Pages

Wednesday, June 20, 2012

Hmm, hai. Sudah memasuki akhir bulan, dan yah seperti biasa, semuanya berantakan. Maksudku, benar-benar semuanya. Lucu, ya, menderitanya terjadwal. Kalo mau ketawa, ketawalah.
Ilangnya bertahap dia, satu satu, tapi pasti. Entah emang udah nggak cocok, udah nggak sepaham, udah nggak sejalan, atau memang akunya yang gatau diri, gataulah. Aku pun lucu yakan, heboh bolak balik minta maaf, tapi tetep dilakuin lagi. Gatau ngerasa gimana ya, yaa ngerasa macem orang yang paling...gak guna mungkin hahaha

Tadi pagi, jatuh tepelanting, untungnya dengkul duluan yang kenak lantai, bukan kepala, jadi ya aman. Refleks terucap 'kalo pun aku kenapa kenapa kelen gak bakal tau kan?'. Udah lama sebenernya kalimat menyeramkan itu mondar mandir di kepala. Tapi, bener. Gak ada yang mau repot-repot nyari tau. Iya, kan? Kalo salah ya maap. Ya ampun, anak-anak kali aku ya, iss! Entalawe -_-
Aku pun sekarang bingung mau nangis sama siapa, sama si mbok ini gamungkin (re:cerita di balik tembok), tengik kali dia gamau ngasi solusi. Yaaaaudahlah, tahankan ajalah yakan hahaha

Monday, June 11, 2012

Cerita di Balik Tembok

Tengah malam, dan saya masih terjaga di depan layar laptop yang menyala terang benderang ngalah-ngalahin bulan di luar sana. Oke, kalo dalam bahasa Indonesia, ini namanya hiperbola. Kalimat yang berlebihan, dan Allah tidak menyukai yang dilebih-lebihkan. Jadi, intinya apa? Oke, lewatkan.

Iya, iya kalimat pembuka yang panjang dan tidak memiliki inti seperti di atas memang bukan contoh permulaan yang bagus, tapi yah, beginilah hidup kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lantas, apa hubungannya? Tidak ada. Jadi, tembok di sebelah kiri saya sudah sewot teriak-teriak minta supaya langsung ke pokok pembicaraannya. Iya, tembok, bukan orang. Oiya, belum kenal ya? Mari kita berkenalan :-)
Kenalkan, namanya tembok, panggil aja mbok, bukan mbok-mbok tukang pecel apalagi tukang jamu. Permukaannya mulus, halus, tidak bergelombang dan tanpa cacat, tapi tidak begitu kalau ditinjau dari hukum pemantulan cahaya dalam ilmu fisika, karena si mbok ini selalu dinyatakan tidak rata. Harus siap-siap mental, dia termasuk benda yang mudah terbawa suasana, dingin kalau cuaca dingin, panas kalau cuaca panas. Iya, dia masih labil, masih dalam tahap pendewasaan. Nggak, dia nggak suka makan apa-apa, nggak suka minum apa-apa. Grrr, berisik! Eh, maaf, si mbok emang bawel.

Oke, kayaknya perkenalannya segitu aja ya. Sekarang kita ngomongin apa? Oh iya, iya. Si Mbok ini temen yang paling setia, paling nggak banyak cincong, di maki sampe nyebutin seluruh binatang yang ada di dunia pun dia gabakal ngebales maki apalagi ngamuk. Yaiyalaah, mulut aja nggak punya! Iye nggak, mbok? Tuh, nggak nyaut kan, tau dah emang gadenger, gabisa denger, apa pura-pura gadenger. Bahkan, tembok pun mempunyai banyak sisi untuk dikomentari :-)

Iyaloh, iya, gapenting kan? Selalu. Beginilah kalau menjadi yang terlupakan, yang ditinggalkan berdebu, yang dibiarkan merangkak sendiri, dan menjadi yang invisible. Menjadi yang tidak terlihat mungkin akan menyenangkan kalau dalam kondisi yang tepat, tapi ini realita, di mana menjadi tidak terlihat sama dengan tidak dianggap, yang sama dengan tidak berarti apa-apa, yang sama dengan worthless, yang sama dengan hmm-maaf-anda-siapa, dan itu bukan hal yang baik. Bahkan tembok pun ingin dianggap penting. Selaw mbok, I'll always be there *ngelus tembok*. Seperti yang banyak orang bilang: "Time flies, people change", apa memang seperti itu? Atau jangan-jangan mereka sama sekali tidak berubah, tapi inilah wujud mereka yang asli? Atau lagi itu hanyalah spekulasi yang diciptakan agar orang-orang berpikir tidak ada salahnya menjadi orang yang berbeda? Kalo kata orang Arab wallahualam. Ya, terkadang memang kita yang harus mengerti bagaimana keadaan mereka, yang tanpa disadari membuat kita sendiri tidak mengerti di mana kita berdiri, dan terkadang yang ingin kita lakukan hanyalah berlari mencari petunjuk, atau pun teman berbagi, setidaknya kita tau kalau kita tidak sendiri. Bukankah begitu? Kalau salah, ya harap maklum, namanya juga manusia. Oh, mungkin tidak bagi kalian, kalian benar. Mari kita ralat: ya harap maklum, namanya juga saya manusia yang tergambar seperti yang di atas itu.

