Sudah lebih dari 48 jam salah satu maskapai penerbangan ternama meninggalkan lapangan terbang Polonia, Medan. Tanpa ada pertemuan terakhir yang selalu kita nantikan, yang selalu kita bicarakan, yang selalu kita khayalkan, nyatanya kita tidak pernah benar-benar menciptakan pertemuan terakhir itu. Bagaimana kabarmu? Bagaimana harimu di sana? Bagaimana keadaanmu? Apakah seburuk keadaanku? Iya, aku terus saja memikirkan semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, dan itu bukanlah hal yang baik. Dengan keadaan yang seperti ini aku merasa setiap kabar yang kudengar tentangmu terasa jauh lebih berharga dibandingkan yang sebelumnya. Apakah kau merasa demikian? Aku ingin tau bagaimana perasaanmu, bagaimana keadaanmu yang sebenarnya, seperti apa kegiatan yang menyita waktumu, aku ingin mengetahui semua yang kau lakukan tanpa harus kau jelaskan. Konyol? Ya, aku tau, bukankah seperti biasanya?
Bagaimana kalau aku merindukan kehadiranmu? Bagaimana kalau aku ingin melihat wajahmu secara langsung, mendengar suara yang keluar dari mulutmu dan tertangkap oleh telingaku sendiri tanpa ada perantara yang selalu terputus setelah sepersekian menit? Bagaimana kalau aku ingin melihatmu tertawa dengan mata kepalaku sendiri? Bagaimana kalau aku ingin kau disini? Tidak usah kau pikirkan jawabannya.
Just let me be one of your reasons to come back here. Let me be one of people you miss the most. Let me know you're missing me a lot.
Tunjukan pada mereka kalau kita memang bisa bertahan. Bukan bertahan semampunya, bukan bertahan yang seperti itu. Tapi, benar-benar bertahan karna kau akan segera pulang dan kita akan kembali seperti dulu atau aku yang akan menyusulmu. Hari-hari dalam bulan selanjutnya akan terasa sangat lama kalau aku menunggu ponsel ini berbunyi. Berbeda dengan hari sebelum kau meninggalkan kota yang menjadi rumahmu ini. Aku masih ingat bagaimana aku mendapati waktu terasa berjalan sangat cepat dan sadar bahwa kau akan segera pergi. Bahkan sekarang, ponsel ini terasa memuakkan.
Thursday, August 30, 2012
Sunday, August 26, 2012
Kembali ke Kenyataan untuk yang ke-...Entahlah
Hai, setelah berhari-hari berteman dengan malam, sepertinya ini malam terakhir untuk tetap terjaga jam segini. Ini Minggu bung, besoknya Senin, what a fact! Kembali bergelut dengan sekolah dan segala isinya, kita lihat saja bagaimana waktuku habis terkuras sampai tetes terakhir, dan sekarang kita lihat sudah sampai mana tugas-tugas itu? Hmm, tidak ada perubahan yang berarti. TIDAK BISAKAH KALIAN MENCARI JAWABAN SENDIRI? *ngancungin telunjuk ke buku*
Siapa sangka ini hari terakhir berleha-leha? Hitungan jam lagi harus sudah berkutat dengan segala macam yang berbau sekolah. Kenyataan yang menyedihkan memang. Dipaksa kembali bertempur dengan pikiran-pikiran seperti "ah, salah jurusan nih", "bentar lagi juga gak sanggup", "ujian nanti gimana?", dan mungkin "hm, maaf kalian siapa?". Tapi, ya, siapa lagi yang bisa diandalkan selain diri sendiri? Pahitnya obat tablet dirasain sendiri, sembuhnya juga di badan sendiri. Harus berjuang 2 tahun lagi. 2 TAHUN SEPERTI INI, DENGAN KONDISI YANG SEPERTI INI. Perlu dijelaskan seperti apalagi? Tidak ada yang lebih menyenangkan selain memikirkan kemungkinan terburuk (baiklah, itu hanya ungkapan).
