Pages

Showing posts with label People. Show all posts
Showing posts with label People. Show all posts

Sunday, May 7, 2017

Tentang Millenials Salurkan Hobi


 "Everyone needs a hobby," he said. "And everyone needs a miracle or two, just to prove life is more than just on long trudge from the cradle to the grave." ― Stephen King, Revival 

Di era teknologi yang terus berkembang dewasa ini, sebagian besar orang berusaha untuk mengukuhkan eksistensinya di media sosial dan kini, fenomena tersebut tidak bisa terelakkan lagi. Sebut saja kalangan selebgram yang berlomba membuat vlog yang menceritakan tentang kesehariannya, yang bagi sebagian besar orang telah menjadi gaya hidup. Jika diperhatikan, sudah banyak akun-akun vlog di Youtube dengan beberapa konten yang berbeda. Yunita Elisabeth salah seorang beauty and fashion vlogger yang membuat vlog tentang tips kecantikan rambut, OOTD, dan tutorial make up. Yunita menyalurkan hobinya lewat vlog agar bisa sharing tentang informasi seputar beauty and fashion khususnya kepada kawula muda. Sesekali Yunita Elisabeth juga sharing tentang kesehariannya di vlog, berawal dengan ketertarikannya kepada dunia fashion and beauty, Yunita sadar semua orang layak tampil cantik dan fashionable, dan untuk dapat tampil fashionable tidak selamanya harus mengeluarkan biaya yang mahal. Dari situlah, Yunita membagikan informasi tentang bagaimana tampil cantik dan fashionable tanpa harus mengeluarkan banyak biaya melalu Youtube channel-nya.

Wednesday, August 26, 2015

Tamara

Kalau ada orang yang harus saya kagumi karena kepintarannya, maka Tamara akan menjadi salah seorang di antaranya. Sejak saya mengenalnya kurang lebih 8 tahun yang lalu, dia selalu hadir dengan prestasi akademis yang membanggakan. Nilainya selalu cemerlang, terlebih kemampuan berbahasa asingnya yang tidak perlu diragukan lagi.

Kali pertama saya  mengenal sosok dengan otak brilian ini sewaktu saya duduk di sekolah dasar, kebetulan kami berada di bimbingan belajar yang sama. Di luar itu, kami tidak pernah bertemu sekalipun kami satu sekolah. Saat itu, tidak pernah terlintas di kepala saya kami akan menjalin pertemanan sejauh ini.

Ketika akhirnya seragam saya tak lagi rok lipit merah, saya tahu Tamara memasuki sekolah yang sama, tapi tidak duduk di kelas yang sama. Saat memasuki tahun kedualah, saya kembali bertemu dengan Tamara dalam satu ruang kelas. Dialah yang menjadi teman sebangku Asha selama 2 tahun. Mereka tampak seperti duo pintar yang tidak berusaha untuk terlihat pintar. Dan beruntungnya, mereka mau berteman dengan saya yang biasa-biasa saja.

Di antara kami bertiga, saya dan Tamara acap kali berbeda jalan. Tak jarang kami tidak saling menegur sapa karena ego masing-masing. Semua perang dingin itu untungnya selalu berakhir secara damai. Tapi, hal itu justru menumbuhkan rasa pengertian dalam diri kami. Saya tidak pernah menyesali adanya pertengkaran-pertengkaran itu, bukan berarti saya menginginkannya lagi. Hanya saja, saya puas, pertemanan kami tidak semudah itu, yang justru menjadikannya berharga.

Sunday, July 12, 2015

Vennasa

Waktu itu kami masih mengenakan rok lipit berwarna merah. Lincah melompat kesana kemari seolah tidak pernah kehabisan tenaga. Ada satu perjalanan pulang yang berbeda. Bus antar-jemput yang biasanya tidak ramai, kali ini sedikit lebih padat karena ada penumpang tambahan. Bus sebelah rupanya menitipkan anggotanya di bus kami. Saya lupa berapa tepatnya penumpang tambahan itu, namun salah satunya masih berteman baik dengan saya sampai saat ini, dan mungkin sampai entah kapan. Namanya Vennasa.

Masuk ke sekolah menengah pertama, saya tidak terlalu memperhatikan, karena sebagian besar muridnya telah saya jumpai di sekolah dasar yang masih satu yayasan.  Memasuki tahun kedua, saya melihat Asha. Ia adalah satu dari sekitar 40-an orang yang duduk di kelas yang sama dengan saya. Postur badannya yang berisi dan cukup tinggi agak tertutupi di baris belakang. Dia duduk di tepat di sebelah jendela yang mengarah ke lapangan belakang sekolah. Saat itu, saya mendekati Asha dan teman sebangkunya yang juga saya kenal, Tamara. Dari situlah kami memulai tahun-tahun kami yang bergelombang.