Entahlah, mungkin memang aku yang berpikiran terlalu rumit, mungkin kalian memang sedang mempunyai kesibukan sendiri, yah, dalam jangka waktu yang lama, mungkin kita memang berbeda paham, mungkin tanpa disadari kita telah berbeda arah sejak lama, dan sekarang kita sudah terlalu jauh. Tidak, bukan hanya kalian, aku tau kalau aku juga demikian, maaf untuk itu. Yang aku tanyakan, apa masih ada jalan pintas ke tempat yang kau tuju di sekitar sini? Setidaknya kita tidak harus berjauhan, setidaknya aku tau aku masih memiliki seseorang untuk menarik tanganku kalau-kalau aku terperosok ke jurang, dan setidaknya aku bisa berjalan dibelakang kalian, atau mungkin berdampingan. Apa kalian juga memiliki pikiran yang sama? Tidak? Oiya, aku lupa kalau kalian sudah menemukan tujuan :-)

Tidak bisa dipungkiri aku merindukan saat di mana aku tertawa selepas-lepasnya, berbicara seterang-terangnya, berteriak sekeras-kerasnya, bahkan menangis sejadi-jadinya dihadapan kalian. Entah kalian merindukannya atau tidak, yang jelas aku sangat merindukannya. Ingat tidak, kita sama sekali tidak membiarkan jarum jam itu bernafas di sela-sela perbincangan kita? Iya, karena kita selalu menimpalinya dengan ocehan anak SMP. Bagus, sekarang aku bingung apakah harus tertawa atau menangis mengingatnya. Kita sama-sama sadar kalau kita tidak seperti dulu. Sangat jauh berbeda, nggak tau berapa derajat bedanya. Mungkin kita memang berjalan di rute yang berbeda, tapi kalian tau di mana bisa menemukanku, dan ke mana bisa menghubungiku. :-)

Duh, si Mbok mulai sewot lagi, katanya makin larut kok makin mendayu melambai nyiur di pantai. Iya, tau, emang gak lucu kok. Yasudah deh, udah kepanjangan juga ceritanya. Terima kasih telah membuang waktumu yang berharga ☺

Note: Miss you so sa, tam, be, yul *hugs and kisses*








Friday, June 8, 2012

Kembali!

Hai! It has been a long time since my last post, huh? Hahaha bulan yang berat. Sejujurnya, tidak akan terasa begitu berat kalau tidak di ambil pusing, tapi yah, kalau tidak memusingkan bukan hidup namanya. Kidding.
Banyak yang terjadi dalam kurun waktu kurang-lebih yaaah, sebulan ini. He's here now, with me. Maksudku, benar-benar bersamaku. Mukjizat? Jadikan itu sebagai opsi kedua.

Oke, ada pergelutan antara hati dan otak di sini. Dua unsur kehidupan ini memang jarang ditemui bergerak searah. Entahlah, ada yang bilang memang seperti ini kalau sudah bersama. Yang dulu diharapkan kembali muncul. Tidak, bukan muncul seperti apa yang dibayangkan dulu, hanya sekedar bertukar sapa, hal-hal standar dalam pertemuan 'teman' lama. Teman....benarkah? Baiklah, bukan teman. Kenalan? Tidak seasing itu. Sulit menjelaskannya. Karna memang tidak pernah benar-benar berteman. Penantian dalam jangka waktu yang cukup lama, tidak ada yang lebih menyenangkan selain jawaban dari penantian itu sendiri. Ah, kenapa harus dipusingkan? Sekarang tidak lagi penting teman, orang asing atau bahkan penantian. Toh, sudah kutinggalkan di belakang dan kubiarkan berdebu digerogoti waktu.

