di ekskul, walaupun harus banyak-banyak makan hati. Tahun pertama sebagai senior di SMA dan di Temuga, saya berusaha untuk tidak menjadi senior yang dibenci. Sebisa mungkin saya membangun hubungan kakak-adik yang baik. Kami mencoba mendidik mereka menjadi pribadi yang baik, yang tidak menyalurkan dendam mereka kepada adik kelas mereka nantinya. Saya dan yang lainnya juga berusaha untuk membangun komunikasi dengan Bunda, bertukar cerita dan meminta pendapat atas masalah yang kami hadapi. Banyak yang saya pelajari dari Bunda. Mulai dari menjadi murid yang baik, menjadi kakak kelas yang patut dijadikan contoh, bahkan menjadi seorang remaja yang tidak gegabah dalam memilih berbagai pilihan untuk dijalani. Kami juga semakin sering bertukar pikiran tentang apa saja.
Lain di ekskul, lain pula di kelas. Tahun kedua waktu itu saya merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Saya bingung saat di tempatkan di kelas XI IPA 3, entah apa yang saya bingungkan waktu itu. Kebingungan saya sejenak menguap saat tahu saya kembali satu kelas dengan Hilda, dan juga saya sangat bersyukur satu kelas dengan 3 orang dari Temuga yang lainnya.
Sunday, June 8, 2014
Penghujung Abu-Abu (I)
Assalamualaikum.
Baru bulan lalu saya resmi dinyatakan lulus sekolah menengah atas, menanggalkan seragam sekolah saya untuk seterusnya. Jadilah saya bukan siswa, belum pula mahasiswa walaupun saya sudah tahu di mana saya akan melanjutkan pendidikan saya. Saya ingin bercerita bagaimana tiga tahun saya tumbuh dalam warna abu-abu.
Mungkin waktu itu bulan Juni atau Juli 2 tahun lalu, saya lupa, rok seragam saya abu-abu alih-alih biru. Bukan lagi seragam pendek, melainkan panjang. Saya masuk dengan pemikiran masa orientasi yang akan saya hadapi waktu itu adalah salah satu dari pembodohan yang akan saya temui. Saya bukannya menentang masa orientasi, saya hanya kesal dengan ulah kakak kelas saya yang terkesan mencari-cari alasan untuk marah-marah selama masa orientasi tersebut. Saya dulu saya termasuk orang yang sewot terhadap senioritas yang berlebihan, bahkan mungkin sampai saat ini saya merasa begitu. Kalau boleh jujur dan tidak bermaksud berburuk sangka, saya selalu merasa beberapa kakak kelas saya ingin membuat juniornya merasakan apa yang dulu mereka rasakan saat ada di posisi kami saat itu. Saya tidak pernah pulang dengan hati yang berbunga-bunga selama 3 hari itu. Selalu ada umpatan yang saya sumbangkan setiap sore untuk tingkah mereka. Tapi, tidak semua kakak kelas seperti itu. Selalu ada kakak kelas yang lebih menghargai juniornya tanpa membuatnya dilupakan sebagai senior. Saya senang dengan orang-orang yang tahu kapan harus memasang sikap sebagai senior dan kapan tidak. Karena percayalah, kalian akan lebih senang jika disegani daripada ditakuti.
Thursday, September 19, 2013
Tanpa Penerima
Assalamualaikum, yang tak mungkin saya sebut namanya secara gamblang di sini
Sebelumnya saya minta maaf, kalau saja postingan kali ini sedikit menjijikkan. Saya tidak mau dianggap sebagai blogger galau menyedihkan yang ceritanya melulu tentang hati. Sekalipun itu benar, saya menolak mengakuinya. Karena, coba Anda bayangkan, rasanya akan sangat menggelikan mendapati dirimu ternyata begitu menyedihkan hanya bersebab hal sepele.
Ah, saya lupa, untuk mempermudah tata bahasa saya, bagaimana kalau saya panggil Anda dengan 'Tuan Muda'? Biarlah orang-orang menebaknya sebagai siapa. Nasib baik kalau Tuan tanpa sengaja membacanya dan tidak menyalah artikan semua kata-kata ini. Tapi, kalau boleh jujur, saya sedikit malu mengeluarkan pikiran saya dalam lembar maya ini.
Sebelumnya saya minta maaf, kalau saja postingan kali ini sedikit menjijikkan. Saya tidak mau dianggap sebagai blogger galau menyedihkan yang ceritanya melulu tentang hati. Sekalipun itu benar, saya menolak mengakuinya. Karena, coba Anda bayangkan, rasanya akan sangat menggelikan mendapati dirimu ternyata begitu menyedihkan hanya bersebab hal sepele.
Ah, saya lupa, untuk mempermudah tata bahasa saya, bagaimana kalau saya panggil Anda dengan 'Tuan Muda'? Biarlah orang-orang menebaknya sebagai siapa. Nasib baik kalau Tuan tanpa sengaja membacanya dan tidak menyalah artikan semua kata-kata ini. Tapi, kalau boleh jujur, saya sedikit malu mengeluarkan pikiran saya dalam lembar maya ini.
Saturday, August 31, 2013
The August
Assalamualaikum. Alohai!
Agustus sudah di ujung tanduk. Melelahkan sekali Agustus tahun ini. Saya ngos-ngosan, bukan secara harfiah.
Di bulan Agustus inilah saya dihadapkan oleh kenyataan yang entah menyenangkan atau menyeramkan, saya kelas XII SMA dengan kurikulum yang baru. Bayangkan saja, hari SABTU harus pulang kayak hari biasa. Menyenangkan sekali. Seakan belum cukup buruk, saya teringat kalau saya akan menjalaninya selama 2 semester. Tapi, ya jalani aja. Itu yang dikasih Tuhan.
Agustus sudah di ujung tanduk. Melelahkan sekali Agustus tahun ini. Saya ngos-ngosan, bukan secara harfiah.
Di bulan Agustus inilah saya dihadapkan oleh kenyataan yang entah menyenangkan atau menyeramkan, saya kelas XII SMA dengan kurikulum yang baru. Bayangkan saja, hari SABTU harus pulang kayak hari biasa. Menyenangkan sekali. Seakan belum cukup buruk, saya teringat kalau saya akan menjalaninya selama 2 semester. Tapi, ya jalani aja. Itu yang dikasih Tuhan.
Saturday, June 1, 2013
June
Assalamualaikum!!
Wah, Mei udah berubah wujud. Padahal, sebenernya Mei kemarin banyak cerita, cuma karena ngejalaninnya bersungut-sungut, jadi nggak ada yang bisa diceritain. Mei kemarin adalah perjuangan yang bener-bener perjuangan. Perjuangan melawan kenangan. *tsaah*
Selain itu, Mei adalah perjuangan untuk mempertahankan piala bergilir Expo, and we did it! Alhamdulillah. Rasanya lega, bebannya nguap dikit. Iya, dikit aja. Hehehe.