Saturday, June 20, 2015

Halo, 13

“Pi, ekskul apa?”
“Ntah. Abangku nyuruh Temuga aja.”
“Terus?”
“Yaudahlah, coba aja dulu. Kau Temuga aja udah.”
“Ng... Okelah.”
***
 “Hilda, nanti mau daftar ekskul apa?”
“Temuga. Tias?”
“Eh, sama.”
“Iya? Ntar ngasih formulirnya bareng, ya.”
“Sip.”
***
“Perkenalkan, nama saya Tias Septilia, panggilan Tias. Kelas X-2. Mirip artis, Indah D P. Motivasi masuk Temuga, ikut temen.”
***
Suasana sekolah yang saat itu sudah riuh akibat MOS, bertambah riuh perihal promosi ekstrakurikuler. Yang saya ingat, waktu itu ada satu ekskul yang langsung membuat saya tertarik. Temuga. Tau apa yang membuatnya tampak menarik? Baju seragamnya. Kaos lengan panjang berwarna hitam. Desainnya pada waktu itu, terdapat logo Temuga yang setidaknya memakan lebih dari setengah bidang depan baju, tulisan TEMUGA di kanan lengan, tulisan angkatan serta slogan AKAKIS tercetak di belakang baju. Kali pertama melihatnya, langsung terbayang tampang saya saat mengenakannya. Tidak buruk.
Selepas MOS sekolah, senior dari berbagai ekskul sibuk menjajakan formulir pendaftaran ekskul yang mereka geluti. Saling berteriak tak mau kalah. Dapat saya rasakan gulungan kertas HVS berwarna di genggaman saya. Formulir Temuga. Hanya perlu mengisi biodata, kemudian kembalikan kepada senior di ekskul tersebut. Masalahnya, niat. Antara ogah-ogahan dan tidak sabar untuk mengembalikan formulirnya. Terus berusaha mencari teman, lantas berani mengembalikan formulir.
Pada saat itu, atau mungkin sampai saat ini, MOS Temuga bukanlah hal yang paling ingin kuikuti. Adu mulut pun kulakukan karena kepalang tersulut emosi. Bisa kurasakan mataku menikam orang-orang yang berada di sekitarku saat itu. Sampai akhirnya ketika saya di posisi mereka, saya paham, beginilah cara mereka menyalurkan rasa kekeluargaan. Beginilah cara mereka mengajarkan untuk berani mengambil langkah.

Friday, May 16, 2014

Mengarungi Pelaruga

Assalamualaikum, hai, semua!

Jadi, beberapa minggu yang lalu. Saya dan kelima teman saya sepakat untuk mengisi waktu libur kami yang panjang ini dengan tracking di Pelaruga. Tempat wisata yang tergolong baru ini sudah memasuki wilayah Langkat. Ada banyak spot jungle track yang bisa dijumpai di sini, antara lain Sungai Abadi dan Teroh-Teroh yang menjadi tujuan kami.

A moment before an adventure
Kami berangkat dari Medan sekitar pukul 08.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor. Tidak, kami tidak konvoi yang merugikan pengguna jalan. Kami hanya enam remaja yang sedang menikmati masa liburan yang nyaris membosankan. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Kurang lebih membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai ke tujuan. Bisa dibayangkan rasanya naik motor selama 3 jam non stop? Kebas bukan main. Tapi, perjalanan 3 jam belum seberapa dengan medan yang akan kami tempuh nantinya.

Sunday, December 29, 2013

Farewell Trip to Bukittinggi

Assalamualaikum! Look who's finally posting!

Desember udah mau habis, tahun 2013 juga udah mau tamat. Saya lega, akhirnya semuanya bisa kembali ke keadaan yang lebih baik, setidaknya saya bisa bernafas sedikit lebih lega, walaupun tahun depan saya ngos-ngosan lagi ngadepin status baru, mahasiswi cuuuyyy. Amin!

Tapi, sebelum kesanakan harus ujian dulu. Ujian Semester 1 udah lewat dengan baik, hasil rapor yang...yah lumayanlah. Alhamdulillah, semua tuntas, ndak ada remedial. Semester ini kayaknya lempang aja. Kayak bukan ujian gitu perasaannya, padahal ndak tau sukses apa ndaknya.

Sunday, June 9, 2013

Perjalanan 54

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk pulang sendiri. Tidak mencoba untuk menghubungi orang rumah dua kali hanya untuk menjemput saya di depan jalan. Saya rasa, saya bisa memulai untuk tidak merepotkan orang lain dengan pulang sendiri.

Satu-satunya angkutan umum yang bisa mencapai daerah rumah saya dengan jarak terdekat hanya angkutan dengan nomor 54, dengan pintu masuk dari belakang, angkutan yang sudah tergolong jadul dan tinggal menunggu rubuhnya saja. Itu pun, saya masih harus berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit untuk sampai ke rumah. Saya jadi memiliki waktu untuk berenang dalam pikiran saya yang berjelimet.

Hari itu, saat angkutan umum yang saya tumpangi sedang berhenti, atau istilah jalanannya "ngetem", seorang nenek naik, saya yang saat itu duduk di deret kanan dekat pintu masuk, bergeser ke kanan, mempermudah si nenek untuk duduk. Beliau sendirian. Tapi, tidak terlihat kesepian, beliau sesekali bergurau dengan saya, bercerita tentang pasar hari itu. Senyumnya tulus, saya terhenyak. Saat angkutan yang saya tumpangi mulai berjalan, sesekali saya mencuri pandang ke nenek di sebelah saya. Mungkin usianya sudah 70 tahun atau mungkin lebih. Tapi, senyumnya tidak pudar seiring fisiknya. Tangannya terlihat tua, kulitnya keriput, tapi masih terasa kokoh saat menyentuh tangan saya. Tak lama, beliau turun.

Selang beberapa meter, kembali naik penumpang. Kali ini kakek yang naik, sendirian. Beliau tidak jauh berbeda dengan nenek yang saya temui sebelumnya. Beliau memiliki senyum yang tidak pupus termakan usia. Beliau masih kuat untuk berjalan sendirian. Mungkin karena beliau laki-laki.