SMA, masa-masa menyenangkan, katanya. Sebagian besar orang sedang, masih, dan sudah merasakannya. Berlaku untukku tidak? Bolehkah? Buku-buku ini penyiksaan! Bayangkan, siapa mau ke pasar, beli beras sekian kilogram menggunakan prinsip Pythagoras? Tidak satu orang pun. Dan prinsip-prinsip semacam itu semakin rumit seiring bertambahnya tingkatan pendidikan. Aneh. Mungkin tidak bagi kalian bercita-cita menjadi Profesor, Insinyur, atau bahkan Arsitek. Besarnya derajat kemiringan sangat berpengaruh untuk apapun itu, aku benarkan? Dan aku bahkan tidak menaruh minat diantara semuanya. Anak nyasar dari mana nih? Mungkin kalian akan berpikir begitu kalau melihat aku duduk di bangku jurusan apa. Lucu, kalian bahkan tidak tau bagaimana sulitnya menuliskan IPA/IPS di angket yang disediakan. Itu adalah pilihan yang sulit untuk orang sepertiku yang tidak punya gambaran apapun tentang jadi apa aku kelak. Ternyata, jalan yang seperti inilah yang harus aku jalani. Yah, welcome to reality!
Salam,
Tias dengan pikiran yang tercecer entah dimana
Thursday, August 23, 2012
Kilasan Agustus
Medan, (hm...pukul berapa sekarang?) Oke, 00:04, sudah memasuki hari baru ternyata. Hari ke 23 di bulan Agustus—penghujung bulan dan kedengarannya sedang hujan di luar sana. Baiklah, apa yang baru? Acara buka bersama yang diadakan angkatan di bawahku tanggal 5 lalu berjalan lancar, buka bersama pecahan botol 7-2 angkatanku pun tidak seburuk yang dibayangkan (people change, they've grown up! Seperti remaja pada umumnya segalanya berubah pada mereka), aku, Papa, dan kedua kakakku memberikan kejutan kecil untuk ulang tahun Mama tanggal 14 kemarin, Ramadhan telah berakhir sekitar 4 hari yang lalu, dan Fajar memasuki umurnya yang ke 18 tahun 2 hari yang lalu, selebihnya adalah hari-hari yang berjalan seperti biasa, tapi tidak sesibuk bulan lalu. Oh iya, Minal aidin walfaidzin sebelumnya, maaf kalau selama ini waktu kalian terbuang sia-sia kalau tanpa sengaja kalian membaca beberapa tulisan menyedihkan ini. Ya, jarang sekali aku menceritakan cerita yang bahagia, bukan? Maaf untuk itu. Aku juga minta maaf karena semua tulisan yang ada dalam postingan sebelumnya terkesan terlalu berlebihan. Aku memang pandai melebih-lebihkan.
Oke, lupakan, sekarang apa yang akan kita ceritakan? Hmm...sekolah akan kembali dimulai tanggal 27 nanti, dan mahasiswa perantauan itu juga akan kembali ke Yogyakarta pada tanggal yang sama. Aku belum memiliki persiapan untuk keduanya. Aku menyedihkan ya? Semua tugas-tugasku masih menunggu untuk diselesaikan. Tidak, bukan karena aku malas. Begini, aku sudah menyelesaikan beberapa soal yang diberikan tapi tidak sebagian besar, karena aku tidak menemukan jawaban dari hampir semua pertanyaan yang diberikan. Padahal menurutku seharusnya semua jawabannya tersedia dalam buku yang sama. Jadi, bagaimana aku menyelesaikannya? Yah, semoga saja pertanyaan-pertanyaan itu bisa menemukan jawaban mereka sendiri.
Dia akan segera berangkat menempuh pendidikannya kurang dari seminggu lagi, apalagi yang bisa kuharapkan selain pertemuan terakhir, setidaknya untuk sekitar 4 tahun kedepan (mungkin)? Selebihnya aku percayakan padanya. Apa jadinya kalau aku benar-benar tidak bisa menemuinya selama—katakanlah— setahun penuh? Baik, dia benar, itu urusan nanti. Kurasa cukup membahas ini sebelum postingan ini benar-benar berubah menjadi kisah sedih memilukan dua hati yang terpisahkan jarak.