Apa masa lalu selalu seperti ini? Apa serpihannya memang selalu menyiksa seperti ini? Apa masa lalu selalu menimbulkan perbandingan? Ketika masa lalu mengacaukan semuanya. Aku sudah bergerak maju, kenapa masih ada yang menahan? Atau, hanya sekedar sugestiku sendiri? Ini akan menjadi perjalan yang mudah kalau kau menegaskan kau di sini. Tidak, aku tidak menuntutmu untuk jadi yang aku inginkan, karena kalau begitu aku tidak mencintai apa yang ada dalam dirimu, aku hanya mencintai apa yang aku mau.

Ada begitu banyak kata-kata yang siap ku lontarkan untukmu, tapi ntah kenapa, kata-kata itu menguap begitu aku melihatmu. Atau mungkin aku hanya tidak ingin terlihat membosankan dengan semua keluhanku dihadapanmu. Semua ini membuatku menyadari satu hal, aku tidak bisa menjadi yang lebih baik, bahkan untuk sekedar mengimbangi pun tidak mampu. Aku merasa, kau mungkin akan terlihat bodoh kalau terus menanggapi ocehan anak kecil. Aku hanya merasa kalau kau mungkin muak menanggapi seorang anak kecil. Ini hanya beberapa dari begitu banyaknya pikiran yang berlalu lalang di kepalaku setiap malam.

Sudah hampir sebulan, tapi pikiran ini tidak bisa diam, melayang-layang entah kemana. Sulit memang menarik sisi positif yang tersirat di setiap peristiwa. Semuanya seolah mencengkram otak layaknya adonan kue dan mengacaukan sistem kinerjanya. Kita sama-sama tau kalau menahan emosi bukanlah hal yang mudah, dan kau tau? Menahan tekanan batin sama sulitnya.

Satu yang kuminta, tegaskanlah kalau kau memang benar-benar di sini.

Thursday, May 24, 2012

Kapan pun kau merasa sendiri, jadikan aku sebagai orang pertama yang kau cari.
Kapan pun kau merasa aku berbeda, jangan mencari seseorang untuk menutupi kekuranganku.
Jadikan aku sebagai orang pertama yang kau pikirkan saat kau terbangun.
Jadikan aku sebagai orang terakhir yang menetap di benakmu saat kau beranjak tidur.
Jadikan aku sebagai alasan kau terjaga dari tidurmu.

Aku memang tidak mempunyai apa-apa yang bisa kujadikan jaminan. Aku tidak bisa membuatmu merasa jauh lebih baik. Aku berani mengambil keputusan ini karena aku tau aku menyayangimu, dan kau juga berkata demikian. Tapi, aku sadar, keberadaanku tidak diharapkan. Aku kalah telak bahkan sebelum aku mengambil langkah pertamaku. Dia jauh lebih bersinar dengan segala kelebihan yang dia miliki. Sangat kontras dengan anak kecil dengan segala tingkah bodohnya.

Aku merasa sangat sangat sangat kalah, setiap kali kau menyelipkan namanya di setiap pembicaraan antara kau dan aku. Ternyata aku masih belum mampu menggesernya dari hatimu. Aku belum mampu menggantikan posisi yang dahulu dia tempati sepenuhnya. Masih ada ruang kosong yang kau sisakan. Ketahuilah aku menyayangimu. Maaf, kalau aku hanya bisa merangkai kata. Maaf, kalau aku bahkan tidak menyamai kedudukannya.

Saturday, April 21, 2012

Tentang Pilihan


Kita? Kau salah kalau menggunakan kata ganti 'kita' untuk menyatakan kau dan aku. Tidak akan pernah ada kata 'kita'. Hanya ada 'kalian'. Karena memang tidak pernah ada kesepakatan untuk hal ini. Siapa bilang aku mau? Kau yang sepakat, bukan aku.

Dari semua kata-katamu, kau memintaku untuk berhenti menahanmu. Kau memintaku untuk merelakanmu memilih kebahagianmu sendiri. Kau membiarkan aku pergi menjauh. Tidak, memang kau tidak meminta secara langsung, tapi rangkaian abjad kaku yang kau sampaikan semalam itu mengatakannya. Kenapa harus berputar-putar? Aku akan menerima pilihanmu kalau memang kau yang menginginkannya.

Oiya, aku baru sadar. Ternyata selama ini aku hanya berpura-pura kalau aku penting untukmu. Iya aku yang berpura-pura, bukan kau. Aku beranggapan kalau aku mempunyai arti yang penting untukmu. Aku salah. Iya kan? Aku tidak lebih dari seorang anak kecil di matamu. Hanya aku yang menganggap ini semua berarti. Tidak berlaku untukmu. Siapa yang bisa disalahkan atas ini? Tidak juga siapa-siapa. Terima nasib saja, melenggang dengan luka yang menganga lebar.

