Pages

Showing posts with label Future. Show all posts
Showing posts with label Future. Show all posts

Tuesday, September 1, 2015

Satu Tahun (Penghujung Abu-Abu III)

Satu tahun lagi terlewati dengan aman sentosa.

***

Genap setahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu. Dalam jangka waktu itu pula saya menyandang status sebagai mahasiswi. Tidak lagi berbagi meja dengan Hilda, tidak lagi menelan mata pelajaran yang mengulas semua bidang sains. Sekarang saya di sini, mengambil jalan yang telah saya pilih beberapa hari tepat sebelum angket pemilihan jurusan dikembalikan ke bidang kurikulum sekolah.

Tahun ketiga saya sebagai siswi sekolah menengah atas terbilang santai. Di saat orang lain menyibukkan diri dengan bimbingan belajar dengan dalih mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas, saya memilih untuk mempersiapkan sendiri—dengan bantuan teman saya yang juga mengikuti bimbingan belajar. Saya hanya mengikuti bimbingan untuk memperdalam ilmu Kimia saya, entah kenapa, itupun hanya satu semester. Selebihnya, saya terus merecoki teman saya itu.

Tak banyak perubahan dalam pergaulan saya di kelas. Sedikit banyak, saya mulai membuka diri namun tetap membuat jarak. Saya lebih banyak menolak ketimbang mengiyakan ajakan mereka untuk sekedar makan bersama. Entah kenapa saya masih merasa asing. Tapi, tetap, bukan berarti saya membenci mereka. Saya hanya merasa...berbeda.

Tahun ketiga juga berarti melepas jabatan yang saya sandang di ekstrakulikuler yang saya geluti. Bagian ini yang paling berat sebenarnya. Selama 3 tahun kami berusaha untuk saling menerima, bukan sedikit waktu yang saya bagi bersama mereka. Sampai bosan rasanya. Ritual serah-jabatan bukanlah agenda yang saya sambut secara suka cita. Dengan melepas jabatan seolah menjadi lampu kuning—kami akan segera meninggalkan kelompok ini. Sekali lagi kami berdiri di hadapan adik-adik yang kelak akan memegang kendali yang telah setahun kami pegang, menghujani mereka dengan petuah-petuah dan harapan kami kedepannya. Kami terlalu menyayangi persaudaraan ini. Tapi, toh kami tetap harus bergerak maju.

Saturday, April 19, 2014

Mimpi Melanggar "Teritori"

Katanya, hidup berawal dari sebuah mimpi. Banyak persepsi tentang mimpi itu sendiri. Beberapa orang mengatakan, “Jangan bermimpi terlampau tinggi, kelak jatuh akan mendalam sakitnya.”, beberapa ada pula yang seolah menjawab pemikiran pertama, “Bagaimana kita tau bangkit, jika tak pernah jatuh sebelumnya?”, beberapa lagi malah mengatakan, “Gantungkanlah mimpimu setinggi-tingginya, karena percayalah kamu tidak akan jatuh sedalam-dalamnya.”. Atau yang lebih menggelikan, mereka yang menghadang mimpi orang lain, entah itu dengan kata, maupun tindakan.

Terkadang saya merasa lucu sekaligus prihatin melihat orang yang menertawai mimpi orang lain hanya karena mimpi itu berada di luar lingkarannya. Layaknya sebuah lelucon yang mustahil dan tidak masuk akal, mereka tertawa atas mimpi yang setinggi langit itu. Katakanlah mereka yang tertawa itu adalah orang yang merasa dirinya mampu atas segala hal, pun mimpi orang lain dia yang mengatur. Apa mereka harus bertindak sekejam itu? Bukankah mimpi itu harusnya indah dan tanpa beban? Kita bebas untuk menggantung mimpi di bentangan langit, di samping itu, yang perlu kita lakukan hanyalah mengusahakan agar mimpi itu tidak menjadi sekedar mimpi. Mereka yang tertawa sesungguhnya telah menghilangkan estetika sebuah mimpi. Membuatnya menjadi buram, tampak jauh di atas, sehingga si empunya mimpi tak mampu meraihnya. Seharusnya mereka yang tertawa itu mengasihani diri mereka sendiri karena tidak mampu bermimpi setinggi orang yang bermimpi di luar batas.

Sunday, September 15, 2013

Turning 17!

Assalamualaikum!

Selamat tanggal 15 semuanya! Alhamdulillah, masih diizinin buat bernafas di bumi-Nya. KTP baru!! *eh

Jatah hidup udah bekurang, tapi masih banyak yang harus dikejar, masih banyak yang harus dibenahi, masih banyak mimpi-mimpi berserakan yang harus diwujudkan. It's 17. Umur udah nambah 1, tapi apa yang sudah saya lakukan sejauh ini? Saya rasa belum banyak yang berarti. Perjalanan saya menuju 17 tahun memiliki persimpangan yang menjebak. Saya bertemu dengan orang-orang yang menjadikan pemikiran saya seperti sekarang, menjadikan hati saya begini, dan menempah saya menjadi orang yang seperti ini.

Sekarang saya tidak menyesal atas apa yang telah terjadi sebelumnya. Karena, kalau semuanya tidak terjadi seperti apa yang sudah-sudah, saya rasa yang menulis ini bukan diri saya yang sekarang. Saya bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang hebat yang mengubah pandangan saya. Siapa pun kalian, di mana pun kalian berada, bagaimana pun keadaan kalian, terima kasih.

Terima kasih, atas segala ucapan dan doa yang dihantarkan untuk saya, sekalipun rata-rata doanya "jodoh", padahal saya butuh lebih banyak doa tentang "UN" dan "PTN", saya tetap berterima kasih. *gak tau diri* XD

With love,
Tias Septilia

Saturday, August 31, 2013

The August

Assalamualaikum. Alohai!

Agustus sudah di ujung tanduk. Melelahkan sekali Agustus tahun ini. Saya ngos-ngosan, bukan secara harfiah.

Di bulan Agustus inilah saya dihadapkan oleh kenyataan yang entah menyenangkan atau menyeramkan, saya kelas XII SMA dengan kurikulum yang baru. Bayangkan saja, hari SABTU harus pulang kayak hari biasa. Menyenangkan sekali. Seakan belum cukup buruk, saya teringat kalau saya akan menjalaninya selama 2 semester. Tapi, ya jalani aja. Itu yang dikasih Tuhan.