Ohiya, aku diperlihatkan beasiswa sebuah Universitas swasta di Jakarta, ya, ibukota yang katanya padat semerawut, Ilmu Komunikasi terdengar menarik, bukan? Tidak hanya itu, Universitas di Yogyakarta juga terdengar lebih menarik, kalian bisa menebaknya. Masih berpikir untuk meninggalkan Medan dan menjadi anak rantau, jauh dari Orang Tua, jauh dari bantal gulingku yang terlihat lebih empuk dan nyaman kalau pagi, jauh dari tembok ini juga, jauh dari semua orang-orang yang membuatku merasa tidak konyol sendirian. Sedikit mengerikan membayangkannya. Jangankan membayangkan aku yang di luar kota sana, membayangkan aku melewati ujian Semester untuk tahun ini saja jauh lebih mengerikan. Entahlah, aku belum mau gila sekarang.
Jadi, yah, bulan ini cukup menyenangkan, tapi kurasa aku terlalu banyak mencuci mataku. Pikiranku semakin parah bulan ini. Baiklah, cukup sampai sini sajalah, aku juga tidak tau harus membual seperti apalagi.
With Love,
TSeptilia ♥
Oke, lupakan, sekarang apa yang akan kita ceritakan? Hmm...sekolah akan kembali dimulai tanggal 27 nanti, dan mahasiswa perantauan itu juga akan kembali ke Yogyakarta pada tanggal yang sama. Aku belum memiliki persiapan untuk keduanya. Aku menyedihkan ya? Semua tugas-tugasku masih menunggu untuk diselesaikan. Tidak, bukan karena aku malas. Begini, aku sudah menyelesaikan beberapa soal yang diberikan tapi tidak sebagian besar, karena aku tidak menemukan jawaban dari hampir semua pertanyaan yang diberikan. Padahal menurutku seharusnya semua jawabannya tersedia dalam buku yang sama. Jadi, bagaimana aku menyelesaikannya? Yah, semoga saja pertanyaan-pertanyaan itu bisa menemukan jawaban mereka sendiri.
Dia akan segera berangkat menempuh pendidikannya kurang dari seminggu lagi, apalagi yang bisa kuharapkan selain pertemuan terakhir, setidaknya untuk sekitar 4 tahun kedepan (mungkin)? Selebihnya aku percayakan padanya. Apa jadinya kalau aku benar-benar tidak bisa menemuinya selama—katakanlah— setahun penuh? Baik, dia benar, itu urusan nanti. Kurasa cukup membahas ini sebelum postingan ini benar-benar berubah menjadi kisah sedih memilukan dua hati yang terpisahkan jarak.
Ohiya, aku diperlihatkan beasiswa sebuah Universitas swasta di Jakarta, ya, ibukota yang katanya padat semerawut, Ilmu Komunikasi terdengar menarik, bukan? Tidak hanya itu, Universitas di Yogyakarta juga terdengar lebih menarik, kalian bisa menebaknya. Masih berpikir untuk meninggalkan Medan dan menjadi anak rantau, jauh dari Orang Tua, jauh dari bantal gulingku yang terlihat lebih empuk dan nyaman kalau pagi, jauh dari tembok ini juga, jauh dari semua orang-orang yang membuatku merasa tidak konyol sendirian. Sedikit mengerikan membayangkannya. Jangankan membayangkan aku yang di luar kota sana, membayangkan aku melewati ujian Semester untuk tahun ini saja jauh lebih mengerikan. Entahlah, aku belum mau gila sekarang.
Jadi, yah, bulan ini cukup menyenangkan, tapi kurasa aku terlalu banyak mencuci mataku. Pikiranku semakin parah bulan ini. Baiklah, cukup sampai sini sajalah, aku juga tidak tau harus membual seperti apalagi.
With Love,
TSeptilia ♥
Monday, July 30, 2012
Hitungan Minggu, Mungkin?