Terus, main-main sama Mama ke Pasar Malam itu unyu maksimal. Udah lupa kapan terakhir kali makan permen kapas di Pasar Malam. Tapi, dari dulu sampe sekarang, kalo jalan tetep gandeng Mama. <3
Setiap hari selalu penuh pilihan, pilihan tentang apa aja. Mei kembali mengajari tentang pilihan. Terima kasih, Mei. I moved.
Selamat datang, Juni! Bulannya ujian, bulannya sibuk. Berjuang buat bulan Juli! Lusa udah mulai ujian, tapi masih aja stress. Gatau bisa apa nggak. Tapi, usaha dong!! Doakan, ya! *berasa ada aja yang baca ini blog*
Wah, Mei udah berubah wujud. Padahal, sebenernya Mei kemarin banyak cerita, cuma karena ngejalaninnya bersungut-sungut, jadi nggak ada yang bisa diceritain. Mei kemarin adalah perjuangan yang bener-bener perjuangan. Perjuangan melawan kenangan. *tsaah*
Selain itu, Mei adalah perjuangan untuk mempertahankan piala bergilir Expo, and we did it! Alhamdulillah. Rasanya lega, bebannya nguap dikit. Iya, dikit aja. Hehehe.
Terus, main-main sama Mama ke Pasar Malam itu unyu maksimal. Udah lupa kapan terakhir kali makan permen kapas di Pasar Malam. Tapi, dari dulu sampe sekarang, kalo jalan tetep gandeng Mama. <3
Setiap hari selalu penuh pilihan, pilihan tentang apa aja. Mei kembali mengajari tentang pilihan. Terima kasih, Mei. I moved.
Selamat datang, Juni! Bulannya ujian, bulannya sibuk. Berjuang buat bulan Juli! Lusa udah mulai ujian, tapi masih aja stress. Gatau bisa apa nggak. Tapi, usaha dong!! Doakan, ya! *berasa ada aja yang baca ini blog*
Medan, kamar,
Yas
Wednesday, May 29, 2013
Perjalanan Pulang
Assalamualaikum.
Katanya, setiap orang bisa merasa jenuh. Mungkin jenuh karena kegiatan yang itu-itu saja. Mungkin bosan dengan pola hidup monoton yang dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun. Katanya, kejenuhan bisa diatasi tergantung dari cara kita menikmati apa yang kita jenuhkan itu. Hidup, misalnya?
Semua rutinitas yang terjadi, pada akhirnya akan mencapai kata "pulang". Kata yang mengundang sorak sorai pelajar dengan mata berat, apalagi kalau ada embel-embel "cepat" dibelakangnya. Kata yang membuat kita bisa kembali bernapas setelah beberapa saat menahannya. Kata yang membuat kita membayangkan rumah. Ketuk pintu, ucap salam, menghampiri orang tua, cium tangan, bergegas ke kamar, atau mungkin sambil mencomot perkedel yang baru digoreng, kemudian ganti baju, sejenak rebahan di atas tempat tidur, memereteli penat dan lelah setelah satu harian diluar. Menikmati langit-langit kamar, semilir angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Mungkin sedikit mencuri lelap.
Terkadang, pulang tidak selalu berarti ke rumah. Ada yang berteriak, "Aku pulang, ya!", nyatanya dia hanya keluar pagar dan duduk di warung nasi. Terkadang, pulang hanya menjadi alasan untuk lari.
13.45 adalah harapan. Tarikan nafas kelegaan. Bel yang berbunyi nyaring seiring dengan dentuman jantung, terasa lebih merdu saat siang. Banyak yang terbayang pada "pulang". Latihan. Musholla. Perjalanan panjang ke rumah.
Dalam setiap langkah pulang, selalu ada cerita yang terjalin. Ketika tumit sepatu mencumbu aspal panas, selalu ada alasan yang membuat kita untuk terus bergerak memberi napas pada sol sepatu karet. Ketika terik menembus kulit, selalu ada alasan yang membuat kita terus bergerak membelah hari. Ketika angkutan umum tak kunjung tampak, selalu ada alasan yang membuat kita tetap menunggu. Pulang seolah memberi harapan baru.
Pulang seperti mengoreksi diri. Apa yang sudah dilakukan, apa yang telah dipelajari, siapa yang dijumpai, apa yang terjadi, apa yang dikatakan. Seperti menilai perjalanan satu hari. Tentang persimpangan yang telah dilewati, batu yang dilompati, jalan yang dipilih, pelajaran yang didapat, dan tentang konsekuensi. Pulang membuat kita berpikir tentang hari esok. Pulang juga berarti bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk membuat resolusi yang lebih baik, untuk kembali bermimpi dengan harapan yang masih segar.
Karena setiap hari adalah pelajaran.
Katanya, setiap orang bisa merasa jenuh. Mungkin jenuh karena kegiatan yang itu-itu saja. Mungkin bosan dengan pola hidup monoton yang dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun. Katanya, kejenuhan bisa diatasi tergantung dari cara kita menikmati apa yang kita jenuhkan itu. Hidup, misalnya?
Semua rutinitas yang terjadi, pada akhirnya akan mencapai kata "pulang". Kata yang mengundang sorak sorai pelajar dengan mata berat, apalagi kalau ada embel-embel "cepat" dibelakangnya. Kata yang membuat kita bisa kembali bernapas setelah beberapa saat menahannya. Kata yang membuat kita membayangkan rumah. Ketuk pintu, ucap salam, menghampiri orang tua, cium tangan, bergegas ke kamar, atau mungkin sambil mencomot perkedel yang baru digoreng, kemudian ganti baju, sejenak rebahan di atas tempat tidur, memereteli penat dan lelah setelah satu harian diluar. Menikmati langit-langit kamar, semilir angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Mungkin sedikit mencuri lelap.
Terkadang, pulang tidak selalu berarti ke rumah. Ada yang berteriak, "Aku pulang, ya!", nyatanya dia hanya keluar pagar dan duduk di warung nasi. Terkadang, pulang hanya menjadi alasan untuk lari.
13.45 adalah harapan. Tarikan nafas kelegaan. Bel yang berbunyi nyaring seiring dengan dentuman jantung, terasa lebih merdu saat siang. Banyak yang terbayang pada "pulang". Latihan. Musholla. Perjalanan panjang ke rumah.
Dalam setiap langkah pulang, selalu ada cerita yang terjalin. Ketika tumit sepatu mencumbu aspal panas, selalu ada alasan yang membuat kita untuk terus bergerak memberi napas pada sol sepatu karet. Ketika terik menembus kulit, selalu ada alasan yang membuat kita terus bergerak membelah hari. Ketika angkutan umum tak kunjung tampak, selalu ada alasan yang membuat kita tetap menunggu. Pulang seolah memberi harapan baru.