Saya sempat berpikir, apakah saya akan melewati masa senja saya sendirian seperti kedua orang tua yang saya temui kemarin? Atau apakah Ayah atau Ibu saya akan berjalan sendirian seperti mereka? Apakah nanti saya akan menemukan Ibu saya naik angkutan umum tanpa ada anak-anak atau cucunya? Apakah nanti saya akan menemukan Ayah saya kebingungan di pinggir jalan karena jalanan ramai sedangkan beliau tak lagi lincah? Apakah orang-orang yang berbicara dengan Ibu saya akan menaikkan alis dan menghela nafas saat Ibu saya tidak lagi memiliki daya dengar yang baik?

Apakah saya masih bisa berada di samping mereka untuk setidaknya membimbing mereka menyeberangi jalan seperti yang mereka lakukan saat saya masih kecil? Apakah saya bisa membuat senyum mereka terselip di antara guratan kehidupan di wajah mereka? Apakah saya sudah mampu melunasi setidaknya separuh dari seluruh yang mereka berikan kepada saya? Apakah saya masih bisa berbaring di antara kedua orang tua saya walaupun rambut mereka tak lagi hitam legam?

Saya hanya ingin mencintai mereka sampai waktu yang tak terjamah. Saya sadar, semenjak saya duduk di bangku SMA, waktu saya lebih banyak di luar, dibanding di rumah. Bahkan di rumah pun, saya lebih memilih di kamar. Seperti sekarang ini, saya merasa apa yang saya berikan belum pantas untuk dikata cukup membahagiakan mereka. Saya yang tadinya ingin melukis garis tawa di sekitar bibir mereka, malah menambah garis lekuk di kening mereka. Saya hanya ingin mereka tau, sekalipun saya memikirkan orang lain, mereka adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya.

Medan, dalam satu atap kokoh,
Salam,
Anak terakhir kalian, Ma, Pa,
Yas

Tuesday, May 21, 2013

Hubungan Percakapan dan Ingatan

Hari monoton lainnya dengan kejiwaan yang nyaris mencapai kejenuhan teratas, sebuah percakapan sederhana namun menohok terjadi di sebuah ruang kelas di lantai atas, tepatnya meja ketiga deret ketiga pula. Dua makhluk, yang satu memiliki rezeki yang berlimpah―yakni badan yang padat, sebut saja namanya Hilda. Sedang yang satu tampak kurus, entah karena makan hati atau memang cacingan, yang ini sebut saja Tias.

Tias: Da, kira-kira ingat gak, ya?

Hilda: Diakan gak sakit kali, berarti nggak.
T: Oo, berarti cuma yang sakit aja, ya, yang punya ingatan? Kasian, ya.
H: Nggak juga. Kalo bahagia kali pun pasti ingat.
T: Dia bahagia kali? Nggak mungkinlah. Aku nggak bahagia kali, nggak sedih kali juga, tapi ingat.
H: Halah, banyak cakap.
T: Lah, ini buktinya nggak nangis.
H: Yang ingat itu kalo nggak yang bahagia kali, yang sedih kali, ya yang emang pengingat.
T: Dia ingat gak?
H: Dia nggak senang, nggak sedih, nggak pengingat juga. Nggak.
T: Iya juga, ya, Da.
H: *bereng*

Jadi, sebenarnya ingatan itu punyanya siapa? Jadi, kenapa ingatan tidak bisa setidaknya membantu sebuah keadaan dalam masa krisisnya, putus misalnya? Okesip, ngawur. Bye!



Pojok kamar, meringkuk memeluk lepi
Iyas

Saturday, May 11, 2013

Childhood, Oh Childhood

Terkadang, waktu membuat kita mati kutu. Kalau merindu, tidak mungkin bisa kembali. Seperti sekarang, waktu bergelinding, aku siswi kelas 2 SMA, meringis mengingat masa kanak-kanak yang sudah mulai buram, karena tidak kumanfaatkan dengan baik untuk membentuk bongkah kenangan.

Berhubung aku bukan narator yang baik, mohon maaf kalau postingan ini terlihat membosankan.

Kalau tidak bisa memundurkan waktu, cara apa yang bisa membuat kita melupakan seberapa tuanya kita sekarang? Kenapa tidak mencari hal yang dulu pernah dilakukan? Mungkin berkunjung ke Pasar Malam, just the way I did tonight. Aku berhasil bujuk Mama ke Pasar Malam. Karena, kepala berasa mau pecah, ditambah penatnya hati sama badan selama beberapa minggu belakangan ini, aku mulai mikir, hal yang bisa buat aku lupa sekarang aku ini apa. Masa bodoh dengan gengsi. Justru, bertingkah layaknya anak kecil yang bahagia memberikan ketenangan tersendiri.

Berhubung ini malam Minggu, jadi bisa ditebak ramenya gimana. Bukan cuma anak-anak dan orangtua mereka yang nemenin, tapi ada juga yang seumuran samaku disana. Latar belakang mereka juga tidak mungkin sama. Tampak dari banyaknya pedagang yang turut memadati lapangan Gajahmada, entah itu makanan, atau mainan anak-anak. Awalnya aku ngira aku bakal jadi sedikit dari orang yang lupa umur, tapi ternyata ada banyak yang lupa umur. Mungkin bukan lupa umur, cuma capek sama rutinitas monoton yang tidak berujung. Beruntung malam ini cerah, jadi orang pun turut cerah.