Saat kali terakhir aku melihatmu, aku terus merapalkan doa supaya pertemuan itu tidak benar-benar menjadi yang terakhir. Menggenggam tanganmu adalah satu dari sekian banyak hadiah Tuhan yang paling aku syukuri. Aku berusaha untuk memeluk memori itu dalam ingatanku sebisa mungkin supaya tidak ikut terbuang bersama cerita kusam sebelumnya.
Memikirkan bagaimana ibukota dan selat membentang jarak ribuan kilometer selama kurang lebih 4 tahun masa bagimu untuk menyelesaikan pendidikanmu di sana membuat perutku bergejolak, seolah ada mesin penggiling tak terlihat di dalamnya. Bagaimana menahan rindu yang membuncah saat kau berada di luar jangkauanku? Apa tidak ada yang lebih buruk? Rasa rindu yang kian menggila setiap harinya membuat jarum jam tampak jauh lebih lamban dari biasanya. Ada saat di mana aku merasa waktu berjalan sangat lambat saat aku merindukanmu dan di saat yang bersamaan, waktu berjalan sangat cepat mengingat kau akan segera melintasi berbagai ibukota dalam beberapa minggu. Segala macam pikiran tentang berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi tidak henti-hentinya merecoki malam di mana seharusnya aku tidur.
Ada beberapa kalimat dari novel yang kubaca, yang kemudian membuatku tertohok cukup dalam.
"Hubungan jarak jauh selalu berusaha bertahan sebisanya, tetapi pudar juga seiring waktu berjalan."
"Mereka bilang, bila ada sesuatu yang tidak bisa dikalahkan oleh cinta, maka itu adalah jarak."
Bagaimana menurutmu? Medan-Jogjakarta memang bukan jarak yang bisa ditempuh 15 atau 30 menit perjalanan biasa. Sedangkan kau masih berada di kota yang sama saja aku masih terus merindukanmu. Kau juga pernah bertanya seperti itu. Bagaimana nanti?
Menyebalkan ya? Selalu seperti ini. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya benar-benar jauh. Belum lagi jaringan yang terus menguji kesabaran setiap hari. Komunikasi yang seperti ini tidak bisa menjamin bisa mengurangi rasa rinduku. Aku belum tentu bisa mendengar suaramu setiap hari. Hubungan telepon yang terus terputus entah setelah menit keberapa. Mungkin pertanyaan yang sama hinggap di benakmu, bagaimana kita bertahan? Katamu, ya jalani saja. Tapi, yah menurutku kau benar, apa lagi yang bisa ku lakukan selainkan membiarkannya berjalan seperti yang seharusnya? Just let time tells us if it's something we worth fighting for, doesn't we?
Ada yang pernah bertanya, 'apa kau tidak takut berhubungan jarak jauh?'. Tentu saja aku takut! Ya, walaupun aku tau kau menjejakkan kaki di sana untuk menempuh pendidikan dan mengejar mimpimu, aku tau itu. Tapi, perempuan mana pun di muka bumi pasti akan takut kehilangan laki-laki yang dicintainya. Aku hanya bisa mempercayaimu. Iya, aku percaya padamu. Jangan membuatku menyesal karena mempercayaimu.
Memikirkan bagaimana ibukota dan selat membentang jarak ribuan kilometer selama kurang lebih 4 tahun masa bagimu untuk menyelesaikan pendidikanmu di sana membuat perutku bergejolak, seolah ada mesin penggiling tak terlihat di dalamnya. Bagaimana menahan rindu yang membuncah saat kau berada di luar jangkauanku? Apa tidak ada yang lebih buruk? Rasa rindu yang kian menggila setiap harinya membuat jarum jam tampak jauh lebih lamban dari biasanya. Ada saat di mana aku merasa waktu berjalan sangat lambat saat aku merindukanmu dan di saat yang bersamaan, waktu berjalan sangat cepat mengingat kau akan segera melintasi berbagai ibukota dalam beberapa minggu. Segala macam pikiran tentang berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi tidak henti-hentinya merecoki malam di mana seharusnya aku tidur.