Friday, August 16, 2013

Hidayah dari Jawa

Assalamualaikum, Dunia!!!

It's a very very very late post. Tapi, gakpapa deh, sudah terlalu banyak yang ingin saya ceritakan, sangking banyaknya saya sampe lupa apa yang mau saya tulis.

Jadi, selama 1,5 bulan merantau di Jawa, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga serta hidayah yang menyadarkan saya. (Duh, bahasanya apa banget). Semakin lama saya di Jawa semakin besar pula rasa sayang saya terhadap kedua orangtua dan kakak-kakak saya. Sulit membayangkan bagaimana hidup sendirian tanpa mereka.

Sunday, June 9, 2013

Perjalanan 54

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk pulang sendiri. Tidak mencoba untuk menghubungi orang rumah dua kali hanya untuk menjemput saya di depan jalan. Saya rasa, saya bisa memulai untuk tidak merepotkan orang lain dengan pulang sendiri.

Satu-satunya angkutan umum yang bisa mencapai daerah rumah saya dengan jarak terdekat hanya angkutan dengan nomor 54, dengan pintu masuk dari belakang, angkutan yang sudah tergolong jadul dan tinggal menunggu rubuhnya saja. Itu pun, saya masih harus berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit untuk sampai ke rumah. Saya jadi memiliki waktu untuk berenang dalam pikiran saya yang berjelimet.

Hari itu, saat angkutan umum yang saya tumpangi sedang berhenti, atau istilah jalanannya "ngetem", seorang nenek naik, saya yang saat itu duduk di deret kanan dekat pintu masuk, bergeser ke kanan, mempermudah si nenek untuk duduk. Beliau sendirian. Tapi, tidak terlihat kesepian, beliau sesekali bergurau dengan saya, bercerita tentang pasar hari itu. Senyumnya tulus, saya terhenyak. Saat angkutan yang saya tumpangi mulai berjalan, sesekali saya mencuri pandang ke nenek di sebelah saya. Mungkin usianya sudah 70 tahun atau mungkin lebih. Tapi, senyumnya tidak pudar seiring fisiknya. Tangannya terlihat tua, kulitnya keriput, tapi masih terasa kokoh saat menyentuh tangan saya. Tak lama, beliau turun.

Selang beberapa meter, kembali naik penumpang. Kali ini kakek yang naik, sendirian. Beliau tidak jauh berbeda dengan nenek yang saya temui sebelumnya. Beliau memiliki senyum yang tidak pupus termakan usia. Beliau masih kuat untuk berjalan sendirian. Mungkin karena beliau laki-laki.

Saya sempat berpikir, apakah saya akan melewati masa senja saya sendirian seperti kedua orang tua yang saya temui kemarin? Atau apakah Ayah atau Ibu saya akan berjalan sendirian seperti mereka? Apakah nanti saya akan menemukan Ibu saya naik angkutan umum tanpa ada anak-anak atau cucunya? Apakah nanti saya akan menemukan Ayah saya kebingungan di pinggir jalan karena jalanan ramai sedangkan beliau tak lagi lincah? Apakah orang-orang yang berbicara dengan Ibu saya akan menaikkan alis dan menghela nafas saat Ibu saya tidak lagi memiliki daya dengar yang baik?

Apakah saya masih bisa berada di samping mereka untuk setidaknya membimbing mereka menyeberangi jalan seperti yang mereka lakukan saat saya masih kecil? Apakah saya bisa membuat senyum mereka terselip di antara guratan kehidupan di wajah mereka? Apakah saya sudah mampu melunasi setidaknya separuh dari seluruh yang mereka berikan kepada saya? Apakah saya masih bisa berbaring di antara kedua orang tua saya walaupun rambut mereka tak lagi hitam legam?

Saya hanya ingin mencintai mereka sampai waktu yang tak terjamah. Saya sadar, semenjak saya duduk di bangku SMA, waktu saya lebih banyak di luar, dibanding di rumah. Bahkan di rumah pun, saya lebih memilih di kamar. Seperti sekarang ini, saya merasa apa yang saya berikan belum pantas untuk dikata cukup membahagiakan mereka. Saya yang tadinya ingin melukis garis tawa di sekitar bibir mereka, malah menambah garis lekuk di kening mereka. Saya hanya ingin mereka tau, sekalipun saya memikirkan orang lain, mereka adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya.

Medan, dalam satu atap kokoh,
Salam,
Anak terakhir kalian, Ma, Pa,
Yas

Wednesday, May 29, 2013

Perjalanan Pulang

Assalamualaikum.

Katanya, setiap orang bisa merasa jenuh. Mungkin jenuh karena kegiatan yang itu-itu saja. Mungkin bosan dengan pola hidup monoton yang dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun. Katanya, kejenuhan bisa diatasi tergantung dari cara kita menikmati apa yang kita jenuhkan itu. Hidup, misalnya?

Semua rutinitas yang terjadi, pada akhirnya akan mencapai kata "pulang". Kata yang mengundang sorak sorai pelajar dengan mata berat, apalagi kalau ada embel-embel "cepat" dibelakangnya. Kata yang membuat kita bisa kembali bernapas setelah beberapa saat menahannya. Kata yang membuat kita membayangkan rumah. Ketuk pintu, ucap salam, menghampiri orang tua, cium tangan, bergegas ke kamar, atau mungkin sambil mencomot perkedel yang baru digoreng, kemudian ganti baju, sejenak rebahan di atas tempat tidur, memereteli penat dan lelah setelah satu harian diluar. Menikmati langit-langit kamar, semilir angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Mungkin sedikit mencuri lelap.

Terkadang, pulang tidak selalu berarti ke rumah. Ada yang berteriak, "Aku pulang, ya!", nyatanya dia hanya keluar pagar dan duduk di warung nasi. Terkadang, pulang hanya menjadi alasan untuk lari.

13.45 adalah harapan. Tarikan nafas kelegaan. Bel yang berbunyi nyaring seiring dengan dentuman jantung, terasa lebih merdu saat siang. Banyak yang terbayang pada "pulang". Latihan. Musholla. Perjalanan panjang ke rumah.

Dalam setiap langkah pulang, selalu ada cerita yang terjalin. Ketika tumit sepatu mencumbu aspal panas, selalu ada alasan yang membuat kita untuk terus bergerak memberi napas pada sol sepatu karet. Ketika terik menembus kulit, selalu ada alasan yang membuat kita terus bergerak membelah hari. Ketika angkutan umum tak kunjung tampak, selalu ada alasan yang membuat kita tetap menunggu. Pulang seolah memberi harapan baru.