Ada yang semangat ngeliat "Tong Setan", yang orang naik motor sambil geber-geber di lintasan yang mirip tong tapi versi gedenya, dan ada penonton yang nyawer di bagian atas tong. Ada yang naik kereta api mini, bianglala versi mini, terus ada juga rumah siluman. Rasanya seneng sekaligus miris, ternyata aku udah terlalu tua. Umur udah mau 17, tapi tingkah masih ababil. Terkadang, mikir, apa yang orang-orang dewasa di Pasar Malam itu pikirin. Apa mereka merasa nyesal karena dulu menolak datang ke Pasar Malam? Atau merasa bersyukur karena di jaman buah hati mereka ada hiburan rakyat kayak Pasar Malam ini? 

Tenggelam dalam keramaian Pasar Malam berdua sama Mama rasanya lucu. Dulu, waktu gandeng Mama, tangannya terangkat karena Mama tinggi dan aku cebol. Sekarang, tinggi kami hampir sama. Umur tak lagi sama. Aku lupa dulu senengnya main apa di Pasar Malam ini. Tapi, yang jelas aku ingat manisnya Arum Manis merah jambu yang unyu ini. Sayang aja, Mama nggak ngebolehin buat makan. Asik ngeliat bubuk yang ditabur pelan-pelan ngembang jadi kapas, dipunter-punter pake lidi jadi gumpalan manis merah jambu.

Terima kasih untuk malam ini, Ma. Setidaknya aku jadi sedikit lebih muda untuk beberapa jam. <3
Mainan yang diketapelin ke atas terus muter-muter
Medan,
Terperangkap dalam raga tua,
Yas

Wednesday, May 1, 2013

May!! May!! May I review?

Assalamualaikum!! Hakdes!!

Apakabar semuaa? *berasa banyak fans* Ciee, Mei nihyeeee.~ Sebelum melangkah dan bertindak, ada bagusnya kita liat kesalahan dan hal-hal yang perlu dibuang atau dibawa bulan ini.

April ini, gak banyak yang meriah karena sibuk latihan EXPO buat hari Jumat nanti. *aye!* Tapi, bukan berarti acara ulang tahun Depek gak asik ya. Asiknya asik deh pokoknya. April ini alhamdulillah banyak ketawanya, walaupun makan hati mengimbangi bahagia. Keseringan marah juga gabagus, yakan? Tapi, bulan ini malah sering naik darah. Ciailaaahh. Terus apalagi, ya? Oiya, DVD running-an sama Alfi, Arby, Rinaldi, Randi, Fadlan, Ririn, lumayan bikin sakit perut. Terus ada lagi, ngisi acara reuni di Grand Aston, itu asli, setelah pulang ngisi acara terus ngumpul sama orang sarap, ini pipi rasanya kebas! Heran.

Dan, bicara soal Mei. Sebenernya agak tebatuk-batuk sih. Hakjlebhore gitu. Tapi, yah, namanya juga manusia, berubah ya wajar. Mei ini gajadi setahunan deh. Ulalala. *nah loh, oke fine*. Ah, malah jadi bahas itu. Enceng, Wak!

Oiya, April kemaren si Om nikah. Selamat berkeluarga, Om!! Maaf, keponakan tercinta ini gakbisa datang huhuhu. Tapi, doanya dikirim kok. Hehehehe.

Jadi, teman-teman yang baik dan rajin berdoa, doakan kami untuk Expo tahun ini. Semoga kami bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh pihak sekolah.

Sa, Tam, Yul, Gek, Da, semualah kelen, cinta kali aku sama kelen! Muah! <3

Medan, kamar manis kamar,
Tegeletak kelaparan,
Yas

Friday, March 29, 2013

Anti-Social?

Assalamualaikum. Jadi, hari ini, kebetulan lagi libur, sehari aja tapi. Nanggung yakan? Libur Jum'at, Sabtu tetep masuk. Maka daripada itu, aku hijrah ke rumah Yuli dari siang. Yuli ini temenku dari SD kelas 1.

"Namanya siapa?" aku nanya.
"Yuliandari." Yuli jawab.
"Oo, aku Tias. Tadi siapa namanya?" aku nanya lagi.
"Yuli." Yuli jawab lagi. Mungkin dia mikir buset dah ni anak masih muda udah tuli sama pikunan, cian.

Selama 6 tahun SD yang gitu-gitu aja, aku satu kelas terus sama Yuli. Awalnya, rumahku bukan di Wartawan, jadi pas Yuli tau aku mau pindah ke daerah situ, dia seneng bukan kepalang bak kedatangan artis. Pindahlah aku kira-kira kelas 4 atau 5 gitu. Jadilah, permainan rutin kami saling berkunjung satu sama lain tepat jam 4.

Masuk SMP, satu sekolah lagi, tapi beda kelas. Kelas 2 baru jumpa lagi, posisi duduknya pun oke, dia di belakang aku, ampuh buat ditarik-tarik tali sepatunya huehehehehe. Pas kelas 3 pisah kelas lagi, tapi ritual jam 4 masih tetep berlanjut hihihi.

Masuk SMA, kami pisah sekolah, tapi masih tetep keep in touch satu sama lain. Jadi, tetep tau kabar. Walaupun jarang jumpa, kami nggak kehilangan chemistry yang udah kami bangun selama 9 tahun lebih.

Jadi, tadi, pas aku datang ke rumahnya untuk yang pertama kalinya setelah ulang tahun dia tahun lalu, kami langsung bertingkah ala Teletubies, saling memeluk, meluluh lantakkan jarak yang terbentang di antara kami. *tsaah*. Kami manfaatkan waktu yang ada buat cerita melepas rindu. Perbincangan kami seputar kehidupan kami di SMA. bagaimana kami menjalani masa-masa putih abu-abu. Kami cerita gimana malesnya kami untuk kembali bersosialisasi. Mungkin anti-social?

