Pages

Sunday, July 12, 2015

Vennasa

Waktu itu kami masih mengenakan rok lipit berwarna merah. Lincah melompat kesana kemari seolah tidak pernah kehabisan tenaga. Ada satu perjalanan pulang yang berbeda. Bus antar-jemput yang biasanya tidak ramai, kali ini sedikit lebih padat karena ada penumpang tambahan. Bus sebelah rupanya menitipkan anggotanya di bus kami. Saya lupa berapa tepatnya penumpang tambahan itu, namun salah satunya masih berteman baik dengan saya sampai saat ini, dan mungkin sampai entah kapan. Namanya Vennasa.

Masuk ke sekolah menengah pertama, saya tidak terlalu memperhatikan, karena sebagian besar muridnya telah saya jumpai di sekolah dasar yang masih satu yayasan.  Memasuki tahun kedua, saya melihat Asha. Ia adalah satu dari sekitar 40-an orang yang duduk di kelas yang sama dengan saya. Postur badannya yang berisi dan cukup tinggi agak tertutupi di baris belakang. Dia duduk di tepat di sebelah jendela yang mengarah ke lapangan belakang sekolah. Saat itu, saya mendekati Asha dan teman sebangkunya yang juga saya kenal, Tamara. Dari situlah kami memulai tahun-tahun kami yang bergelombang.

Saturday, June 20, 2015

Halo, 13

“Pi, ekskul apa?”
“Ntah. Abangku nyuruh Temuga aja.”
“Terus?”
“Yaudahlah, coba aja dulu. Kau Temuga aja udah.”
“Ng... Okelah.”
***
 “Hilda, nanti mau daftar ekskul apa?”
“Temuga. Tias?”
“Eh, sama.”
“Iya? Ntar ngasih formulirnya bareng, ya.”
“Sip.”
***
“Perkenalkan, nama saya Tias Septilia, panggilan Tias. Kelas X-2. Mirip artis, Indah D P. Motivasi masuk Temuga, ikut temen.”
***
Suasana sekolah yang saat itu sudah riuh akibat MOS, bertambah riuh perihal promosi ekstrakurikuler. Yang saya ingat, waktu itu ada satu ekskul yang langsung membuat saya tertarik. Temuga. Tau apa yang membuatnya tampak menarik? Baju seragamnya. Kaos lengan panjang berwarna hitam. Desainnya pada waktu itu, terdapat logo Temuga yang setidaknya memakan lebih dari setengah bidang depan baju, tulisan TEMUGA di kanan lengan, tulisan angkatan serta slogan AKAKIS tercetak di belakang baju. Kali pertama melihatnya, langsung terbayang tampang saya saat mengenakannya. Tidak buruk.
Selepas MOS sekolah, senior dari berbagai ekskul sibuk menjajakan formulir pendaftaran ekskul yang mereka geluti. Saling berteriak tak mau kalah. Dapat saya rasakan gulungan kertas HVS berwarna di genggaman saya. Formulir Temuga. Hanya perlu mengisi biodata, kemudian kembalikan kepada senior di ekskul tersebut. Masalahnya, niat. Antara ogah-ogahan dan tidak sabar untuk mengembalikan formulirnya. Terus berusaha mencari teman, lantas berani mengembalikan formulir.
Pada saat itu, atau mungkin sampai saat ini, MOS Temuga bukanlah hal yang paling ingin kuikuti. Adu mulut pun kulakukan karena kepalang tersulut emosi. Bisa kurasakan mataku menikam orang-orang yang berada di sekitarku saat itu. Sampai akhirnya ketika saya di posisi mereka, saya paham, beginilah cara mereka menyalurkan rasa kekeluargaan. Beginilah cara mereka mengajarkan untuk berani mengambil langkah.

Monday, February 9, 2015

Antara Realistis dan Eskapisme


Satu semester berlalu dengan ketenangan yang—sebenarnya sedikit—dipaksakan. Waktu seolah menggelinding begitu saja, tahu-tahu sudah pukul sekian, sudah minggu ke sekian. Saya sendiri seperti orang linglung karena kesulitan mengingat hari. Saya ingat pernah meminta biar tahun ini bergulir saja dengan cepat, tapi saya tidak pernah menyangka akan secepat ini. Masih gamang kalau menelisik beberapa langkah ke belakang, takjub pada apa yang telah saya lewati, ternyata sekeras itu saya tertempah 2 tahun yang lalu, yang bisa saya rasakan dampaknya sekarang ini.

Tidak ada lagi wajah-wajah menyebalkan yang sangat familier bagi mata saya selama 3 tahun yang lewat. Wajah baru yang berusaha saya kenali 6 bulan belakangan inilah yang berlalu lalang hampir tiap hari. Orang-orang yang akan mengumpat bersama saya ke depannya. Orang-orang yang mungkin akan melihat saya jatuh untuk kemudian bangkit kembali. Saya sama sekali tidak punya gambaran akan seperti apa saya menjalani tahun-tahun ke depan. Menerka pun tidak berani, takut dikecewakan mimpi.

