Katanya,
hidup berawal dari sebuah mimpi. Banyak persepsi tentang mimpi itu sendiri.
Beberapa orang mengatakan, “Jangan bermimpi terlampau tinggi, kelak jatuh akan
mendalam sakitnya.”, beberapa ada pula yang seolah menjawab pemikiran pertama,
“Bagaimana kita tau bangkit, jika tak pernah jatuh sebelumnya?”, beberapa lagi
malah mengatakan, “Gantungkanlah mimpimu setinggi-tingginya, karena percayalah
kamu tidak akan jatuh sedalam-dalamnya.”. Atau yang lebih menggelikan, mereka yang
menghadang mimpi orang lain, entah itu dengan kata, maupun tindakan.
Terkadang
saya merasa lucu sekaligus prihatin melihat orang yang menertawai mimpi orang
lain hanya karena mimpi itu berada di luar lingkarannya. Layaknya sebuah
lelucon yang mustahil dan tidak masuk akal, mereka tertawa atas mimpi yang
setinggi langit itu. Katakanlah mereka yang tertawa itu adalah orang yang
merasa dirinya mampu atas segala hal, pun mimpi orang lain dia yang mengatur.
Apa mereka harus bertindak sekejam itu? Bukankah mimpi itu harusnya indah dan
tanpa beban? Kita bebas untuk menggantung mimpi di bentangan langit, di samping
itu, yang perlu kita lakukan hanyalah mengusahakan agar mimpi itu tidak menjadi
sekedar mimpi. Mereka yang tertawa sesungguhnya telah menghilangkan estetika
sebuah mimpi. Membuatnya menjadi buram, tampak jauh di atas, sehingga si
empunya mimpi tak mampu meraihnya. Seharusnya mereka yang tertawa itu
mengasihani diri mereka sendiri karena tidak mampu bermimpi setinggi orang yang
bermimpi di luar batas.