Kami saling mengaku kalo orang yang sekarang lebih banyak yang nggak sejalannya daripada yang sejalan. Aku sendiri susah berbaur di kelas. Dia pun katanya gitu. Kami mikir, apa yang salah. Tapi, nyatanya ya emang gitu. Ngerti kan? Ibarat pintu yang belum ketutup rapet, belum "ceklik" dia. Ujung-ujungnya bekawan sama yang itu-itu aja. Kasihan. Terkadang ada poin-poin yang susah buat dijabarin kenapa kami menarik diri. Mungkin alasannya sederhana, tapi kami yang nggak tau membahasakannya.

Yah, begitulah kami. Berbincang kayak Ibu-ibu arisan. Tapi, kami senang. Bisa cerita sepuasnya, kayak baru pande ngomong.

Medan, kamar sendiri,
Muah,

Yas

Friday, March 22, 2013

Alfi dan Harinya

Assalamualaikum. Ehem. Tes tes tes. Okeh.


Ada apa dengan 22 Maret?
Hari ini, di Jumat yang berbahagia ini, saudara kami, ketua kami, bahan olok-olokan kami, tukang lece nomor 1 kami, telah memperingati hari lahirnya untuk yang ke 16 kalinya. Beliau terlahir dengan nama aqiqah, Alfi Hendartama; dengan nama panggilan, Cimol; panggilan musikal, Bedol; panggilan unyu, Cicim; dan panggilan malam, Elfi.

Lihat yang ada dalam lingkaran.
Mewah, Pak, ya
Siapa Alfi Hendartama?
Figur seorang Alfi sulit untuk dideskripsikan. Seolah-olah tidak ada satu kata pun dalam KBBI yang memenuhi karakternya. Biasa digambarkan dengan perawakan hitam, botak, kurus, lincah, petakilan, tidak pendendam, dengan kata lain, hampir tidak pernah MEMBALAS sms, telepon, dan hal sejenis. Dia bisa dibilang selalu dalam pihak netral. Dia jarang marah, bukan berarti nggak pernah marah. Bukan marah, tapi merepet. Repetannya nyaingin Ibu-ibu nawar kain di Petisah.

Alfi Hendartama, Not A Boy, Not A Man, yet, 16yo
Metamorfosis sekuncup Alfi bagaimana?
16 tahun silam, dia masih jumpalitan dalam rahim Ibunya, sampai akhirnya terpental menghadap dunia. Memasuki perkembangannya yang absurd, sampailah dia di SD swasta, kalo gasalah ada "harapan"nya, satu sekolah juga sama Bebe (re: Hari Anggi). Setelah melewati 6 tahun penuh halang rintang, terdamparlah dia di SMP Swasta Pertiwi. Saat masih terperangkap dalam seragam putih biru tahun pertama dan kedua, penampakannya kayak; ehem, tuyul, kecil, botak, yang ngebedain cuma warna kulitnya aja. Tapi, biar kecil, doi anak Paskib Pertiwi, Tante. Dia juga salah satu anggota OSIS di Pertiwi. Masuk tahun ketiga aku sekelas sama dia. Tapi, baru ngeh kalo udah terlambat untuk menjaga jarak akibat kelakuannya yang ampun-ampun itu waktu masa nganggur, alias tamat SMP, udah, masuk SMA, belum. Dia tumbuh sebagai seorang laki-laki yang nge-ogah-in. Pantang tau rahasia orang, langsung dilece. Masuklah masa-masa SMA ternyata kami ditakdirkan untuk kembali satu kelas di tahun pertama. Waktu di kelas, temenku nggak banyak, cuma dia, Pemau, sama Fadil. Itu pun terus-terusan dilece. Nasib memang. Alfi juga menjabat sebagai OSIS di tahun pertama. Dia Temuga, aku juga. Sebenernya aku masuk Temuga juga gara-gara bisikan setannya doi. Tim sukses kali, gak tuh? Sampai sekarang, kelas dua semester akhir, kami masih dekat walaupun beda kelas. Dia yang menjabat sebagai Ketua Temuga dan aku sekretarisnya maksa aku untuk lebih sering jadi korban.

Doi bisa apa aja?
Bisa ketawa, bisa ngelece, bisa merepet, bisa buat orang kesel, bisa digampar, bisa buat orang punya niat ngurung dia di gudang sampe terselimuti sarang laba-laba. Banyak bisanya. Tapi, kebisaannya yang nyata, dia bisa dan jago main alat musik. Ntah itu jimbe, taganing, hasapi, gitar, drum, cajon, piano, pianika, harmonika, rebana set, terus apa lagi ya?

Alfi dan Bebebnya (Taganing)
Harapan Doi apa?
Waktu ditanya, "Ulang tahun nanti mau apa?", dia jawab, "Mauku banyak. Aku mau taganing, gitar, ukulele, hasapi, drum set, dan yang terakhir, aku mau kasih sayang.". Menjijikan memang.

Alfi bukan sembarang lelaki.

Ada pesan?
Kepada, Cicim,

16 tahun ya, sekarang? Udah besar lah ya? Ciee, tahun depan udah punya KTP. Terus, terus, aku harus bilang "Selamat"? Berhubung ulang tahun, yaudah deh, selamat ya. Semoga makin jantan, makin oke, makin royal (AMIN). Terharu nggak, aku meluangkan waktuku yang teramat sangat berharga hanya untuk ini? Biasa aja kan? Dan, kalo ente lupa, ehem, aku perempuan tulen sejak lahir. Tidak ada keraguan tentang itu.