Ada beberapa kalimat dari novel yang kubaca, yang kemudian membuatku tertohok cukup dalam.
"Hubungan jarak jauh selalu berusaha bertahan sebisanya, tetapi pudar juga seiring waktu berjalan."
"Mereka bilang, bila ada sesuatu yang tidak bisa dikalahkan oleh cinta, maka itu adalah jarak."
Bagaimana menurutmu? Medan-Jogjakarta memang bukan jarak yang bisa ditempuh 15 atau 30 menit perjalanan biasa. Sedangkan kau masih berada di kota yang sama saja aku masih terus merindukanmu. Kau juga pernah bertanya seperti itu. Bagaimana nanti?
Menyebalkan ya? Selalu seperti ini. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya benar-benar jauh. Belum lagi jaringan yang terus menguji kesabaran setiap hari. Komunikasi yang seperti ini tidak bisa menjamin bisa mengurangi rasa rinduku. Aku belum tentu bisa mendengar suaramu setiap hari. Hubungan telepon yang terus terputus entah setelah menit keberapa. Mungkin pertanyaan yang sama hinggap di benakmu, bagaimana kita bertahan? Katamu, ya jalani saja. Tapi, yah menurutku kau benar, apa lagi yang bisa ku lakukan selainkan membiarkannya berjalan seperti yang seharusnya? Just let time tells us if it's something we worth fighting for, doesn't we?
Ada yang pernah bertanya, 'apa kau tidak takut berhubungan jarak jauh?'. Tentu saja aku takut! Ya, walaupun aku tau kau menjejakkan kaki di sana untuk menempuh pendidikan dan mengejar mimpimu, aku tau itu. Tapi, perempuan mana pun di muka bumi pasti akan takut kehilangan laki-laki yang dicintainya. Aku hanya bisa mempercayaimu. Iya, aku percaya padamu. Jangan membuatku menyesal karena mempercayaimu.
Sunday, July 15, 2012
Rute Satu Tahun
Wah, sudah satu tahun ternyata seragam ini melekat di badan. Kalo ngaca udah anak gadis, udah remaja. Udah nggak bisa menye-menye lagi, nggak bisa mengkek kayak anak bayi minta dot susu vanilanya. Menapaki masa-masa sebagai seorang anak SMA kelas 11, jurusan IPA pula. 6 hari belajar efektifnya diisi sama rumus-rumus yang entah ada berapa, yang entah apa namanya. Nantangin masa depan hanya bermodalkan nekat bukan tekad seperti 47 orang lainnya yang duduk di kelas yang sumpeknya ngalah-ngalahin pajak pagi. Waktu ditanya cita-citanya aja rata-rata pada jawab dokter. Jangankan niat, terlintas di kepala buat jadi manusia di balik setelan putih bau obat itu aja nggak pernah. Ini dia yang sulit, cita-cita. Mau jadi apa ke depannya? Masih belum ada gambaran, masih terombang-ambing ngikutin arus, yang besar kemungkinan buat hanyut, sukur-sukur jago renang.
Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa-masa yang kata orang banyak masa yang paling indah seumur hidup, yang paling unforgettable sangking berharganya. Ntah kurang menikmati "masa-masa indah sekali seumur hidup" atau memang belum kerasa, masih merasa asing sama kondisi yang seperti ini. Terkadang teringat masa-masa dulu, waktu masih mengenakan rok biru dengan dua lipatan. Masih belum mengerti tentang menentukan pilihan. Masih cengeng, yah walaupun sampai sekarang. Sedikit menyedihkan kalau mengingat yang dulu. Sekali jatuh, susah buat berdiri. Nggak bisa kesenggol sikit sama kenyataan.
Oh iya, sudah ada simbol yang menempel di lengan kiri seragam putih yang yah sedikit berat. Tidak, bukan berat yang sebenarnya, maksudku harus menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Tapi, who knows?