Pulang seperti mengoreksi diri. Apa yang sudah dilakukan, apa yang telah dipelajari, siapa yang dijumpai, apa yang terjadi, apa yang dikatakan. Seperti menilai perjalanan satu hari. Tentang persimpangan yang telah dilewati, batu yang dilompati, jalan yang dipilih, pelajaran yang didapat, dan tentang konsekuensi. Pulang membuat kita berpikir tentang hari esok. Pulang juga berarti bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk membuat resolusi yang lebih baik, untuk kembali bermimpi dengan harapan yang masih segar.

Karena setiap hari adalah pelajaran.

Medan, tepat di sebelah tembok,
Yas

Wednesday, May 22, 2013

Perjalanan Pergi

Assalamualaikum.

Katanya, kalau sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan, lambat laun kita lupa alasan awal kita melakukannya. Seperti halnya bangun pagi. Kita hanya tau kalau kita harus bangun pagi. Kalau alasan anak sekolah, supaya bisa tepat waktu ke sekolah. Kalau alasan Mama mungkin beda. Beliau harus masak, beresin meja makan, bangunin anak dan suaminya. Setelah itu lanjut beres-beres rumah.

Jadi, setiap pagi selama nyaris 17 tahun ini, Mama adalah perempuan multi-talented, kalau bisa dikatakan begitu. Mungkin aneh, cupu, atau apalah, kalau anak kelas 2 SMA masih dibangunin emaknye. Tapi, bukankah ada rasa syukur waktu bangun tidur, yang pertama kita lihat adalah perempuan terhebat sepanjang masa?

Rutinitas yang sama setiap harinya. Bangun pagi, lihat tampilan muka di cermin sebentar, mandi, ganti baju, sarapan, pergi sekolah, pulang sekolah, mandi, tidur, bangun lagi, dan begitu seterusnya, dengan selipan ibadah wajib 5 waktu (walaupun lebih sering bolong). Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada bunga-bunga penghias di beberapa perhentian. Bunga-bunga yang mungkin akan kita sadari saat sudah berada cukup jauh. Atau bunga-bunga yang memiliki duri yang menusuk sampai ke ulu hati.

Nah, sebenernya, yang jadi pembahasan kali ini adalah perjalanan pergi. Bagaimana sebuah pagi menjadi judul baru atau bahkan bab baru. Terpaan sinarnya menjadi tinta segar yang melukiskan pelajaran. Bagaimana perjalanan 20 menit menuju sekolah membuat kita sejenak berpikir tentang apa yang harus dilakukan, tentang apa yang sebaiknya diucapkan, tentang penyelesaian alternatif saat sebuah situasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tentang orang-orang yang akan kujumpai hari itu. Tentang pelajaran yang harus kutaklukkan hari itu, tentang tugas yang terlambat kuserahkan. Tentang jadi apa aku setelah kutanggalkan seragam SMA-ku. Tentang sebuah harapan yang pertumbuhannya ada ditanganku, dalam keyakinanku, dalam keoptimisanku menjaganya. Tentang sebuah kisah yang kuharapkan permulaannya. Tentang pertemanan yang sedang kuusahakan selama hampir setahun berjalan. Tentang aku yang kemarin. Semuanya dalam 20 menit.

Perjalanan yang merupakan sebuah awal untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang mampu menerima dirinya sendiri dengan lingkungan lain. Perjalanan untuk lebih mengerti apa yang harus dan tidak boleh. Tentang pilihan juga. Perjalanan yang menyimpan banyak persimpangan. Perjalanan yang memberikan waktu untuk sejenak berpikir akan jadi apa aku kelak. Perjalanan yang tak terduga ujungnya, apakah sebuah ladang hijau dengan matahari tersenyum di sudut kanannya, atau jurang curam tiada berdasar?

Perjalanan yang awalnya kita tentukan sendiri. Akankah kita bahagia hari itu, atau hanya sekedar melanjutkan rutinitas biasa tanpa menanam benih bunga di setiap persimpangan? Karena Tuhan yang Maha Menentukan, tergantung kita menanggapinya dengan cara apa. Apakah bersyukur, atau mengeluh sepanjang perjalanan sampai lupa untuk memperhatikan nikmat terkecil yang diberikan?

Karena bahagia itu sederhana.

Medan, sudut kamar
Yas.

Friday, April 12, 2013

Sudah

Kalau seandainya aku memutar kepalaku ke belakang, aku hanya sekedar memastikan sudah sejauh mana aku menggerakkan hatiku. Apakah aku sudah cukup jauh darimu untuk kunyatakan aku telah bergerak, kali ini benar-benar bergerak. Tapi, sepertinya aku menolak kemungkinan kepalaku akan terkilir karena melihat ke belakang. Bukankah begitu?

Kalau seandainya aku secara tidak sengaja tersentak akan sesuatu tentangmu, itu bukan lagi berarti aku masih berusaha meraihmu, melainkan karena aku sadar dirimu tak lagi terjamah tanganku. Karena untuk mengenangmu, aku memilih "pernah" alih-alih "masih".

Dari sekian banyak hal yang terjadi silih berganti setiap harinya, aku masih bisa memalingkan muka atau sekedar mengernyit saat orang membicarakanmu. Bukan berarti aku tidak bisa mengenyahkanmu dari pikiranku, hanya saja aku heran pada dunia yang terus menerus menjejali atmosferku denganmu.

Bukan maksudku menghubungkan segala sesuatunya denganmu, tapi rasanya semua hal memang bermuara padamu. Tapi, bukankah memang seperti itu permainan dunia?

Medan, Persimpangan.
Mata memicing tajam,
Yas

Monday, February 18, 2013

Komburita


“Always bear in mind that your own resolution to succeed is more important than any one thing.” 
― Abraham Lincoln
Assalamualaikum! Tidak ada yang lebih menyenangkan selain ngelewatin satu program!! Alhamdulillah Komburita sukses untuk yang kedua dan yang ketiga kalinya. Terima kasih atas doa dan dukungannya, pementasan kami gak ada apa-apanya tanpa doa dan dukungan para alumni, penonton dan semua yang terlibat di dalamnya, baik pelatih, pembina, pengurus, koordinator sama anggota lainnya.