Sekali lagi, selamat hari tua, Cicim!

Medan, Hari Alfi,
Perempuan Tulen,

Yas

Monday, February 11, 2013

Hari Anggi

“Friendship is born at that moment when one person says to another: "What! You too? I thought I was the only one.” 
― C.S Lewis

Perkenalkan, nama perempuan macho ini Anggi Fitriani Batubara, dulu pas kenalan, panggilannya Anggi, terus berubah jadi Gonggi, kadang Anggek, terus pas SMA jadi Bebe, kadang juga dipersingkat jadi Bek, sekali-sekali Bey, tapi di antara semua nama panggilan tersebut, lebih enak manggil dia "Lek". Kenapa aku menyebutnya perempuan macho? Karena cerita punya cerita, dia terlahir sebagai seorang perempuan, yang kemudian seiring dengan berjalannya waktu, aku rasa jiwa perempuannya mulai memberontak dan berevolusi menjadi sedikit lebih macho. Jadilah, Bebe sang perempuan macho. Dari marganya aja kita udah tau, kalau dia jelas bukan orang Jawa yang kemayu. Terkadang wedok satu ini berbicara dengan level volume setara band aliran hardcore, karena emang selera musiknya begitu, kadang aku malah ngira dia lagi denger orang masuk angin (maaf ya, para pecinta musik). Mohon dicatat, cara bicara makhluk satu ini cukup menular ya buat aku. Aku bisa jadi sangat "Medan", if you know what I mean. Satu lagi, dia juaranya ketawa. Dahsyat, bo'.

Awal kenalan dulu gimana ya? Ah, gini, waktu itu kalo gak salah kelas 1 SMP, kebetulan kami nggak sekelas, aku 7-2, dia 7-6, kelasnya di gedung depan. Dia itu temen sekelasnya Ririn sama Asha, jadi pas aku di kantin, dia sama Ririn lagi di situ juga, aku lupa gimana kalimat awalnya, pokoknya temenku ada bilang, "Eh, Rin, kembarannya ya?", nunjuk ke Bebe. Ntah bagaimana ceritanya, tapi angin membawa kami ke tukaran-nomor-hp-momen. Aku yang pertama sms dia kalo nggak salah isinya, "Gonggi, ini Tias. Inget kan?". Dulu itu lagi heboh-hebohnya send all sms gak penting. Jadilah kami menjadi gak penting sama-sama. Makin lama, kami makin akrab, tapi (alhamdulillah) tidak pula menjadikan kami pasangan sesama jenis.

Dari pertama kali kenal sampe sekarang, kami nggak pernah sekalipun satu kelas, waktu kelas 8, aku di 8-1, dia di 8-2, kelas 9, aku di 9-1, dia 9-3, terus sekarang aku di SMAN 3, dia HARSA. Ekskul pas SMP juga gak sama, aku Pramuka, dia Musik. Tapi, ya gitu insyaAllah tetep keep in touch satu sama lain, walau pun sekali ngobrol kayak ibu-ibu nawar kain di Petisah. Recok. Di mulai dari kelas 9 kami sering pulang naik becak bareng, awalnya sih gara-gara pengen cerita sambil jalan pulang, pertama ke rumah Bebe dulu baru ke rumahku biar ceritanya lama. Padahal kalo dipikir-pikir, rumahku kemana rumah dia kemana. Acara ngegossip di becak pun jadi ritual sepulang sekolah. Apa aja diceritain, biasalah, anak SMP, lagi labil-labilnya. Tukang becak pun jadi pendengar setia cerita kami.

Biasanya, sebelum pulang, kami suka makan di SD Pertiwi, kadang bakso, mi ayam bakso, atau nggak mi Bu Ila. Kalo dia makan bakso atau mi ayam, jangan tanya cabe ijonya berapa sendok. Itu kuah dari bening sampe ijo pekat. Minumnya sih biasa Pop*** rasa sirsak (sensor sikit gakpapa deh ya *gaya*). Belakangan dia juga heboh tereak-tereak kangen bakso kojek jajanan SD-_-

Yang buat enak ngomong sama Bebe itu, kalo kita lagi cerita yang awalnya adalah cerita mengharu biru menyayat hati, tiba-tiba dia memotong dan merubah cerita tersebut jadi cerita yang bikin sakit perut gara-gara ketawa alih-alih nangis bombay. Dia juga kalo nyeritain cerita aliran action (re: berantem), nggak ada serem-seremnya. Selain itu, kalo diajak curhat, jamin, nasihatnya gadak duanya. Ampuh menyadarkan dan naik darah perkara dimaki habis-habisan sekaligus diledekin setengah idup. Sampe sekarang, bakat ngemaki sama ngelecenya itu nggak ilang. Doi ngomong gak pernah muluk-muluk, ya kalo mau ngatain orang dablek, yaudin, di-dablek-in itu manusia.

Pokoknya jarang deh ada perempuan macho yang kayak wayer kesiram air/korslet, kayak Bebe.

Catatan untuk yang belum menjadi wanita seutuhnya:
Hai, adinda kunyukku Anggi, lama tak bersua. Tak taukah dirimu aku merindukanmu? (Ngejijiin ya? Etapi, kok gak menyentuh kayak biasanya ya?)