Kembali ke paragraf awal, menyedihkan memang, bertarung tanpa tameng, senjata dan baju zirah. Belum ada satu minggu menginjakkan kaki di kelas yang sekarang, tapi rasanya mulai ragu. Mulai berpikir sepertinya sudah salah kelas dari awal. Mereka ini orang-orang yang mungkin akan tetap melangkah di sampingku, atau bahkan di depanku sampai 2 tahun ke depan. Bedanya, mereka sudah punya tujuan, sedangkan aku sendiri masih ragu untuk mengambil langkah. Masih sulit untuk menganggap mereka teman, belum terbiasa mungkin. Tapi, memang sepertinya tidak bisa, mereka itu orang "atas".
Oke intinya, tembok saya masih cukup untuk saat ini.
Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa-masa yang kata orang banyak masa yang paling indah seumur hidup, yang paling unforgettable sangking berharganya. Ntah kurang menikmati "masa-masa indah sekali seumur hidup" atau memang belum kerasa, masih merasa asing sama kondisi yang seperti ini. Terkadang teringat masa-masa dulu, waktu masih mengenakan rok biru dengan dua lipatan. Masih belum mengerti tentang menentukan pilihan. Masih cengeng, yah walaupun sampai sekarang. Sedikit menyedihkan kalau mengingat yang dulu. Sekali jatuh, susah buat berdiri. Nggak bisa kesenggol sikit sama kenyataan.
Oh iya, sudah ada simbol yang menempel di lengan kiri seragam putih yang yah sedikit berat. Tidak, bukan berat yang sebenarnya, maksudku harus menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Tapi, who knows?
Kembali ke paragraf awal, menyedihkan memang, bertarung tanpa tameng, senjata dan baju zirah. Belum ada satu minggu menginjakkan kaki di kelas yang sekarang, tapi rasanya mulai ragu. Mulai berpikir sepertinya sudah salah kelas dari awal. Mereka ini orang-orang yang mungkin akan tetap melangkah di sampingku, atau bahkan di depanku sampai 2 tahun ke depan. Bedanya, mereka sudah punya tujuan, sedangkan aku sendiri masih ragu untuk mengambil langkah. Masih sulit untuk menganggap mereka teman, belum terbiasa mungkin. Tapi, memang sepertinya tidak bisa, mereka itu orang "atas".
Oke intinya, tembok saya masih cukup untuk saat ini.
Wednesday, June 27, 2012
Deretan Abjad Bisu Untukmu
Kepada yang tersayang, Matahari pagiku yang bersedia membagi cahayanya untukku
Kalau kau berpikir kau tidak bisa menjadi seperti apa yang kumau, sebaiknya kau menjernihkan pikiranmu. Karena aku telah berani mencintaimu, dengan kata lain aku juga harus berani untuk mencintai apa yang ada dalam dirimu, tanpa harus merubahnya menjadi yang kumau. Aku berani untuk jatuh kepadamu, dan merasakan sakitnya terjerembab karenamu adalah konsekuensi yang harus berani kuterima. Memang, sering kali gambaran tentang apa-yang-harusnya-kau-katakan dan apa-yang-harusnya-kau-perbuat melintasi pikiranku yang masih kekanak-kanakan ini. Tentu saja halusinasi itu tidak kubiarkan berlama-lama menari di kepalaku. Mungkin sebaiknya aku mengurangi kebiasaanku membaca buku yang berbau kisah romantis memuakkan. Salahkan para pengarang itu, mereka yang membuatku berharap kau melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan peran yang ada di sana itu. Aku tidak bermaksud menuntut kau harus menjadi seperti apa. Toh aku menyayangi dirimu yang ku-kenal bukan yang ku-mau.
Bersamamu saat ini adalah hal yang di luar dugaanku, walaupun tak bisa kupungkiri kalau aku pernah membayangkannya, tapi aku tidak pernah mengira hal ini sungguh-sungguh terjadi. Terkadang kau membuatku berpikir, apakah aku benar-benar bersamamu? Apakah sekarang kau benar-benar menganggapku penting? Kalau aku singgah ke saat-saat berbatu itu, aku tidak percaya kalau aku telah berjalan sejauh ini. Ada rasa lega yang menggelitik batinku, seakan-akan terbayar sudah waktu yang tertinggal di belakang. Tapi, perasaan bersalah masih menggangguku sesekali. Mungkin ini hanya masalah waktu sampai aku benar-benar terbiasa menjalani semuanya.