Ternyata kita bisa menggemparkan Taman Budaya sekali lagi. Rasanya, antara terharu sama gak nyangka kalo mampu hehehehe. Pementasan kali ini sekaligus menyambut hari jadi Temuga yang ke 14 tahun. Kira-kira masih SMP lah, bentar lagi SMA.

Jadi, inilah keluarga Komburita, ada sang Raja, Liu-liu, Ibu Suri, Mentri, Peramal, Guru, Rakyat, Hulubalang, Penari, Leka, Dayang-dayang, dan Dukun.

Komburita
Setelah salam teater yang terakhir rasanya lega, seneng karena bisa lancar. Ternyata tidak terlalu mengecewakan. Ya, moga aja bisa lanjut ke tahap nasional. Amin.

4 hari pulang malam terbayarkan sudah. Sebenernya, yang buat semangat dipanggung itu tetep ada adalah semangat dari penonton. Kalo penontonnya meriah, pasti langsung seger hahahaha

Di sini aku jadi guru darah Batak, tapi marganya nama penyakit alih-alih marga Batak. Nyedihin memang ya-_-. Aku sama Ririn berdua jadi guru, bedanya Ririn darah Jawa. Kami bantu Hulubalang nyari tempat persembunyian Leka supaya bisa nemuin calon istri si Raja, Liu-liu. Kami berasa Dora versi teatrikalnya.

Guru beserta peta :P
Terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktunya buat nonton pementasan kami ini. Semoga kita bisa mempertahankan Taman Budaya beserta kreasi di dalamnya.

Dan, selamat ulang tahun untuk Temuga yang ke 14 tahun. Semoga tetap bisa menjadi Teater Pelajar di jalan yang benar, semoga kita bisa tetap bertahan dalam kondisi yang paling parah sekalipun. Semoga silaturahmi antar anggota dan alumni bisa tetap terjaga.

Akakis!!
“You’re not obligated to win. You’re obligated to keep trying. To the best you can do everyday.” 
― Jason Mraz
Medan, 18 Februari 2013
Seragam masih melekat di badan,
Salam budaya,

TS

Sunday, February 10, 2013

Merajut Mimpi

Hai, selamat pagi, selamat hari Minggu!

Semalam dapat kiriman buku dari Mbak di Jogja tentang panduan akademik gitu. Setelah liat isinya agak ter-wah-wah. Ternyata materinya nggak sedikit. Coba ngeliat ke Pertanian, eh kok ada fisikanya, emang nanem toge harus pake momentum sudut ya? Ilmu Budaya sama Komunikasinya bikin ngiler HAHAHA tapi ntar repot, duh derita.

Panduan Akademik 2009, Program Sarjana
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Cita-citaku apa juga belum jelas, jadi gimana mau mantepin kedepannya, yakan? Tapi, untuk yang satu ini harus yakin, kalo gak kesampean ya mungkin emang nggak rejekinya di situ. Ada magnetnya sih yang narik kesitu :p Ah, udah ah hahaha


Oh iya, tadi pagi ada gethuk, terus Mama bilang gini "Dek, ini makan, ntar di Jawa kamu makannya ginian semua.", amin deh amin, bukan amin makan itu, tapi, amin ke Jawanya :p

Tapi, bener, pengennya kesitu, berarti mulai sekarang harus dipersiapin nilai sama ilmunya. Kalo nggak gitu pasti kedepannya kalang kabut. Ternyata ini yang dirasain anak kelas tiga.....

Harus mulai belajar mandiri supaya ntar nggak repot tinggal sendiri di sana. Sedih ya kalo ngebayanginnya. Udah terbiasa tinggal sama Mama, ntar kalo sendiri gimana? Aduh, nggak kebayang deh. Yah, semoga aja bisa nyampe ke sana, dan nyusul Mbak yang udah lebih dulu merantau.

Semangaaattt!! *pasang ikat kepala*
“The future depends on what you do today.” 
― Mahatma Gandhi
 Medan, pagi sejuk
Cheers,

TS

Friday, February 1, 2013

It's Review Time! Hop hop

Assalamualaikum! Hai~

Kayaknya telat amat ya baru jam segini nge postnya. Tapi, mau gimana lagi, baru bisa bangkit akunya.

Akhir bulan Januari dan awal bulan Februari tekapar tak berdaya dengan gejolak dahsyat di perut. Rasanya, teramat sangat tidak menyenangkan! Ngeluarin cairan lambung yang sangat menyiksa itu nggak ada enaknya. Kasihan aku.

Ah, yasudah lah. Mari kita flashback! *tsaaah*

Januariku punya awal yang bagus, ngumpul sama angkatanku yang wah aja recoknya. Bakar-bakar makanan, berdendang dengan pedenya padahal suara kayak lomba balap karung─kejer-kejeran, disambung sama menghias langit pake percikan kembang api. Awal baru untuk kami tentunya.

Januariku juga penuh dengan kenangan yang diperbaharui. Akhirnya punya quality time yang sangat susah didapetin sama temen lamaku. Mengenang masa-masa SMP dulu emang lucu, tapi kangen. Ya, wajarlah kangen, sekarang aku udah SMA, ada hal yang gamungkin lagi aku lakuin di umur segini. Tapi, selagi orangnya masih ada, kenapa nggak memperbaharui memori kita? Ternyata kami masih punya kekuatan buat bertahan sejauh ini. *terharu*

Januariku indah. Aku sudah berusaha bergerak sejauh ini. Meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Tapi, tidak semudah meninggalkan piring kotor di rumah makan. Masih ada "hantu-hantu" yang menggelayuti langkah kakiku. Masih ada setitik ketidakrelaan. Tapi, toh untuk apa juga terus menerus diratapi?

Ohiya, ada yang ketinggalan. Januari ini juga drama radioku mengudara. One step forward! InsyaAllah lanjut terus. Amin.

Februari udah nyampe. Terus sekarang apa? Ada progja yang harus dituntaskan bulan ini. Doakan kami!

Cheers!

Medan, room sweet room
TS

Saturday, January 19, 2013

Creating Memories


Katanya, waktu bisa meluruhkan sesuatu yang telah lama dipertahankan. Tapi, nyatanya waktu hanya membuat semuanya terasa lama dan mengisi hari dengan kenangan baru untuk kemudian menggantikan kenangan lama.