Selamat berkurang kontrak hidup yang ke 16 kalinya ya, Be. Jauh jarak sekolah bukan berarti kita jauh ya. Kita masih bisa kok cerita-cerita kayak masa-masa SMP dulu. Tapi, perlu juga kayaknya kita pulang berdua lagi. Aku lupa rasanya kita berbagi cerita keluh kesah gundah gulana haru biru menyayat hati dari pertama naik becak sampe akhirnya terpaksa berhenti di depan gerbang rumahmu, dan kemudian kita melambaikan tangan tak rela harus berpisah kala itu (asli, lebay).

Kurang unyu apa aku mengenang masa-masa romantis kita dulu? (hakcuih!) Jadi, have a great 16th, honey, bunny, sweetie, unyukunyuk kupret!! Semoga semua mimpi dan cita-citamu tercapai dengan cara yang halal, amanah dan juga barokah. Semoga makin macho dan menjadi wanita seutuhnya (nahloh). Kita perempuan super!
Anggi 2010
Anggi (kiri) 2011

Biarpun kejutannya failed, yang penting sensasinya! #ogahrugi. :*
“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.” 
― Muhammad Ali
Medan, harinya Bebek
11 Februari 2013

Lots of love,
Tias

Saturday, January 19, 2013

Creating Memories


Katanya, waktu bisa meluruhkan sesuatu yang telah lama dipertahankan. Tapi, nyatanya waktu hanya membuat semuanya terasa lama dan mengisi hari dengan kenangan baru untuk kemudian menggantikan kenangan lama.

Kami bertiga mulai menjalin pertemanan sejak duduk di kelas 8 SMP, kira-kira tepat 3 tahun yang lalu. Dulu, kami masih berseragam putih-biru. Sekarang, lihat kami, kami sudah menggunakan seragam putih-abuabu, dan setahun lagi kami akan menanggalkan seragam SMA ini dan menggantinya dengan almamater Universitas pilihan kami kelak. Dulu, kami melakukan hal bersama-sama, karena kebetulan kami duduk di kelas yang sama. Bahkan, kami sepakat untuk mengunakan foto yang sama sebagai profile picture di Facebook.

Seperti halnya hubungan pada umumnya, pertemanan kami tidak semulus permukaan kaca. Kami menghadapi berbagai kerikil yang memecah. Tapi, kerikil itulah yang mendewasakan kami, memperlihatkan kami tentang apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Kerikil yang membuat kami enggan untuk mengulang kesalahan yang sama.

Kelas yang terpisah membuat kami harus bertahan sekuat tenaga supaya pertemanan ini tetap ada. Berusaha menjalin komunikasi satu sama lain. Menyempatkan diri untuk sekedar bertukar sapa, entah itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Menurutku kami hebat. Di tengah usaha kami untuk menggapai mimpi, kami mencoba bertahan. Mimpi yang mungkin akan merentangkan jarak di antara kami nantinya.

Hari ini adalah kali pertama kami bersama setelah entah berapa lama. Kami mengabadikan kebersamaan kami dalam beberapa jepretan. Kerinduan yang menyeruak menghasilkan pose aneh kami. Sebelum nantinya kami akan terlalu jauh untuk sekedar menatap muka.

Teruntuk, Luh Vennasa Virginia Saraswati a.k.a Asha,

Sha, perbedaan keyakinan tidak membuat kita bertiga menjadi teman yang aneh. Tapi, hebat karena bisa klop dengan perbedaan yang ada. Dirimu yang cemerlang dengan segala mimpi yang menuntunmu menjadi orang hebat terkadang membuatku merasa jauh di bawah. Tak jarang, aku merasa malu saat harus berdampingan dengan orang yang menjadi kebanggaan guru. Makanya, aku lebih memilih untuk diam, daripada mempermalukanmu.

Sha, jangan biarkan waktu merenggut apa yang kita punya selama 3 tahun ini. Semua masalah yang kita hadapi, membuat pertemanan kita lebih berarti.

Semoga dirimu benar-benar akan menjadi salah satu mahasiswi UNDIP satu tahun lagi. Amin.

Dan teruntuk, Tamara Balqis Nasution a.k.a Tama,

Tam, tempat yang berbeda bukan berarti kita harus jauh karenanya. Tempat yang berbeda memperbanyak cerita yang kita alami. Membuat kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, baik sebagai aku, Asha, maupun sudut pandangmu sendiri. Sama seperti Asha, dirimu cemerlang, dengan mimpi yang konsisten membuatku tidak ada apa-apanya.

Tam,  jangan biarkan waktu merenggut apa yang kita punya selama 3 tahun ini. Semua masalah yang kita hadapi, membuat pertemanan kita lebih berarti.

UI menunggumu sebagai mahasiswi di dalamnya satu tahun lagi. Amin.

Terima kasih untuk kenangan yang baru. Semoga kita bisa bertahan sampai cucu kita nanti bertemu.

“Silence make the real conversations between friends. Not the saying, but the never needing to say that counts.” 
― Margaret Lee Runbeck
Sabtu, 19 Januari 2013, 07.00 pm
Masih di Medan

TS

Monday, June 11, 2012

Cerita di Balik Tembok

Tengah malam, dan saya masih terjaga di depan layar laptop yang menyala terang benderang ngalah-ngalahin bulan di luar sana. Oke, kalo dalam bahasa Indonesia, ini namanya hiperbola. Kalimat yang berlebihan, dan Allah tidak menyukai yang dilebih-lebihkan. Jadi, intinya apa? Oke, lewatkan.