Dan kalau aku ingat kembali, aku tidak pernah menerima keputusanmu, aku hanya menghindar untuk menghadapinya. Terlalu sakit. Aku kira dengan mengelak dari setiap hal tentang dia akan membuatku merasa lebih baik. Aku bahkan nyaris melupakan keberadaannya. Tapi, aku salah kaprah, menghindar malah membuatku semakin tersiksa. Saat di mana aku teringat kalau masih ada dia malah membuat nafasku tercekat. Aku tidak tau apakah kau menyadarinya atau tidak. Tapi, setiap kali kau mengungkit tentang dia, hanya satu yang kutau. Aku iri. Dan tidak kecil kemungkinan aku membencinya. Bukan tidak jarang rasa bersalah menghantam batinku. Membuatku terus berpikir atas apa yang aku jalani. Atas apa yang aku lakukan. Apakah aku telah melakukan kesalahan besar dengan memilih jalan ini? Apa dengan mengalah akan memperbaiki keadaan? Kalau aku bisa mencoba semua pilihan dan kembali ke keadaan semula saat aku tau bagaimana akhirnya, aku akan mencobanya. Sayangnya hanya bisa menerka-nerka. Benarkah ini? Salahkah ini? Semua pertanyaan yang hanya disambut kebisuan seonggok batu. Semua jawaban ada di tanganmu. Bukan aku, atau dia sekalipun kalau memang harus dilibatkan.

Bunuh diri secara perlahan.

Saturday, April 14, 2012

Tau bolu kukus? Adonannya secara ajaib mengembang begitu dilengkapi dengan baking powder. Menurutku kau mempunyai sentuhan ajaib itu. Kata-kata sederhana yang keluar dari bibirmu seketika mengembangkan senyum di raut wajahku yang penampakannya tidak lebih bagus daripada selembar kertas yang sudah remuk. Kau mampu menerbangkanku dengan mudahnya, sampai-sampai aku terlena berlama-lama di angkasa dan tidak menyadari kau telah melepaskan genggamanmu. Posisi kita sulit. Salah langkah bisa merusak semuanya. Maksudku, benar-benar semuanya. Merasa kalau ini semua terlalu sempurna untuk dilepaskan. Tapi, semua orang juga tau kalau ini benar-benar salah. Jadi, harus bagaimana?

Siapa yang harus mengerti siapa? Menjadi sebuah pertimbangan tidak menjamin seseorang akan menjadi yang dipertahankan. Apakah secara tidak sadar aku menahanmu untuk pergi? Apakah seharusnya aku menendangmu jauh-jauh dari jalan yang kutempuh dari awal? Seperti apa keadaanku kalau aku mengacuhkanmu diawal dulu? Bagaimana kondisiku kalau aku tidak pernah mengizinkanmu mengukir luka? Oke, aku tau, terlalu banyak pertanyaan. Abaikan saja.

Friday, April 6, 2012

Pasca-Ending


Mencoba untuk menjadi seseorang yang siap siaga layaknya tentara perang untuk orang yang kau sayangi walaupun kau tau dia sudah mempunyai orang lain yang jauh lebih pantas untuk tempat dia berlari bukanlah satu hal yang ingin kau coba dan akan kau senangi ketika kau merasakannya. Coba kau pikirkan, itu sama saja dengan upaya membunuh dirimu sendiri secara perlahan-lahan. Bukankah kau juga harus memikirkan ada sosok lain disana, yang bisa saja mencekikmu dengan tuduhan kau merebut pangeran berkuda putihnya? Yang benar saja! Cara bunuh diri yang buruk. Mungkin kau berpikir, kalau seandainya dia tidak bisa bersamamu sepajang waktu yang dia punya, setidaknya kau akan selalu ada untuknya kapanpun dia membutuhkanmu. Tapi, bukannkah itu menyakitkan? Kau hanya bisa bersamanya saat dia berada di masa-masa terburuknya, bukan setiap saat. Sedangkan saat kau terseok-seok mencoba bangkit dan berbalik arah kembali ke kehidupanmu sebelum mengenalnya, dia bahkan tidak menoleh untuk mencegahmu beranjak dari tempat yang kau pijak sekarang. Kau rela menyakiti dirimu sendiri hanya karena kau ingin menjadi orang yang dia cari saat dia jatuh. Kenapa aku berbicara seperti ini? Karena, ya, aku merasakannya. Menjengkelkan saat tau aku harus berjuang sendiri. Kau? Lihat yang ada di sampingmu. Kau tau? Ini tidak mudah. Aku tau pertahananku sangat lemah.