Pulang seperti mengoreksi diri. Apa yang sudah dilakukan, apa yang telah dipelajari, siapa yang dijumpai, apa yang terjadi, apa yang dikatakan. Seperti menilai perjalanan satu hari. Tentang persimpangan yang telah dilewati, batu yang dilompati, jalan yang dipilih, pelajaran yang didapat, dan tentang konsekuensi. Pulang membuat kita berpikir tentang hari esok. Pulang juga berarti bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk membuat resolusi yang lebih baik, untuk kembali bermimpi dengan harapan yang masih segar.
Karena setiap hari adalah pelajaran.
Medan, tepat di sebelah tembok,
Yas
Wednesday, May 22, 2013
Perjalanan Pergi
Assalamualaikum.
Katanya, kalau sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan, lambat laun kita lupa alasan awal kita melakukannya. Seperti halnya bangun pagi. Kita hanya tau kalau kita harus bangun pagi. Kalau alasan anak sekolah, supaya bisa tepat waktu ke sekolah. Kalau alasan Mama mungkin beda. Beliau harus masak, beresin meja makan, bangunin anak dan suaminya. Setelah itu lanjut beres-beres rumah.
Jadi, setiap pagi selama nyaris 17 tahun ini, Mama adalah perempuan multi-talented, kalau bisa dikatakan begitu. Mungkin aneh, cupu, atau apalah, kalau anak kelas 2 SMA masih dibangunin emaknye. Tapi, bukankah ada rasa syukur waktu bangun tidur, yang pertama kita lihat adalah perempuan terhebat sepanjang masa?
Rutinitas yang sama setiap harinya. Bangun pagi, lihat tampilan muka di cermin sebentar, mandi, ganti baju, sarapan, pergi sekolah, pulang sekolah, mandi, tidur, bangun lagi, dan begitu seterusnya, dengan selipan ibadah wajib 5 waktu (walaupun lebih sering bolong). Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada bunga-bunga penghias di beberapa perhentian. Bunga-bunga yang mungkin akan kita sadari saat sudah berada cukup jauh. Atau bunga-bunga yang memiliki duri yang menusuk sampai ke ulu hati.
Nah, sebenernya, yang jadi pembahasan kali ini adalah perjalanan pergi. Bagaimana sebuah pagi menjadi judul baru atau bahkan bab baru. Terpaan sinarnya menjadi tinta segar yang melukiskan pelajaran. Bagaimana perjalanan 20 menit menuju sekolah membuat kita sejenak berpikir tentang apa yang harus dilakukan, tentang apa yang sebaiknya diucapkan, tentang penyelesaian alternatif saat sebuah situasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tentang orang-orang yang akan kujumpai hari itu. Tentang pelajaran yang harus kutaklukkan hari itu, tentang tugas yang terlambat kuserahkan. Tentang jadi apa aku setelah kutanggalkan seragam SMA-ku. Tentang sebuah harapan yang pertumbuhannya ada ditanganku, dalam keyakinanku, dalam keoptimisanku menjaganya. Tentang sebuah kisah yang kuharapkan permulaannya. Tentang pertemanan yang sedang kuusahakan selama hampir setahun berjalan. Tentang aku yang kemarin. Semuanya dalam 20 menit.
Perjalanan yang merupakan sebuah awal untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang mampu menerima dirinya sendiri dengan lingkungan lain. Perjalanan untuk lebih mengerti apa yang harus dan tidak boleh. Tentang pilihan juga. Perjalanan yang menyimpan banyak persimpangan. Perjalanan yang memberikan waktu untuk sejenak berpikir akan jadi apa aku kelak. Perjalanan yang tak terduga ujungnya, apakah sebuah ladang hijau dengan matahari tersenyum di sudut kanannya, atau jurang curam tiada berdasar?
Perjalanan yang awalnya kita tentukan sendiri. Akankah kita bahagia hari itu, atau hanya sekedar melanjutkan rutinitas biasa tanpa menanam benih bunga di setiap persimpangan? Karena Tuhan yang Maha Menentukan, tergantung kita menanggapinya dengan cara apa. Apakah bersyukur, atau mengeluh sepanjang perjalanan sampai lupa untuk memperhatikan nikmat terkecil yang diberikan?
Karena bahagia itu sederhana.
Katanya, kalau sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan, lambat laun kita lupa alasan awal kita melakukannya. Seperti halnya bangun pagi. Kita hanya tau kalau kita harus bangun pagi. Kalau alasan anak sekolah, supaya bisa tepat waktu ke sekolah. Kalau alasan Mama mungkin beda. Beliau harus masak, beresin meja makan, bangunin anak dan suaminya. Setelah itu lanjut beres-beres rumah.
Jadi, setiap pagi selama nyaris 17 tahun ini, Mama adalah perempuan multi-talented, kalau bisa dikatakan begitu. Mungkin aneh, cupu, atau apalah, kalau anak kelas 2 SMA masih dibangunin emaknye. Tapi, bukankah ada rasa syukur waktu bangun tidur, yang pertama kita lihat adalah perempuan terhebat sepanjang masa?
Rutinitas yang sama setiap harinya. Bangun pagi, lihat tampilan muka di cermin sebentar, mandi, ganti baju, sarapan, pergi sekolah, pulang sekolah, mandi, tidur, bangun lagi, dan begitu seterusnya, dengan selipan ibadah wajib 5 waktu (walaupun lebih sering bolong). Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada bunga-bunga penghias di beberapa perhentian. Bunga-bunga yang mungkin akan kita sadari saat sudah berada cukup jauh. Atau bunga-bunga yang memiliki duri yang menusuk sampai ke ulu hati.
Nah, sebenernya, yang jadi pembahasan kali ini adalah perjalanan pergi. Bagaimana sebuah pagi menjadi judul baru atau bahkan bab baru. Terpaan sinarnya menjadi tinta segar yang melukiskan pelajaran. Bagaimana perjalanan 20 menit menuju sekolah membuat kita sejenak berpikir tentang apa yang harus dilakukan, tentang apa yang sebaiknya diucapkan, tentang penyelesaian alternatif saat sebuah situasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tentang orang-orang yang akan kujumpai hari itu. Tentang pelajaran yang harus kutaklukkan hari itu, tentang tugas yang terlambat kuserahkan. Tentang jadi apa aku setelah kutanggalkan seragam SMA-ku. Tentang sebuah harapan yang pertumbuhannya ada ditanganku, dalam keyakinanku, dalam keoptimisanku menjaganya. Tentang sebuah kisah yang kuharapkan permulaannya. Tentang pertemanan yang sedang kuusahakan selama hampir setahun berjalan. Tentang aku yang kemarin. Semuanya dalam 20 menit.