Iya, iya kalimat pembuka yang panjang dan tidak memiliki inti seperti di atas memang bukan contoh permulaan yang bagus, tapi yah, beginilah hidup kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lantas, apa hubungannya? Tidak ada. Jadi, tembok di sebelah kiri saya sudah sewot teriak-teriak minta supaya langsung ke pokok pembicaraannya. Iya, tembok, bukan orang. Oiya, belum kenal ya? Mari kita berkenalan :-)
Kenalkan, namanya tembok, panggil aja mbok, bukan mbok-mbok tukang pecel apalagi tukang jamu. Permukaannya mulus, halus, tidak bergelombang dan tanpa cacat, tapi tidak begitu kalau ditinjau dari hukum pemantulan cahaya dalam ilmu fisika, karena si mbok ini selalu dinyatakan tidak rata. Harus siap-siap mental, dia termasuk benda yang mudah terbawa suasana, dingin kalau cuaca dingin, panas kalau cuaca panas. Iya, dia masih labil, masih dalam tahap pendewasaan. Nggak, dia nggak suka makan apa-apa, nggak suka minum apa-apa. Grrr, berisik! Eh, maaf, si mbok emang bawel.

Oke, kayaknya perkenalannya segitu aja ya. Sekarang kita ngomongin apa? Oh iya, iya. Si Mbok ini temen yang paling setia, paling nggak banyak cincong, di maki sampe nyebutin seluruh binatang yang ada di dunia pun dia gabakal ngebales maki apalagi ngamuk. Yaiyalaah, mulut aja nggak punya! Iye nggak, mbok? Tuh, nggak nyaut kan, tau dah emang gadenger, gabisa denger, apa pura-pura gadenger. Bahkan, tembok pun mempunyai banyak sisi untuk dikomentari :-)

Iyaloh, iya, gapenting kan? Selalu. Beginilah kalau menjadi yang terlupakan, yang ditinggalkan berdebu, yang dibiarkan merangkak sendiri, dan menjadi yang invisible. Menjadi yang tidak terlihat mungkin akan menyenangkan kalau dalam kondisi yang tepat, tapi ini realita, di mana menjadi tidak terlihat sama dengan tidak dianggap, yang sama dengan tidak berarti apa-apa, yang sama dengan worthless, yang sama dengan hmm-maaf-anda-siapa, dan itu bukan hal yang baik. Bahkan tembok pun ingin dianggap penting. Selaw mbok, I'll always be there *ngelus tembok*. Seperti yang banyak orang bilang: "Time flies, people change", apa memang seperti itu? Atau jangan-jangan mereka sama sekali tidak berubah, tapi inilah wujud mereka yang asli? Atau lagi itu hanyalah spekulasi yang diciptakan agar orang-orang berpikir tidak ada salahnya menjadi orang yang berbeda? Kalo kata orang Arab wallahualam. Ya, terkadang memang kita yang harus mengerti bagaimana keadaan mereka, yang tanpa disadari membuat kita sendiri tidak mengerti di mana kita berdiri, dan terkadang yang ingin kita lakukan hanyalah berlari mencari petunjuk, atau pun teman berbagi, setidaknya kita tau kalau kita tidak sendiri. Bukankah begitu? Kalau salah, ya harap maklum, namanya juga manusia. Oh, mungkin tidak bagi kalian, kalian benar. Mari kita ralat: ya harap maklum, namanya juga saya manusia yang tergambar seperti yang di atas itu.

Entahlah, mungkin memang aku yang berpikiran terlalu rumit, mungkin kalian memang sedang mempunyai kesibukan sendiri, yah, dalam jangka waktu yang lama, mungkin kita memang berbeda paham, mungkin tanpa disadari kita telah berbeda arah sejak lama, dan sekarang kita sudah terlalu jauh. Tidak, bukan hanya kalian, aku tau kalau aku juga demikian, maaf untuk itu. Yang aku tanyakan, apa masih ada jalan pintas ke tempat yang kau tuju di sekitar sini? Setidaknya kita tidak harus berjauhan, setidaknya aku tau aku masih memiliki seseorang untuk menarik tanganku kalau-kalau aku terperosok ke jurang, dan setidaknya aku bisa berjalan dibelakang kalian, atau mungkin berdampingan. Apa kalian juga memiliki pikiran yang sama? Tidak? Oiya, aku lupa kalau kalian sudah menemukan tujuan :-)

Tidak bisa dipungkiri aku merindukan saat di mana aku tertawa selepas-lepasnya, berbicara seterang-terangnya, berteriak sekeras-kerasnya, bahkan menangis sejadi-jadinya dihadapan kalian. Entah kalian merindukannya atau tidak, yang jelas aku sangat merindukannya. Ingat tidak, kita sama sekali tidak membiarkan jarum jam itu bernafas di sela-sela perbincangan kita? Iya, karena kita selalu menimpalinya dengan ocehan anak SMP. Bagus, sekarang aku bingung apakah harus tertawa atau menangis mengingatnya. Kita sama-sama sadar kalau kita tidak seperti dulu. Sangat jauh berbeda, nggak tau berapa derajat bedanya. Mungkin kita memang berjalan di rute yang berbeda, tapi kalian tau di mana bisa menemukanku, dan ke mana bisa menghubungiku. :-)

Duh, si Mbok mulai sewot lagi, katanya makin larut kok makin mendayu melambai nyiur di pantai. Iya, tau, emang gak lucu kok. Yasudah deh, udah kepanjangan juga ceritanya. Terima kasih telah membuang waktumu yang berharga ☺

Note: Miss you so sa, tam, be, yul *hugs and kisses*