Kami bertiga mulai menjalin pertemanan sejak duduk di kelas 8 SMP, kira-kira tepat 3 tahun yang lalu. Dulu, kami masih berseragam putih-biru. Sekarang, lihat kami, kami sudah menggunakan seragam putih-abuabu, dan setahun lagi kami akan menanggalkan seragam SMA ini dan menggantinya dengan almamater Universitas pilihan kami kelak. Dulu, kami melakukan hal bersama-sama, karena kebetulan kami duduk di kelas yang sama. Bahkan, kami sepakat untuk mengunakan foto yang sama sebagai profile picture di Facebook.

Seperti halnya hubungan pada umumnya, pertemanan kami tidak semulus permukaan kaca. Kami menghadapi berbagai kerikil yang memecah. Tapi, kerikil itulah yang mendewasakan kami, memperlihatkan kami tentang apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Kerikil yang membuat kami enggan untuk mengulang kesalahan yang sama.

Kelas yang terpisah membuat kami harus bertahan sekuat tenaga supaya pertemanan ini tetap ada. Berusaha menjalin komunikasi satu sama lain. Menyempatkan diri untuk sekedar bertukar sapa, entah itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Menurutku kami hebat. Di tengah usaha kami untuk menggapai mimpi, kami mencoba bertahan. Mimpi yang mungkin akan merentangkan jarak di antara kami nantinya.

Hari ini adalah kali pertama kami bersama setelah entah berapa lama. Kami mengabadikan kebersamaan kami dalam beberapa jepretan. Kerinduan yang menyeruak menghasilkan pose aneh kami. Sebelum nantinya kami akan terlalu jauh untuk sekedar menatap muka.

Teruntuk, Luh Vennasa Virginia Saraswati a.k.a Asha,

Sha, perbedaan keyakinan tidak membuat kita bertiga menjadi teman yang aneh. Tapi, hebat karena bisa klop dengan perbedaan yang ada. Dirimu yang cemerlang dengan segala mimpi yang menuntunmu menjadi orang hebat terkadang membuatku merasa jauh di bawah. Tak jarang, aku merasa malu saat harus berdampingan dengan orang yang menjadi kebanggaan guru. Makanya, aku lebih memilih untuk diam, daripada mempermalukanmu.

Sha, jangan biarkan waktu merenggut apa yang kita punya selama 3 tahun ini. Semua masalah yang kita hadapi, membuat pertemanan kita lebih berarti.

Semoga dirimu benar-benar akan menjadi salah satu mahasiswi UNDIP satu tahun lagi. Amin.

Dan teruntuk, Tamara Balqis Nasution a.k.a Tama,

Tam, tempat yang berbeda bukan berarti kita harus jauh karenanya. Tempat yang berbeda memperbanyak cerita yang kita alami. Membuat kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, baik sebagai aku, Asha, maupun sudut pandangmu sendiri. Sama seperti Asha, dirimu cemerlang, dengan mimpi yang konsisten membuatku tidak ada apa-apanya.

Tam,  jangan biarkan waktu merenggut apa yang kita punya selama 3 tahun ini. Semua masalah yang kita hadapi, membuat pertemanan kita lebih berarti.

UI menunggumu sebagai mahasiswi di dalamnya satu tahun lagi. Amin.

Terima kasih untuk kenangan yang baru. Semoga kita bisa bertahan sampai cucu kita nanti bertemu.

“Silence make the real conversations between friends. Not the saying, but the never needing to say that counts.” 
― Margaret Lee Runbeck
Sabtu, 19 Januari 2013, 07.00 pm
Masih di Medan

TS

Sunday, January 13, 2013

Memilih Masa Depan

Hai! Lama tak bersua. Jadi, aku nunggu momen yang tepat buat nge-post #thingsofthemonth edisi Januari yang ke #3. Kebetulan juga udah seminggu aku masuk sekolah. Untuk semester ini, insyaAllah aku bener-bener niat buat belajar. Ternyata nggak mudah buat ngilangin rasa muak pas lagi mandeg sama materinya.

Jadi, beberapa hari belakangan ini aku udah mulai nyari-nyari informasi tentang Universitas Negeri yang ada, berbekal informasi dari kakakku, terus dari temen-temenku juga. Waktu itu kami lagi di radio lokal daerah Gatsu, pas Maghrib, aku sama 4 temenku; Alfi, Arby, Fadlan, Randy, ngomong serius tentang jenjang selanjutnya. Kami bagi-bagi informasi tentang Universitas di luar Medan dan prospek kerjanya, sama kesempatan-kesempatan sambilan yang katanya sayang buat dilewatin. Dari perbincangan inilah, kemauanku buat ke Komunikasi agak goyah, karena kemungkinan bakal susah ngurus ke Kurikulum perkara salah jurusan. Aku terus mikir, sayang juga segala macem rumus-rumus yang buat aku megap-megap dibuang gitu aja, ya daripada nggak dimanfaatin, kenapa aku nggak nyoba buat ke jurusan yang sesuai? Tapi, dari kemarin juga aku udah mantep buat ke Komunikasi. Kebetulan pula materi salah satu pelajaran hari Kamis itu tentang pekerjaan yang sesuai. Sahlah aku nyari jalan masuk lain selain undangan. Survey via internet pun terjadi. Aku nyari dari Mbah Google dengan berbagai macam kata kunci. Nyari jurusan-jurusannya.

Sejauh ini ada tiga tujuan sih, Yogyakarta, Surakarta, sama Pontianak. Nah, yang Pontianak ini aku ragunya bukan main. Kalimantan, bo'. Ke Jawa aja cuma sekali itu pun waktu masih ingusan, nenteng dot ke mana-mana, konon pula Kalimantan yang lebih luas begitu?

Selain bicara tentang Universitas, kami juga heboh bicarain orang jenius dari Indonesia yang "gak sengaja" disia-siain sama, ehm, negara. Pernah juga sih kemarin diomongin sama guru mapel PKn di sekolah. Tapi, untuk hal ini kami membandingkan Indonesia sama negara jajahan Inggris, gimana kemajuan mereka setelah dijajah. Kenapa kita nggak bisa? Padahal kan banyak anak negeri yang punya potensi *tsaah bahasaku*.