Perjalanan yang merupakan sebuah awal untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang mampu menerima dirinya sendiri dengan lingkungan lain. Perjalanan untuk lebih mengerti apa yang harus dan tidak boleh. Tentang pilihan juga. Perjalanan yang menyimpan banyak persimpangan. Perjalanan yang memberikan waktu untuk sejenak berpikir akan jadi apa aku kelak. Perjalanan yang tak terduga ujungnya, apakah sebuah ladang hijau dengan matahari tersenyum di sudut kanannya, atau jurang curam tiada berdasar?
Perjalanan yang awalnya kita tentukan sendiri. Akankah kita bahagia hari itu, atau hanya sekedar melanjutkan rutinitas biasa tanpa menanam benih bunga di setiap persimpangan? Karena Tuhan yang Maha Menentukan, tergantung kita menanggapinya dengan cara apa. Apakah bersyukur, atau mengeluh sepanjang perjalanan sampai lupa untuk memperhatikan nikmat terkecil yang diberikan?
Karena bahagia itu sederhana.
Medan, sudut kamar
Yas.
Tuesday, May 21, 2013
Hubungan Percakapan dan Ingatan
Hari monoton lainnya dengan kejiwaan yang nyaris mencapai kejenuhan teratas, sebuah percakapan sederhana namun menohok terjadi di sebuah ruang kelas di lantai atas, tepatnya meja ketiga deret ketiga pula. Dua makhluk, yang satu memiliki rezeki yang berlimpah―yakni badan yang padat, sebut saja namanya Hilda. Sedang yang satu tampak kurus, entah karena makan hati atau memang cacingan, yang ini sebut saja Tias.
Tias: Da, kira-kira ingat gak, ya?
Hilda: Diakan gak sakit kali, berarti nggak.
T: Oo, berarti cuma yang sakit aja, ya, yang punya ingatan? Kasian, ya.
H: Nggak juga. Kalo bahagia kali pun pasti ingat.
T: Dia bahagia kali? Nggak mungkinlah. Aku nggak bahagia kali, nggak sedih kali juga, tapi ingat.
H: Halah, banyak cakap.
T: Lah, ini buktinya nggak nangis.
H: Yang ingat itu kalo nggak yang bahagia kali, yang sedih kali, ya yang emang pengingat.
T: Dia ingat gak?
H: Dia nggak senang, nggak sedih, nggak pengingat juga. Nggak.
T: Iya juga, ya, Da.
H: *bereng*
Jadi, sebenarnya ingatan itu punyanya siapa? Jadi, kenapa ingatan tidak bisa setidaknya membantu sebuah keadaan dalam masa krisisnya, putus misalnya? Okesip, ngawur. Bye!
Tias: Da, kira-kira ingat gak, ya?
Hilda: Diakan gak sakit kali, berarti nggak.
T: Oo, berarti cuma yang sakit aja, ya, yang punya ingatan? Kasian, ya.
H: Nggak juga. Kalo bahagia kali pun pasti ingat.
T: Dia bahagia kali? Nggak mungkinlah. Aku nggak bahagia kali, nggak sedih kali juga, tapi ingat.
H: Halah, banyak cakap.
T: Lah, ini buktinya nggak nangis.
H: Yang ingat itu kalo nggak yang bahagia kali, yang sedih kali, ya yang emang pengingat.
T: Dia ingat gak?
H: Dia nggak senang, nggak sedih, nggak pengingat juga. Nggak.
T: Iya juga, ya, Da.
H: *bereng*
Jadi, sebenarnya ingatan itu punyanya siapa? Jadi, kenapa ingatan tidak bisa setidaknya membantu sebuah keadaan dalam masa krisisnya, putus misalnya? Okesip, ngawur. Bye!
Pojok kamar, meringkuk memeluk lepi
Iyas
Saturday, May 11, 2013
Childhood, Oh Childhood
Terkadang, waktu membuat kita mati kutu. Kalau merindu, tidak mungkin bisa kembali. Seperti sekarang, waktu bergelinding, aku siswi kelas 2 SMA, meringis mengingat masa kanak-kanak yang sudah mulai buram, karena tidak kumanfaatkan dengan baik untuk membentuk bongkah kenangan.
Berhubung aku bukan narator yang baik, mohon maaf kalau postingan ini terlihat membosankan.
Berhubung ini malam Minggu, jadi bisa ditebak ramenya gimana. Bukan cuma anak-anak dan orangtua mereka yang nemenin, tapi ada juga yang seumuran samaku disana. Latar belakang mereka juga tidak mungkin sama. Tampak dari banyaknya pedagang yang turut memadati lapangan Gajahmada, entah itu makanan, atau mainan anak-anak. Awalnya aku ngira aku bakal jadi sedikit dari orang yang lupa umur, tapi ternyata ada banyak yang lupa umur. Mungkin bukan lupa umur, cuma capek sama rutinitas monoton yang tidak berujung. Beruntung malam ini cerah, jadi orang pun turut cerah.
Terima kasih untuk malam ini, Ma. Setidaknya aku jadi sedikit lebih muda untuk beberapa jam. <3
![]() |
| Mainan yang diketapelin ke atas terus muter-muter |
Medan,
Terperangkap dalam raga tua,
Yas
Wednesday, May 1, 2013
May!! May!! May I review?
Assalamualaikum!! Hakdes!!
Apakabar semuaa? *berasa banyak fans* Ciee, Mei nihyeeee.~ Sebelum melangkah dan bertindak, ada bagusnya kita liat kesalahan dan hal-hal yang perlu dibuang atau dibawa bulan ini.
April ini, gak banyak yang meriah karena sibuk latihan EXPO buat hari Jumat nanti. *aye!* Tapi, bukan berarti acara ulang tahun Depek gak asik ya. Asiknya asik deh pokoknya. April ini alhamdulillah banyak ketawanya, walaupun makan hati mengimbangi bahagia. Keseringan marah juga gabagus, yakan? Tapi, bulan ini malah sering naik darah. Ciailaaahh. Terus apalagi, ya? Oiya, DVD running-an sama Alfi, Arby, Rinaldi, Randi, Fadlan, Ririn, lumayan bikin sakit perut. Terus ada lagi, ngisi acara reuni di Grand Aston, itu asli, setelah pulang ngisi acara terus ngumpul sama orang sarap, ini pipi rasanya kebas! Heran.
Dan, bicara soal Mei. Sebenernya agak tebatuk-batuk sih. Hakjlebhore gitu. Tapi, yah, namanya juga manusia, berubah ya wajar. Mei ini gajadi setahunan deh. Ulalala. *nah loh, oke fine*. Ah, malah jadi bahas itu. Enceng, Wak!
Oiya, April kemaren si Om nikah. Selamat berkeluarga, Om!! Maaf, keponakan tercinta ini gakbisa datang huhuhu. Tapi, doanya dikirim kok. Hehehehe.
Jadi, teman-teman yang baik dan rajin berdoa, doakan kami untuk Expo tahun ini. Semoga kami bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh pihak sekolah.