Kisah lamamu membuatku membandingkan diriku sendiri. Apakah aku cukup pantas? Kau memang memintaku untuk mempercayaimu, dan ya, aku memang percaya. Tapi, semua gambaran yang membuatku merasa tidak lebih baik untuk bersamamu jauh lebih banyak daripada alasan untuk tetap percaya. Lucunya, entah kenapa aku merasa kehilangan dirimu yang dulu atau mungkin hanya perasaanku, tapi entahlah.
Aku selalu takut kau akan merasa bosan dengan semua keluhan yang kucurahkan padamu, muak dengan segala ocehanku, dan aku juga takut kalau sewaktu-waktu kau mulai malas menanggapiku. Aku masih belum mengerti jalan pikiranmu, jadi aku masih belum bisa membaca apa yang kau pikirkan tentangku kalau aku begini, atau bagaimana pikiranmu tentangku kalau aku begitu. Aku merasa kalau aku masih terlalu buta tentangmu.
Aku merasa aneh saat aku merindukanmu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan, padahal seharusnya mudah untuk mengobatinya. Hasilnya apa? Aku hanya memandangi telepon genggamku seolah-olah benda dingin itu akan mengatakan kalau kau juga benar-benar merindukanku. Aku harap kau tau, aku membutuhkanmu. Entah untuk membuatku merasa lebih baik, membuatku tau kalau aku tidak sendirian, membuatku merasa kalau aku benar-benar memilikimu ataupun membuatku merasa kalau kau tidak ingin kehilanganku. Aku percaya padamu.
Salam hangat,
aku menyayangimu
Kalau kau berpikir kau tidak bisa menjadi seperti apa yang kumau, sebaiknya kau menjernihkan pikiranmu. Karena aku telah berani mencintaimu, dengan kata lain aku juga harus berani untuk mencintai apa yang ada dalam dirimu, tanpa harus merubahnya menjadi yang kumau. Aku berani untuk jatuh kepadamu, dan merasakan sakitnya terjerembab karenamu adalah konsekuensi yang harus berani kuterima. Memang, sering kali gambaran tentang apa-yang-harusnya-kau-katakan dan apa-yang-harusnya-kau-perbuat melintasi pikiranku yang masih kekanak-kanakan ini. Tentu saja halusinasi itu tidak kubiarkan berlama-lama menari di kepalaku. Mungkin sebaiknya aku mengurangi kebiasaanku membaca buku yang berbau kisah romantis memuakkan. Salahkan para pengarang itu, mereka yang membuatku berharap kau melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan peran yang ada di sana itu. Aku tidak bermaksud menuntut kau harus menjadi seperti apa. Toh aku menyayangi dirimu yang ku-kenal bukan yang ku-mau.
Bersamamu saat ini adalah hal yang di luar dugaanku, walaupun tak bisa kupungkiri kalau aku pernah membayangkannya, tapi aku tidak pernah mengira hal ini sungguh-sungguh terjadi. Terkadang kau membuatku berpikir, apakah aku benar-benar bersamamu? Apakah sekarang kau benar-benar menganggapku penting? Kalau aku singgah ke saat-saat berbatu itu, aku tidak percaya kalau aku telah berjalan sejauh ini. Ada rasa lega yang menggelitik batinku, seakan-akan terbayar sudah waktu yang tertinggal di belakang. Tapi, perasaan bersalah masih menggangguku sesekali. Mungkin ini hanya masalah waktu sampai aku benar-benar terbiasa menjalani semuanya.