Setelah capek ngomongin negara, kami mulai berangan-angan 7 tahun ke depan. Pas acara kumpul-kumpul, ternyata udah sarjana semua, udah jadi salah satu ilmuan hebat kayak B.J. Habibie, atau ada yang pake setelan kantoran, eh gataunya udah jadi Direktur atau Manager, ada yang jadi pengusaha, ntah itu pengusaha kantoran atau malah buka lapangan kerja buat orang lain, ya bisa jadi buka butik atau apa gitu, pokoknya udah jadi 'orang' beneran deh, orang sukses! (Lah, emang selama ini bukan orang? *ngek*). Terus, dengan bangganya bercerita tentang usaha mereka demi menduduki posisi yang berhasil mereka duduki. Pastinya, sebelum mereka menjadi orang sukses, mereka harus menempuh proses memilih waktu mau kuliah. Ilmu yang bagaimana yang mereka butuhkan buat masa depan mereka.

Intinya, buat yang masih bingung buat nentuin mau ke mana nantinya, mending dipikirin mateng-mateng dari sekarang, sebelum nanti nyesal karena salah alamat. Dipikirin minatnya ke mana, terus mau jadi apa. Jadi, dengan kata lain, kitalah yang menentukan mau jadi apa kita nanti, baru setelah itu Tuhan yang menunjukkan jalannya kalau memang itu yang terbaik. Gadak salahnya kok mimpi buat jadi orang sukses, toh semua orang punya hak buat sukses.

Selamat berjuang!
Salam Pelajar,

TS

Thursday, January 3, 2013

Bergerak


Bukan masalah pemimpi dan realistis, tapi di mana kita menghabiskan waktu lebih banyak, mana yang kita pilih sebagai hidup. Apakah rumah kue dalam naungan langit biru dengan hiasan pelangi dan matahari tersenyum di ujung kanan, serta nyanyian aves yang beristirahat dari perjalanan panjang sembari menunggu pangeran berkuda putih bersimpuh dengan penuh hormat dan rasa sayang? Atau rumah sederhana dalam naungan langit yang tidak konsisten dengan serangan radiasi matahari yang seolah-olah bergegas dari timur ke barat setiap harinya memburu jiwa dengan waktu, serta "nyanyian" orang-orang yang kadang membangun, kadang menjatuhkan yang terus berlalu lalang sembari menyaksikan orang yang datang untuk kemudian pergi meninggalkan kenangan dan hati yang harus ditata ulang?

Bukan masalah pemimpi yang meratapi dan pemimpi yang merancang, tapi ke mana pikiran kita bermuara, mana yang kita pilih sebagai tujuan. Apakah kesalahan-kesalahan yang kita harap bukan berasal dari iblis dalam diri kita sendiri, kesempatan-kesempatan kecil yang kita harap tidak pernah kita acuhkan keberadaannya, retakan-retakan yang baru kita rasakan kerusakan yang ditimbulkannya, semua yang kita lihat tanpa pernah bisa kita sentuh lagi karena sudah terjadi? Atau pembenahan untuk tidak kembali berbelok pada arah yang salah, mencari-cari kesempatan yang luput dari penglihatan, menghindari kerusakan dengan merasakan retakan kecil yang bercabang, merajut mimpi yang masih bisa kita rengkuh dan menjadikannya nyata?

Pemimpi yang realistis, yang menyadari di mana dia berpijak setelah berbagai cerita telah dia bekukan dalam ingatannya yang memiliki lubang-lubang kesalahan yang ia raba keberadaannya untuk dia waspadai saat berjalan menengadah pada impiannya. Hanya menoleh untuk sekedar bernostalgia dan menyaring pelajaran yang tersimpan. Bukankah hidup bukan hanya tentang satu hal?

Untuk bergerak atau bahkan melangkah menimbulkan keraguan dan pemikiran seperti "gimana kalo pas aku udah maju, dia tiba-tiba dateng terus nyuruh putar balik dengan iming-iming ingin memperbaiki semuanya?". Kita kan yang membuat "momen" itu ada?

Iya, postingan ini nggak ada hubungannya sama project isengku, tapi bukankah bergerak salah satu dari hal yang berkesan?

Tuesday, January 1, 2013

2013 is already here ☀



Selamat tanggal 1 Januari 2013, readers! 12 bulan penuh cerita telah berlalu, akhir sebuah serial. Bisa jadi tahun ini menjadi awal permulaan yang baru ataupun menjadi sekuel kisah yang lalu. Tapi, baik awal ataupun tidak, tahun lalu adalah kumpulan pelajaran yang akan kita praktekkan pemahamannya di tahun ini.

Tahun lalu aku tersandung banyak kerikil. Akankah tahun ini penglihatanku membaik?
Tahun lalu aku dikukuhkan dan memiliki kakak asuh, golden ticket, beserta simbol. Tahun ini, siapa yang akan aku kukuhkan dan kusematkan simbol?
Tahun lalu aku masih ragu menentukan pilihan. Apakah tahun ini aku menjadi lebih mantap?
Tahun lalu aku masih merangkak. Mungkinkah tahun ini aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri, atau bahkan terbang dengan sayapku yang ringkih?
Tahun lalu aku mengenalmu, memilikimu, dan melepasmu. Mungkinkah tahun ini aku meraihmu kembali ataukah hanya sekedar sapaan seorang kakak laki-laki kepada adik perempuannya?
Tahun lalu kakiku masih terasa lemas saat harus berpapasan dengan kisah yang terlampau lama. Mungkinkah tahun ini aku sudah bisa menantang mata yang tak pernah sanggup kutatap?
Tahun lalu aku selalu bercerita tentangmu. Apakah tahun ini kau masih tetap menjadi bahan perbincanganku?
Tahun lalu aku begitu. Akankah tahun ini aku berubah?

Terlalu banyak cerita dalam setiap tanggal. Iya, iya, lebih banyak nangisnya. Ini blog juga isinya, masyaAllah cupunya. Tapi, yah, kita tidak pernah tau berdiri kalau tidak pernah merangkak (ya tapi nggak sering-sering juga kali, yas-_-). Tahun lalu aku kembali belajar tentang melepaskan dan mengikhlaskan. Mungkin setiap tahun akan selalu ada pelajaran seperti itu. Orang-orang hadir untuk membentuk pribadi kita, bukankah begitu? Aku menikmatinya. Tapi, terkadang kita sudah terlalu berprasangka buruk sebelum menelaah pelajaran apa yang diberikan. Tidak perlu munafik, aku juga sering menutup mata akan kenyataan yang terpampang. Kita harus sering diingatkan akan hal-hal yang membuat kita bertahan sebelum akhirnya menyerah tanpa memperhitungkan perjuangan yang kita tempuh.