Sa, Tam, Yul, Gek, Da, semualah kelen, cinta kali aku sama kelen! Muah! <3
Apakabar semuaa? *berasa banyak fans* Ciee, Mei nihyeeee.~ Sebelum melangkah dan bertindak, ada bagusnya kita liat kesalahan dan hal-hal yang perlu dibuang atau dibawa bulan ini.
April ini, gak banyak yang meriah karena sibuk latihan EXPO buat hari Jumat nanti. *aye!* Tapi, bukan berarti acara ulang tahun Depek gak asik ya. Asiknya asik deh pokoknya. April ini alhamdulillah banyak ketawanya, walaupun makan hati mengimbangi bahagia. Keseringan marah juga gabagus, yakan? Tapi, bulan ini malah sering naik darah. Ciailaaahh. Terus apalagi, ya? Oiya, DVD running-an sama Alfi, Arby, Rinaldi, Randi, Fadlan, Ririn, lumayan bikin sakit perut. Terus ada lagi, ngisi acara reuni di Grand Aston, itu asli, setelah pulang ngisi acara terus ngumpul sama orang sarap, ini pipi rasanya kebas! Heran.
Dan, bicara soal Mei. Sebenernya agak tebatuk-batuk sih. Hakjlebhore gitu. Tapi, yah, namanya juga manusia, berubah ya wajar. Mei ini gajadi setahunan deh. Ulalala. *nah loh, oke fine*. Ah, malah jadi bahas itu. Enceng, Wak!
Oiya, April kemaren si Om nikah. Selamat berkeluarga, Om!! Maaf, keponakan tercinta ini gakbisa datang huhuhu. Tapi, doanya dikirim kok. Hehehehe.
Jadi, teman-teman yang baik dan rajin berdoa, doakan kami untuk Expo tahun ini. Semoga kami bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh pihak sekolah.
Sa, Tam, Yul, Gek, Da, semualah kelen, cinta kali aku sama kelen! Muah! <3
Medan, kamar manis kamar,
Tegeletak kelaparan,
Yas
Sunday, March 24, 2013
Daun Kering Bulan Maret
Bukan pertama kalinya aku menapakkan kaki di lapangan kampus ini. Ini sudah yang entah ke berapa. Ekskul yang kugeluti mau tak mau mengharuskanku lebih sering melewati bidang tanah yang cukup luas tersebut. Lapangan hijau luas yang memiliki mungkin dua pasang gawang. Di sekelilingnya ada tanah yang lebih rendah dengan pohon berjejer sepanjang jalan. Dalam beberapa waktu, aku pernah berdiri di atas pijakan di tepi lapangan. Mataku menyapu segala penjuru, badanku menikmati semilir angin yang menggelitik, paru-paruku menyesap oksigen yang tersedia. Rasanya menyenangkan sekaligus konyol untuk berdiri diam di tepi lapangan tanpa melakukan kegiatan yang berarti.
Untuk hari ini, langit kelabu menggantung sepanjang siang, menciptakan suasana teduh di lapangan yang biasanya panas kalau matahari sedang terik-teriknya. Kebetulan ada latihan, jadi beberapa anggota memakai lapangan sebagai panggung, dengan kami berada di tanah yang lebih rendah sebagai penonton. Tempat yang kami gunakan ini memiliki pohon yang sudah menguning daunnya. Semilir angin menerbangkan daun-daun kering sampai menutupi bagian lapangan.
Daun yang jatuh tampak meliuk-liuk anggun di udara bebas. Lucu melihat mereka yang latihan di bawah "hujan" daun kering seperti itu. Tapi, memang indah. Kontrasnya warna daun yang kuning kecoklatan berpadu dengan hijaunya rumput lapangan. Saat-saat seperti itu, aku lebih memilih tenggelam dalam pikiranku sendiri. Memikirkan segala kemungkinan yang masih bisa terjadi. Memikirkan sedang apa aku pada tanggal yang sama tahun lalu.
Maret tahun lalu bukan bulan yang mudah. Aku jatuh bangun dalam hal yang ku rasa sekarang, sangat bodoh. Tapi, bukan berarti aku menyesal itu terjadi. Toh, aku jadi tau kalau tidak selamanya akhir akan benar-benar menjadi akhir. Ada masanya di mana akhir tadi menciptakan sekuelnya.
Aku mengingat semua hal yang terjadi pada Maret tahun lalu. Menyenangkan sekaligus menyedihkan kembali berenang sendirian dalam nostalgia. Apa yang dulu terasa manis, menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Apa yang terlihat menyedihkan, malah terlihat lucu setelah semua perjalanan terlewati. Yang aku tanyakan, mungkinkah kejadian yang sama terulang?
Untuk hari ini, langit kelabu menggantung sepanjang siang, menciptakan suasana teduh di lapangan yang biasanya panas kalau matahari sedang terik-teriknya. Kebetulan ada latihan, jadi beberapa anggota memakai lapangan sebagai panggung, dengan kami berada di tanah yang lebih rendah sebagai penonton. Tempat yang kami gunakan ini memiliki pohon yang sudah menguning daunnya. Semilir angin menerbangkan daun-daun kering sampai menutupi bagian lapangan.
Daun yang jatuh tampak meliuk-liuk anggun di udara bebas. Lucu melihat mereka yang latihan di bawah "hujan" daun kering seperti itu. Tapi, memang indah. Kontrasnya warna daun yang kuning kecoklatan berpadu dengan hijaunya rumput lapangan. Saat-saat seperti itu, aku lebih memilih tenggelam dalam pikiranku sendiri. Memikirkan segala kemungkinan yang masih bisa terjadi. Memikirkan sedang apa aku pada tanggal yang sama tahun lalu.
Maret tahun lalu bukan bulan yang mudah. Aku jatuh bangun dalam hal yang ku rasa sekarang, sangat bodoh. Tapi, bukan berarti aku menyesal itu terjadi. Toh, aku jadi tau kalau tidak selamanya akhir akan benar-benar menjadi akhir. Ada masanya di mana akhir tadi menciptakan sekuelnya.
Aku mengingat semua hal yang terjadi pada Maret tahun lalu. Menyenangkan sekaligus menyedihkan kembali berenang sendirian dalam nostalgia. Apa yang dulu terasa manis, menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Apa yang terlihat menyedihkan, malah terlihat lucu setelah semua perjalanan terlewati. Yang aku tanyakan, mungkinkah kejadian yang sama terulang?
“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard
Medan, naungan cuaca tidak konstinten
Love,
T
Monday, March 18, 2013
We aren't Old Enough for Childhood Games, yet.
Assalamualaikum! Selamat malam jiwa-jiwa yang terperangkap dalam raga yang bimbang~ Oke, itu bukan sapaan yang menggugah sepertinya.