Aku baru sadar, kau menikamku secara perlahan dengan kata-katamu. Aku tidak sedang berusaha untuk menggambarkanmu sebagai orang yang mengenakan setelan hitam bak mafia yang sering muncul di telivisi. Aku tidak sedang membuatmu dipandang sebagai orang yang jahat. Mungkin kau tidak menyadari akan apa yang kau lakukan. Tapi, kau telah mengukir luka baru. Aku tidak bisa membencimu. Kau terlalu...yah, berarti. Aku berusaha untuk mengurangi kemungkinan aku berpapasan denganmu. Ternyata tidak lebih baik. Aku harus berupaya setengah mati untuk tidak berlari menghampirimu dan berbicara seperti dulu. Aku harus menahan rindu yang mencoba mendobrak pertahanan yang sedang kubangun sebelum akhirnya membludak keluar dan membuat keadaan menjadi semakin kacau. Dan kalau memang secara tidak sengaja aku berpapasan atau bahkan bertemu denganmu, aku tetap tidak bisa bersikap seperti apa yang dulu aku lakukan.

Diam-diam aku mencuri kenangan yang mungkin masih bisa kusimpan untuk kukenang selama kau berjalan di jalan yang kau pilih. Aku mencoba memproyeksikannya dengan mata tertutup, mencoba membayangkan aku kembali ke masa saat semuanya berjalan sempurna. Anehnya semua terasa asing. Tidak pernah menyangka akan terlihat buram sedemikian cepatnya. Merasa konyol, merasa sedang mengkhayalkan mimpi yang mustahil bisa terjadi. Semuanya terasa tidak nyata. Atau, memang begitu? Tidak mungkin begitu. Aku yakin kau bukan hanya sekedar potongan mimpi yang melayang entah kemana. Kau benar-benar hadir, kau bahkan meninggalkan jejak yang jelas di jalan setapak yang kutempuh.

Sejauh yang kuingat, semua berawal hanya dari lelucon sederhana. Siapa sangka kata-kata itu melahirkan sesuatu yang bahkan kata-kata pun tak mampu menggambarkannya secara spesifik? Menyedihkan. Aku hanya bisa mengingatnya sekarang, bukan merasakan gejolak yang ditimbulkan dari kata-kata yang keluar dari mulutmu. Berakhir secara tragis bukan hal yang baru yang layak digunakan untuk mengakhiri cerita dalam buku dongengku. Tidak ada yang pernah menduga kalau semuanya bisa menjadi serumit ini. Ibarat kata, kau memasukkan seutas kabel yang telah kau atur sedemikian rupa kedalam sakumu agar memudahkanmu ketika kau ingin memakainya, dan ketika kau mengeluarkannya, yang kau temukan adalah gulungan kabel yang tak beraturan. Aku rasa seperi itu. Tidak ada yang menduga kalau kesempurnaan yang terjadi di garis awal akan berakhir serumit ini. Aku juga tidak mau berada di posisi menyulitkan ini. Semua yang ku pilih seolah tak pernah benar, seolah tak akan pernah berakhir baik. Yang terbaik yang aku rasa untuk saat ini adalah ya seperti yang sedang kau dan aku usahakan. Membuat jarak, membuat jurang securam mungkin sampai tidak ada yang mau mengambil resiko terjatuh dengan melangkah mendekat satu sama lain. Ini sulit, mengingat apa yang kurasakan terhadapmu. Sempat terbesit gagasan di kepalaku, kenapa tidak mengambil peran antagonis saja? Seperti yang ada di film-film itu, yang pengambilan gambarnya di close-up dan suara hati yang bisa didengar oleh seluruh makhluk di muka bumi. Tapi, itu tindakan yang sangat...kekanak-kanakan mungkin. Kau bukan barang yang bisa kurebut sesuka hatiku. Kau menghirup udara yang sama denganku, bahkan untuk saat ini, saat aku melihatmu meniti pilihan yang kau ambil. Kau bergerak di bumi yang sama dengan yang aku pijak, bahkan untuk saat ini, saat kau tidak bergerak mendekat.

Aku merasa nafas yang ku ambil terasa semakin berat di setiap tarikannya saat aku melihatmu tertawa seakan-akan semuanya baik-baik saja. Aku merasa tidak terima. Apa kau tidak merasakan sedikitpun apa yang aku bimbangkan? Apa kau akan diam saja kalau aku memutuskan untuk pergi? Apa kau benar-benar telah memilih? Oke. Itu pertanyaan konyol. Lupakan.

Aku hanya merindukan penyebab aku bangun pagi dan selalu mengecek pesan yang masuk ke telepon genggamku. Kau.