Rencananya, setiap bulannya aku bakal buat teks pembuka bulan seperti yang di atas itu, dan kalau ada hal-hal yang memberikan kesan dan pelajaran, sebisa mungkin aku buat perkembangannya. Mungkin dengan begitu bisa membantuku secara pribadi supaya bisa belajar mensyukuri orang-orang yang telah hadir maupun pergi, baik yang meninggalkan senyum maupun tangis. Doakan saja semoga project iseng-iseng ini bisa terlaksana ^^

Tahun ini, kami berusaha untuk menyatukan suara, mempererat genggaman tangan dan rangkulan, menyamakan langkah meniti jalan menuju prestasi dan nama baik. Kami tertawa menandakan kami siap untuk bertempur di tahun depan. Kami siap menjalankan program kerja kami. InsyaAllah kami bisa melaksanakannya dengan baik, amanah, dan memberikan manfaat kepada setiap pihak yang bersangkutan.

We are 13 \m/
Selamat tahun baru, Matahari!
Love,
T ☀

Sunday, December 2, 2012

Antara Pendidikan dan Manusia Di Sana.

Aku kembali memikirkan keputusanku untuk keluar dari sangkar. Menuntut ilmu ke Jawa yang populasinya nyaris meledak (atau sudah meledak?). Terbesit ragu yang sangat mengganggu. Sebenarnya, apa tujuanku ke sana? Aku bukan tipikal perempuan mandiri. Aku cengeng. Apa jadinya kalau sendirian di sana? Aku mengangguk yakin waktu itu, ya karena ada yang kukejar. Aku tidak pernah memikirkan yang seperti ini. Pernah sih, tapi tidak sampai terlalu jauh. Belakangan ini, kalau orang bertanya mau dilanjutkan kemana pendidikanku, tanpa pikir panjang aku langsung menyebutkan tempat yang juga menjadi tujuanmu. Bahkan, kau sudah di sana. Entahlah, aku hanya ragu.

Ah, lagipula, kalaupun kesana, aku ingin menuntut ilmu, bukan yang lain. Walaupun bukan itu tujuan pertamanya. Mengejar, kalau kata Mama. Ya, memang. Lah, sekarang? Ragunya luar biasa. Apalagi kemampuan belajar yang tidak memungkinkan. Jangankan untuk kesana, memikirkan bagaimana bisa tuntas untuk semua mata pelajaran yang diujiankan besok saja sudah tidak tau bagaimana nasibnya. Selalu berusaha untuk fokus, tapi hasilnya nihil. Cabang pikirannya sudah terlalu banyak. Padahal, pengen buat Mama sama Papa bangga waktu pembagian rapor. Tapi, ya itu. Entah emang banyak godaannya atau dasar akunya yang gapunya kekuatan buat positif jadi kebanggaan.

Kalaupun aku menyusulmu, aku terlalu takut melihatmu lagi. Tidak mungkin kau belum menemukan yang lain. Pasti sudah. Nah, kalau lagi aku melihatmu bersama yang lain, aku harus apa? Terlalu menyesakkan untuk sekarang ini.

Yasudahlah, kudoakan saja semua yang terbaik untukmu.

Monday, November 26, 2012

10 Menit untuk Masa Depan

Akhirnya, tugas untuk nilai ujian Conversation kelar. Baru punya waktu hari ini, dan langsung terjun ke pusat perbelanjaan ternama di Medan demi berburu "bule". Bukan, bukan Bule' Yati, Bule' Tumiyem, atau Bule'-bule' yang lain. Tapi, native speaker. Setelah beberapa menit berputar, berhentilah kami di depan sebuah coffee shop, sekedar mengintip buruan. Ada. Sendirian. Bagus. Berbasa-basi sejenak, kemudian menanyakan pertanyaan standar. Aslinya manusia USA. Ternyata eh ternyata, seorang guru sekolah tinggi swasta di daerah Gatsu. Tau gitu nggak perlu ribet-ribet cuap-cuap bicara bahasa Inggris. Tidak butuh waktu yang lama bagi kami untuk berbincang, karena dia pun hanya menjawab sekenanya. Tidak mencapai batas waktu yang kami inginkan. Oke, yang satu ini dijadikan cadangan saja.

Setelah berunding dengan anggota yang lain, kami sepakat untuk berburu lagi. Setelah berulang kali naik-turun eskalator, mondar-mandir, celingak-celinguk, masih belum ketemu. Susah memang menemukan orang asing di tempat yang strategis untuk di wawancarai. Beberapa dari mereka duduk di dalam restoran yang cukup mahal, kami pun berpikir ulang, mana mungkin masuk hanya sekedar untuk wawancara tanpa memesan salah satu dari menu mereka. Bisa dikira kurang ajar, terus diusir. Kami memilih diam dan memperhatikan. Sebenarnya, ada 2 orang asing di dekat tempat kami berdiri. Ayah dan anaknya. Tapi, tidak, terima kasih. Mukenye sangar bos. Lebih baik cari jalan amannya saja.

Kami kembali berkeliling. Oke, dapat. Kali ini sudah cukup berumur. Laki-laki, di kelilingi Ibu-ibu Indonesia sekitar 3 orang. Kami mengikuti mereka untuk mencari tempat yang pas untuk dijadikan tempat berbincang. Namun, kami lebih terlihat seperti penguntit dibandingkan siswa yang berusaha menyelamatkan masa depannya. Berhentilah beliau di depan book store di pusat perbelanjaan tersebut. Setelah bergelut dengan pikiran masing-masing, kami nekat mengganggu ketenangan "bule" yang kami targetkan sejenak. Kami berbicara pada salah satu dari Ibu-ibu tadi yang tetap tinggal bersama target kami, selagi 2 lainnya ngeloyor pergi menyelamatkan diri dari sergapan 6 anak SMA yang masih berseragam batik. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kami mengganggu mereka, kami meminta izin untuk mencuri 10 menit dari waktu yang mereka punya. Mereka setuju. Bagus. Mereka tidak tau kalau mereka telah menyelamatkan 6 anak muda Indonesia dari masa depan yang suram.