Jadi, hari ini adalah hari ke-3 aku mondar-mandir UNIMED dalam minggu liburan ini. Bayangin aja liburan tapi melanglang buana tak tentu. Liburan, woy! Tapi, mondar-mandir Universitas itu dengan segepok kenangan di tiap sudutnya, eh tapi nggak tiap sudut juga sih, palingan ya jalan setapaknya, auditoriumnya, yah semua tempat yang jadi latar percakapan via teks elektronik, memberikan sentakan sedikit keras. Siapa coba yang nggak miris? Memang kasihan kalo punya ingatan yang bagus dalam hal kayak gini. Coba aja nginget penyelesaian masalah Matematika bisa segampang inget setiap momen begitu. Nah loh, kenapa jadi bahas ini? Oke, balik ke inti yang mau diceritain.
Ehem, di siang yang terik tadi, kami (Aku, Hilda, Dyah, Arby, Randi, Fadlan), para pelajar SMA yang sok oke menyusup ke kampus ini, bercerita dan bernostalgia tentang permainan masa kecil kami dulu. Inget dong, permainan jaman SD dulu? Yang pertama-tama main itu dengan semangat yang menggebu-gebu, terus selesainya gara-gara ada yang udahan, merajuk, jadi anak bawang mulu, udahannya tuh gini, "Ah, udahlah, we. Encenglah, kalah kalah aja pun, asik dia dia aja yang menang, aku tah kapan menangnya." terus yang lain ngebujuk-bujuk, "Yah, jangan gitulah, masa enceng, baru main. Udahlah, gausah kawanlah, ah.", dan berbagai ocehan ala anak TK/SD lainnya. Yang dibahas itu mulai dari yang "Siti Aisah mandi di kali, bajunya basah, basah sekali, a de u, ala desa desu, a de u, ala desa desu..." ya gitulah pokoknya, aku nggak hapal, yah beda tipislah sama "Paman Doli tidak tau diri...", ada lagi yang sejenis, yang "Sepotong roti isinya mentega...", yang akhirnya jadi patung. Terus, ada alip pohon, patok lele, samberlang, karet jepang. Nah, yang karet jepang ini, si Randi mempraktekan cara mainnya bak anak SD yang beneran main karet jepang, mulai dari Pembukaan sampe yang Bendera (kalo gasalah). Dia juga memperagakan ekspresinya kalo kalah atau nggak nyampe lompatannya. Ada petak umpet juga yang sering nyurangin orang. Inget nggak sih, kalo kita main petak umpet, terus nggak mau repot, pas yang jaga ngitung, kita berdiri anteng di belakangnya nunggu sampe hitungannya selesai, dan pas hitungannya selesai, kita langsung teriak "Cengdong!"? Yang nggak pernah, coba deh hahaha. Yang terakhir, engklek! Pas engklek ini, jiwa SD kami kembali memaksa masuk. Kami semangat nyebutin macem-macem engklek. Dari engklek surat, engklek rumah sampe engklek orang.
Karena belum puas, kenapa kami nggak main engklek aja? Maka, sahlah kami membuat pola engklek orang di sebelah lapangan kampus. Kami hom pim pa, terus dapatlah urutan main Hilda-Aku-Dyah-Arby-Fadlan-Randi. Kami main bener-bener kayak anak SD. Bayangin aja, anak SMA main engklek di deket lapangan kampus. KAMPUS. Tapi, ya, kami tetep main aja. Aku, Hilda, Arby udah sampe tahap siang-malam. Kami memang hebat hehehehe.
Asik memang, kumpul sama temen, terus ngomongin masa kecil, apa yang buat kita nangis dulu bisa jadi bahan tertawaan untuk sekarang. Secara nggak langsung kita bersyukur atas apa yang udah terjadi. Masa kecil yang konyol, membuat kita seperti sekarang. Lalu, apa permainanmu dulu?
Jadi, hari ini adalah hari ke-3 aku mondar-mandir UNIMED dalam minggu liburan ini. Bayangin aja liburan tapi melanglang buana tak tentu. Liburan, woy! Tapi, mondar-mandir Universitas itu dengan segepok kenangan di tiap sudutnya, eh tapi nggak tiap sudut juga sih, palingan ya jalan setapaknya, auditoriumnya, yah semua tempat yang jadi latar percakapan via teks elektronik, memberikan sentakan sedikit keras. Siapa coba yang nggak miris? Memang kasihan kalo punya ingatan yang bagus dalam hal kayak gini. Coba aja nginget penyelesaian masalah Matematika bisa segampang inget setiap momen begitu. Nah loh, kenapa jadi bahas ini? Oke, balik ke inti yang mau diceritain.
Ehem, di siang yang terik tadi, kami (Aku, Hilda, Dyah, Arby, Randi, Fadlan), para pelajar SMA yang sok oke menyusup ke kampus ini, bercerita dan bernostalgia tentang permainan masa kecil kami dulu. Inget dong, permainan jaman SD dulu? Yang pertama-tama main itu dengan semangat yang menggebu-gebu, terus selesainya gara-gara ada yang udahan, merajuk, jadi anak bawang mulu, udahannya tuh gini, "Ah, udahlah, we. Encenglah, kalah kalah aja pun, asik dia dia aja yang menang, aku tah kapan menangnya." terus yang lain ngebujuk-bujuk, "Yah, jangan gitulah, masa enceng, baru main. Udahlah, gausah kawanlah, ah.", dan berbagai ocehan ala anak TK/SD lainnya. Yang dibahas itu mulai dari yang "Siti Aisah mandi di kali, bajunya basah, basah sekali, a de u, ala desa desu, a de u, ala desa desu..." ya gitulah pokoknya, aku nggak hapal, yah beda tipislah sama "Paman Doli tidak tau diri...", ada lagi yang sejenis, yang "Sepotong roti isinya mentega...", yang akhirnya jadi patung. Terus, ada alip pohon, patok lele, samberlang, karet jepang. Nah, yang karet jepang ini, si Randi mempraktekan cara mainnya bak anak SD yang beneran main karet jepang, mulai dari Pembukaan sampe yang Bendera (kalo gasalah). Dia juga memperagakan ekspresinya kalo kalah atau nggak nyampe lompatannya. Ada petak umpet juga yang sering nyurangin orang. Inget nggak sih, kalo kita main petak umpet, terus nggak mau repot, pas yang jaga ngitung, kita berdiri anteng di belakangnya nunggu sampe hitungannya selesai, dan pas hitungannya selesai, kita langsung teriak "Cengdong!"? Yang nggak pernah, coba deh hahaha. Yang terakhir, engklek! Pas engklek ini, jiwa SD kami kembali memaksa masuk. Kami semangat nyebutin macem-macem engklek. Dari engklek surat, engklek rumah sampe engklek orang.
Karena belum puas, kenapa kami nggak main engklek aja? Maka, sahlah kami membuat pola engklek orang di sebelah lapangan kampus. Kami hom pim pa, terus dapatlah urutan main Hilda-Aku-Dyah-Arby-Fadlan-Randi. Kami main bener-bener kayak anak SD. Bayangin aja, anak SMA main engklek di deket lapangan kampus. KAMPUS. Tapi, ya, kami tetep main aja. Aku, Hilda, Arby udah sampe tahap siang-malam. Kami memang hebat hehehehe.