Kisah lamamu membuatku membandingkan diriku sendiri. Apakah aku cukup pantas? Kau memang memintaku untuk mempercayaimu, dan ya, aku memang percaya. Tapi, semua gambaran yang membuatku merasa tidak lebih baik untuk bersamamu jauh lebih banyak daripada alasan untuk tetap percaya. Lucunya, entah kenapa aku merasa kehilangan dirimu yang dulu atau mungkin hanya perasaanku, tapi entahlah.
Aku selalu takut kau akan merasa bosan dengan semua keluhan yang kucurahkan padamu, muak dengan segala ocehanku, dan aku juga takut kalau sewaktu-waktu kau mulai malas menanggapiku. Aku masih belum mengerti jalan pikiranmu, jadi aku masih belum bisa membaca apa yang kau pikirkan tentangku kalau aku begini, atau bagaimana pikiranmu tentangku kalau aku begitu. Aku merasa kalau aku masih terlalu buta tentangmu.
Aku merasa aneh saat aku merindukanmu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan, padahal seharusnya mudah untuk mengobatinya. Hasilnya apa? Aku hanya memandangi telepon genggamku seolah-olah benda dingin itu akan mengatakan kalau kau juga benar-benar merindukanku. Aku harap kau tau, aku membutuhkanmu. Entah untuk membuatku merasa lebih baik, membuatku tau kalau aku tidak sendirian, membuatku merasa kalau aku benar-benar memilikimu ataupun membuatku merasa kalau kau tidak ingin kehilanganku. Aku percaya padamu.
Salam hangat,
aku menyayangimu
Wednesday, June 20, 2012
Hmm, hai. Sudah memasuki akhir bulan, dan yah seperti biasa, semuanya berantakan. Maksudku, benar-benar semuanya. Lucu, ya, menderitanya terjadwal. Kalo mau ketawa, ketawalah.
Ilangnya bertahap dia, satu satu, tapi pasti. Entah emang udah nggak cocok, udah nggak sepaham, udah nggak sejalan, atau memang akunya yang gatau diri, gataulah. Aku pun lucu yakan, heboh bolak balik minta maaf, tapi tetep dilakuin lagi. Gatau ngerasa gimana ya, yaa ngerasa macem orang yang paling...gak guna mungkin hahaha
Tadi pagi, jatuh tepelanting, untungnya dengkul duluan yang kenak lantai, bukan kepala, jadi ya aman. Refleks terucap 'kalo pun aku kenapa kenapa kelen gak bakal tau kan?'. Udah lama sebenernya kalimat menyeramkan itu mondar mandir di kepala. Tapi, bener. Gak ada yang mau repot-repot nyari tau. Iya, kan? Kalo salah ya maap. Ya ampun, anak-anak kali aku ya, iss! Entalawe -_-
Aku pun sekarang bingung mau nangis sama siapa, sama si mbok ini gamungkin (re:cerita di balik tembok), tengik kali dia gamau ngasi solusi. Yaaaaudahlah, tahankan ajalah yakan hahaha
Ilangnya bertahap dia, satu satu, tapi pasti. Entah emang udah nggak cocok, udah nggak sepaham, udah nggak sejalan, atau memang akunya yang gatau diri, gataulah. Aku pun lucu yakan, heboh bolak balik minta maaf, tapi tetep dilakuin lagi. Gatau ngerasa gimana ya, yaa ngerasa macem orang yang paling...gak guna mungkin hahaha
Tadi pagi, jatuh tepelanting, untungnya dengkul duluan yang kenak lantai, bukan kepala, jadi ya aman. Refleks terucap 'kalo pun aku kenapa kenapa kelen gak bakal tau kan?'. Udah lama sebenernya kalimat menyeramkan itu mondar mandir di kepala. Tapi, bener. Gak ada yang mau repot-repot nyari tau. Iya, kan? Kalo salah ya maap. Ya ampun, anak-anak kali aku ya, iss! Entalawe -_-
Aku pun sekarang bingung mau nangis sama siapa, sama si mbok ini gamungkin (re:cerita di balik tembok), tengik kali dia gamau ngasi solusi. Yaaaaudahlah, tahankan ajalah yakan hahaha
Subscribe to:
Posts (Atom)