Beliau seorang Belanda. Datang untuk mengunjungi keluarganya di sini. Kami beruntung bisa bertemu dengan orang yang mau berbagi pengalaman dengan anak SMA yang berisik seperti kami. Di sela-sela jawabannya, beliau bercerita dan saya menangkap beberapa kesan dan pelajaran. Beliau mengatakan, dia menyukai anak muda Indonesia seperti kami, yang ramah dan mau berbicara kepada orang asing. Karena, di beberapa negara yang dia ketahui, tidak ada orang yang mau sekedar menoleh untuk membalas sapaan, tidak seperti orang Indonesia. Beliau juga mengatakan bahwa kami adalah aset negara. Dengan senyumnya dia berkata kepada setiap dari kami, "For you all, he could be a President, she could be a President.", dan pada saat melihat ke arah saya, dia menepuk pundak saya, dan berkata sekali lagi, "and you, also could be a President.". Secara tidak langsung, beliau mengatakan bahwa setiap anak muda di Indonesia memiliki potensi menjadi pemimpin.

Yang membuat saya tergelak adalah ketika kami menanyakan tentang tempat di Medan yang menjadi favoritnya. Na'as sekali, beliau menjawab tidak tau, karena selama beliau berkunjung ke  Medan, dia tidak menemukan taman yang indah, tempat bagi turis untuk dikunjungi, yang ada hanya tempat perbelanjaan seperti tempat kami berjumpa tadi. Setelah saya pikir, memang sedikit tempat yang saya ketahui bisa menjadi daya tarik turis mancanegara seperti beliau. Hanya beberapa tempat seperti di kawasan Kesawan. Namun, beliau tau tentang tari tradisional Batak. Kesan yang didapatnya sangat bagus, dia menyukainya karena gerakan tari yang lembut dan unik, beliau menikmatinya saat berkunjung ke Toba.

Tidak hanya itu, dia juga berpesan kepada kami untuk terus mengasah kemampuan berbahasa kami. Karena, dengan berbahasa bisa membawa kita kemana saja, berbicara dengan siapa saja. Dia benar.

Selama 10 menit itu, banyak pelajaran yang yang bermanfaat bagi kami. Memberikan kami gambaran tentang pandangan turis mancanegara mengenai kota yang saya tinggali selama belasan tahun ini, dan 10 menit yang dia luangkan telah menyelamatkan kami dari ancaman tidak lulus mata pelajaran yang bersangkutan yang bisa mempengaruhi rata-rata nilai dan berpengaruh untuk seterusnya. Untuk saat ini, kami aman.

Thank you for your time, Sir. We glad to met you.
*saya akan merampungkan cerita ini setelah mendengarkan kembali wawancara kami.

Catch your dream, Young People!
Love,
T

Sunday, January 8, 2012

Inilah Kenyataan, Sodara-sodara!

Yooo! Salam pelajar! \m/
Besok tanggal 9 *ngucap*. Masuk sekolah awak iya? Cemni lae? Agak-agak gak rela pisah dari bantal tercinta, tapi ya apa mau dikata, waktu mengacaukan segalanya! *eaa*
Semester dua ini bos, gamaen-maen, kalo gak serius dari kelas satu ini, maulah pontang-panting pas tahun selanjutnya. Tapi pun, pas mau serius yekan banyak kali godaannya-_-
Itu nilai di rapor minta direnovasi semua *nepok jidat*. Tapi, setelah dipikirin sampe jungkir balik, kalolah ini otak dipaksa mikir, dipaksa kerja ngingat ini itu segala macem, yang ada malah denyut, sakit kepala, enaknya? Tidur. Yah cemanalah, bukan otak einstein lah pulaknya. Terkadang yekan, kalo ngeliat orang yang dibangga-banggain guru, dibilang dia cepat nangkep materilah, rasa ingin taunya tinggilah, apalah, rasanya pengen kali nama kita yekan yang disebut-sebut. Udah gitu, kadang-kadang pun, bukannya makin terpacu buat ngimbangi si anak bintang itu, yang ada nyali pun surut. Rasanya, gadak apa-apa dibanding dia. Ya, taulah otak manusia.
Yaaah, tapi, mau nggak mau, suka nggak suka, toh tetep harus dijalanin, udah tuntutan kalo mau jadi orang.
Sebenernya sih nggak segitu malesnya juga mau masuk besok, ada senengnya. Tapi, sikit. SIKIT. es i ka i te. Paling jumpa kawan, ada bahan buat dilece *eh?-_-v, bisalah buat ketawa bentaran. Biar gak miris kali hidup hahahaha!
Yasud laya, capek pun ngoceh malam. Macem ada aja yang baca tulisan ini yekan-_-
Salam pelajar \m/ yoooo!

Sunday, January 1, 2012

Happy New Year!!!

First day on 2012.
Pukul 00.00 terasa lewat gitu aja. Ngarepnya sih ada yang beda gitu. Tapi, ya sudahlah. Nasi telah menjadi bubur yang gadak rasanya sama sekali *hiaiks*. Cuma beberapa orang yang ngucapin selamat atas pergantian tahun yang udah lewat itu secara langsung. Sebatas sms aja sih (disini udah masuk hitungan secara langsung, yak). At least, mereka ingat, terima kasih untuk itu ☺
Gadak perayaan yang meriah, aku cuma duduk di depan layar berwarna dengan gambar yang bergerak. Nonton tv dirumah. Perayaan yang menarik. Gakpapa, setidaknya Tuhan masih ngijinin aku buat ngerasain tahun yang sekarang.
Selang beberapa menit, sms yang ditunggu masuk. Hahahaha. Ada kelegaan tersendiri pas baca.
Dan seperti malam sebelumnya, aku gak bisa tidur, ntah kenapa perasaan selalu gaenak kalo nutup mata, seolah-olah takut gak akan bisa bangun lagi. Ngeri. Debar gak keruan, nafas pun sesak. Nyoba buat berpikir positif, semacam "alah paling cuma takut-takut biasa aja", dan nunjangin semua pemikiran buruk. Tentang apapun. Sempat kalang kabut juga nyari temen buat ngobrol supaya takutnya ilang.
Satu jam. Gak tenang-tenang juga. Terakhir ngantuk sendiri, terus yak saya pun tertidur. Untungnya, masih dikasih kesempatan buat bangun. Liat hp. Kaget di sapa seperti itu. Hahaha dasar perasaan, mikirnya langsung kemana-mana.

Yak, inilah tahun baru versi ku. Selamat tahun baru!! Semoga bisa jadi manusia yang lebih baik kedepannya.
\m/