![]() |
| Randi fokus ngelempar "gacok" |
![]() |
| Hop hop hop |
![]() |
| Hilda in action |
Asik memang, kumpul sama temen, terus ngomongin masa kecil, apa yang buat kita nangis dulu bisa jadi bahan tertawaan untuk sekarang. Secara nggak langsung kita bersyukur atas apa yang udah terjadi. Masa kecil yang konyol, membuat kita seperti sekarang. Lalu, apa permainanmu dulu?
“I have never been convinced there's anything inherently wrong in having fun. ”
— George Plimpton
Medan, zona masa kini
Remaja tidak tau diri,
Yas
Thursday, February 28, 2013
Transformasi
“The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.”
― Albert Einstein
"Da, aku pengen ganti URL blogku."
"Jadi apa?"
"Ini, tinta jingga."
"Kenapa harus jingga?"
"Emmm, kalo langit pagi-pagi itu warnanya jingga, cantik."
"Halah"
Karena sebuah pagi identik dengan hari baru, walaupun dengan rutinitas yang monoton, bukan berarti pengalaman dan momennya akan sama. Buktinya, setiap pagi, warna jingganya beda, polesannya beda, malah kadang gadak warna jingganya sama sekali, mendung. Jadi, kalo hari ini bad day, bukan berarti besok juga bad day. Berlaku juga kebalikannya. Bukannya doain, tapi apa salahnya mempersiapkan diri untuk yang terburruk?
Inget nggak aku sering ngungkit tentang matahari pagi? Kalo udah jam setengah tujuh pagi, matahari yang keliatan dari rumahku seolah-olah lagi ngulet, ngerenggangin otot-ototnya, terpancarlah sinar jingga yang menyebar dari arah timur di sela-sela vihara deket rumah. Aku pribadi sih langsung good mood, dan hari yang baik selalu di awali dengan mood yang baik pula. Siapa coba yang nggak mau sepanjang hari itu senyum terus, bahkan sama ayam yang masih juga nggak bisa terbang ramahnya bukan main?
Rencana sih mau ganti headernya juga. Tapi, entaran deh, tunggu beneran mateng. Yaaah, emang masih nggak jauh-jauh dari bintang terbesar sejagad raya, sih, cuma ya, setidaknya nggak keliatan kalilah. #maksa
Jadi, dengan berubahnya URL blog ini dengan nama yang berhubungan dengan langit pagi yang berarti awal baru, aku harap blog ini nggak terlalu menye-menye kayak sebelumnya, dan bagi kalian yang membaca, semoga aku secara nggak langsung menyentuh hati kalian, dan dengan senang hati merapalkan namaku dalam doa kalian serta mendoakan kebahagianku. #teteupogahrugi
Oiya, ini udah akhir Februari ya? Tahun ini cuma sampe 28 aja kan? Jadi, yak selamat menunda ulang tahun ya buat yang ulang tahun tanggal 29, semoga diberkahi langkahnya. Amin.
Berhubung akhir bulan, sekalian putar balik aja ya~
Oke, ada apa Februari ini?
Ah, Anggi ulang tahun, dan kami dengan bangga menyatakan bahwa semua kejutan yang telah disiapkan dan diharapkan mengejutkan Anggi, GAGAL, gara-gara nggak sengaja ketemu si empunya hari pas di depan rumahnya habis beli mancis buat lilin. Super sekali. Tapi, yak selamat ulang tahun lagi Anggi!
Alhamdulillah, wasyukurillah, pementasan dua putaran kami sukses :') Aduh, terharu program yang sangat menyentuh hati dengan harapan bisa go national. Amin. Ulang tahun Temuga juga diadain di hari yang sama, tepatnya setelah pementasan putaran pertama, yang siang. Leganya bukan main, nggak nyangka sanggup hehehehe. Dan, yak selamat ulang tahun lagi Temuga!
Yaah, adalah beberapa "hiasan" yang....ah gitu deh *tersipu-sipu menjijikkan* Pokoknya, Februari ini sebuah anugerah yang luar biasa. Terima kasih untuk semuanya!
Medan, di bawah bintang glow in the dark, dalam jarak terjun air hujan
Love,
T
Monday, February 25, 2013
Letting Go
Moving on is not just forgetting, but also letting go. Letting go of the person who used to meant the world to you. Letting go of the person you gave your heart to. Letting go of the person you love the most. Letting go of the person who said would never leave. Letting go of the person who said would stay.
Bagaimana kalau tiba-tiba kenangan menyerangmu seperti kawanan kuda yang baru dibebaskan dari istalnya? Kemungkinanmu selamat dari terjangannya sangatlah kecil. Pahit memang menyadari semuanya sudah tidak punya arti apa-apa. Hari yang telah lalu hanya cerita. Tak peduli setahun pertemuan telah berlalu, cerita hanyalah cerita. Cerita nyata yang terasa layaknya ilusi. Tidak akan pernah ada "nanti" yang terjadi. "Kalau" hanyalah "kalau". Iming-iming manis sebagai hiasan.
“It hurts to let go. Sometimes it seems the harder you try to hold on to something or someone the more it wants to get away. You feel like some kind of criminal for having felt, for having wanted. For having wanted to be wanted. It confuses you, because you think that your feelings were wrong and it makes you feel so small because it's so hard to keep it inside when you let it out and it doesn't coma back. You're left so alone that you can't explain. Damn, there's nothing like that, is there? I've been there and you have too. You're nodding your head.”
― Henry Rollins, The Portable Henry Rollins
Bagaimana kalau tiba-tiba kenangan menyerangmu seperti kawanan kuda yang baru dibebaskan dari istalnya? Kemungkinanmu selamat dari terjangannya sangatlah kecil. Pahit memang menyadari semuanya sudah tidak punya arti apa-apa. Hari yang telah lalu hanya cerita. Tak peduli setahun pertemuan telah berlalu, cerita hanyalah cerita. Cerita nyata yang terasa layaknya ilusi. Tidak akan pernah ada "nanti" yang terjadi. "Kalau" hanyalah "kalau". Iming-iming manis sebagai hiasan.
“It hurts to let go. Sometimes it seems the harder you try to hold on to something or someone the more it wants to get away. You feel like some kind of criminal for having felt, for having wanted. For having wanted to be wanted. It confuses you, because you think that your feelings were wrong and it makes you feel so small because it's so hard to keep it inside when you let it out and it doesn't coma back. You're left so alone that you can't explain. Damn, there's nothing like that, is there? I've been there and you have too. You're nodding your head.”
― Henry Rollins, The Portable Henry Rollins
Monday, February 11, 2013
Hari Anggi
“Friendship is born at that moment when one person says to another: "What! You too? I thought I was the only one.”
― C.S Lewis
Awal kenalan dulu gimana ya? Ah, gini, waktu itu kalo gak salah kelas 1 SMP, kebetulan kami nggak sekelas, aku 7-2, dia 7-6, kelasnya di gedung depan. Dia itu temen sekelasnya Ririn sama Asha, jadi pas aku di kantin, dia sama Ririn lagi di situ juga, aku lupa gimana kalimat awalnya, pokoknya temenku ada bilang, "Eh, Rin, kembarannya ya?", nunjuk ke Bebe. Ntah bagaimana ceritanya, tapi angin membawa kami ke tukaran-nomor-hp-momen. Aku yang pertama sms dia kalo nggak salah isinya, "Gonggi, ini Tias. Inget kan?". Dulu itu lagi heboh-hebohnya send all sms gak penting. Jadilah kami menjadi gak penting sama-sama. Makin lama, kami makin akrab, tapi (alhamdulillah) tidak pula menjadikan kami pasangan sesama jenis.
Dari pertama kali kenal sampe sekarang, kami nggak pernah sekalipun satu kelas, waktu kelas 8, aku di 8-1, dia di 8-2, kelas 9, aku di 9-1, dia 9-3, terus sekarang aku di SMAN 3, dia HARSA. Ekskul pas SMP juga gak sama, aku Pramuka, dia Musik. Tapi, ya gitu insyaAllah tetep keep in touch satu sama lain, walau pun sekali ngobrol kayak ibu-ibu nawar kain di Petisah. Recok. Di mulai dari kelas 9 kami sering pulang naik becak bareng, awalnya sih gara-gara pengen cerita sambil jalan pulang, pertama ke rumah Bebe dulu baru ke rumahku biar ceritanya lama. Padahal kalo dipikir-pikir, rumahku kemana rumah dia kemana. Acara ngegossip di becak pun jadi ritual sepulang sekolah. Apa aja diceritain, biasalah, anak SMP, lagi labil-labilnya. Tukang becak pun jadi pendengar setia cerita kami.
Biasanya, sebelum pulang, kami suka makan di SD Pertiwi, kadang bakso, mi ayam bakso, atau nggak mi Bu Ila. Kalo dia makan bakso atau mi ayam, jangan tanya cabe ijonya berapa sendok. Itu kuah dari bening sampe ijo pekat. Minumnya sih biasa Pop*** rasa sirsak (sensor sikit gakpapa deh ya *gaya*). Belakangan dia juga heboh tereak-tereak kangen bakso kojek jajanan SD-_-
Yang buat enak ngomong sama Bebe itu, kalo kita lagi cerita yang awalnya adalah cerita mengharu biru menyayat hati, tiba-tiba dia memotong dan merubah cerita tersebut jadi cerita yang bikin sakit perut gara-gara ketawa alih-alih nangis bombay. Dia juga kalo nyeritain cerita aliran action (re: berantem), nggak ada serem-seremnya. Selain itu, kalo diajak curhat, jamin, nasihatnya gadak duanya. Ampuh menyadarkan dan naik darah perkara dimaki habis-habisan sekaligus diledekin setengah idup. Sampe sekarang, bakat ngemaki sama ngelecenya itu nggak ilang. Doi ngomong gak pernah muluk-muluk, ya kalo mau ngatain orang dablek, yaudin, di-dablek-in itu manusia.
Pokoknya jarang deh ada perempuan macho yang kayak wayer kesiram air/korslet, kayak Bebe.
Catatan untuk yang belum menjadi wanita seutuhnya:
Hai, adinda kunyukku Anggi, lama tak bersua. Tak taukah dirimu aku merindukanmu? (Ngejijiin ya? Etapi, kok gak menyentuh kayak biasanya ya?)
Selamat berkurang kontrak hidup yang ke 16 kalinya ya, Be. Jauh jarak sekolah bukan berarti kita jauh ya. Kita masih bisa kok cerita-cerita kayak masa-masa SMP dulu. Tapi, perlu juga kayaknya kita pulang berdua lagi. Aku lupa rasanya kita berbagi cerita keluh kesah gundah gulana haru biru menyayat hati dari pertama naik becak sampe akhirnya terpaksa berhenti di depan gerbang rumahmu, dan kemudian kita melambaikan tangan tak rela harus berpisah kala itu (asli, lebay).
Kurang unyu apa aku mengenang masa-masa romantis kita dulu? (hakcuih!) Jadi, have a great 16th, honey, bunny, sweetie, unyukunyuk kupret!! Semoga semua mimpi dan cita-citamu tercapai dengan cara yang halal, amanah dan juga barokah. Semoga makin macho dan menjadi wanita seutuhnya (nahloh). Kita perempuan super!
![]() |
| Anggi 2010 |
| Anggi (kiri) 2011 |
“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.”
― Muhammad Ali
Medan, harinya Bebek
11 Februari 2013
11 Februari 2013
Lots of love,
Tias
Labels:
#ThingsOfTheMonth,
Flashback,
Momen,
People,
Quote(s)
Sunday, February 3, 2013
Jingganya Pagi, Gulitanya Malam
Lama tak menyapa matahari. Beberapa hari ini terperangkap di kamarku sendiri. Tidak menyaksikan goresan tinta jingga di ufuk timur. Aku ragu apakah indahnya masih sama? Besok pagi harusnya aku bisa kembali mengagumi coretan Tuhan di langit timur. Semoga saja pesonanya tidak pudar termakan polusi.
Aku masih ingat bagaimana aku menikmati setiap lekukan yang tercipta. Tidak ada gelombang yang seindah jejak matahari pagi. Hangat. Sehangat jejak jemari yang pernah singgah di jariku sendiri. Perpaduan sempurna yang menciptakan bahagia tersendiri. Tapi, bahagia ini tidak pernah hilang, kecuali awan hitam berarak menyelimuti semesta, menghapus jingga dari langit.
Bahkan, matahari pun bisa hilang ditelan malam. Malam yang kadang menghadirkan anak matahari, konstelasi bintang menakjubkan, atau bahkan kadang gulita tanpa titik putih.
Mataharipun memiliki waktunya untuk tenggelam, membiarkan malam menunjukkan sisi gelapnya. Menyerahkan sedikit cahayanya pada bulan yang remang. Aku tetap merindukan matahari.
“A day without sunshine is like, you know, night.”
― Steve Martin
Medan, malam tanpa titik
Salam,
TS
EDIT:
Malangnya pagi tadi tidak tampak goresan tinta jingga keemasan di langit. Mendung, bahkan hujan mengguyur Medan. Kerinduanku akan langit pagi terpaksa kutunda luapannya.
Senin, 04 Februari 2013
Medan, meja ketiga dari depan berdampingan dengan tembok merah muda,
TS
Subscribe to:
Posts (Atom)




.jpg)