Friday, June 20, 2014

Penghujung Abu-Abu (II)

Beruntungnya saya, tahun pertama SMA bisa saya lewati tanpa kurang apapun.


***

Akhirnya saya terlepas dari tahun sebagai junior. Selama satu tahun saya menjadi siswa yang tidak terlalu aktif di kelas, namun saya imbangi di ekskul, walaupun harus banyak-banyak makan hati. Tahun pertama sebagai senior di SMA dan di Temuga, saya berusaha untuk tidak menjadi senior yang dibenci. Sebisa mungkin saya membangun hubungan kakak-adik yang baik. Kami mencoba mendidik mereka menjadi pribadi yang baik, yang tidak menyalurkan dendam mereka kepada adik kelas mereka nantinya. Saya dan yang lainnya juga berusaha untuk membangun komunikasi dengan Bunda, bertukar cerita dan meminta pendapat atas masalah yang kami hadapi. Banyak yang saya pelajari dari Bunda. Mulai dari menjadi murid yang baik, menjadi kakak kelas yang patut dijadikan contoh, bahkan menjadi seorang remaja yang tidak gegabah dalam memilih berbagai pilihan untuk dijalani. Kami juga semakin sering bertukar pikiran tentang apa saja.

Lain di ekskul, lain pula di kelas. Tahun kedua waktu itu saya merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Saya bingung saat di tempatkan di kelas XI IPA 3, entah apa yang saya bingungkan waktu itu. Kebingungan saya sejenak menguap saat tahu saya kembali satu kelas dengan Hilda, dan juga saya sangat bersyukur satu kelas dengan 3 orang dari Temuga yang lainnya.

Sunday, June 8, 2014

Penghujung Abu-Abu (I)

Assalamualaikum.

Baru bulan lalu saya resmi dinyatakan lulus sekolah menengah atas, menanggalkan seragam sekolah saya untuk seterusnya. Jadilah saya bukan siswa, belum pula mahasiswa walaupun saya sudah tahu di mana saya akan melanjutkan pendidikan saya. Saya ingin bercerita bagaimana tiga tahun saya tumbuh dalam warna abu-abu.

Mungkin waktu itu bulan Juni atau Juli 2 tahun lalu, saya lupa, rok seragam saya abu-abu alih-alih biru. Bukan lagi seragam pendek, melainkan panjang. Saya masuk dengan pemikiran masa orientasi yang akan saya hadapi waktu itu adalah salah satu dari pembodohan yang akan saya temui. Saya bukannya menentang masa orientasi, saya hanya kesal dengan ulah kakak kelas saya yang terkesan mencari-cari alasan untuk marah-marah selama masa orientasi tersebut. Saya dulu saya termasuk orang yang sewot terhadap senioritas yang berlebihan, bahkan mungkin sampai saat ini saya merasa begitu. Kalau boleh jujur dan tidak bermaksud berburuk sangka, saya selalu merasa beberapa kakak kelas saya ingin membuat juniornya merasakan apa yang dulu mereka rasakan saat ada di posisi kami saat itu. Saya tidak pernah pulang dengan hati yang berbunga-bunga selama 3 hari itu. Selalu ada umpatan yang saya sumbangkan setiap sore untuk tingkah mereka. Tapi, tidak semua kakak kelas seperti itu. Selalu ada kakak kelas yang lebih menghargai juniornya tanpa membuatnya dilupakan sebagai senior. Saya senang dengan orang-orang yang tahu kapan harus memasang sikap sebagai senior dan kapan tidak. Karena percayalah, kalian akan lebih senang jika disegani daripada ditakuti.

Friday, May 16, 2014

Mengarungi Pelaruga

Assalamualaikum, hai, semua!

Jadi, beberapa minggu yang lalu. Saya dan kelima teman saya sepakat untuk mengisi waktu libur kami yang panjang ini dengan tracking di Pelaruga. Tempat wisata yang tergolong baru ini sudah memasuki wilayah Langkat. Ada banyak spot jungle track yang bisa dijumpai di sini, antara lain Sungai Abadi dan Teroh-Teroh yang menjadi tujuan kami.

A moment before an adventure
Kami berangkat dari Medan sekitar pukul 08.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor. Tidak, kami tidak konvoi yang merugikan pengguna jalan. Kami hanya enam remaja yang sedang menikmati masa liburan yang nyaris membosankan. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Kurang lebih membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai ke tujuan. Bisa dibayangkan rasanya naik motor selama 3 jam non stop? Kebas bukan main. Tapi, perjalanan 3 jam belum seberapa dengan medan yang akan kami tempuh nantinya.

Saturday, April 19, 2014

Karena Menjadi Kreatif Itu Sederhana

Judul Buku      : Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati
Penulis             : Wahyu Aditya
Penerbit           : Bentang, Yogyakarta
Cetakan           : I, Januari 2013
                          II, Februari 2013
                          III, Mei 2013
Tebal               : xviii + 302 hlm

Sinopsis lihat di sini.



“Jadilah seperti anak kecil, hilangkan prasangka agar tercipta karya-karya kreatif.”
 – Thomas Huxley

Kenapa harus takut menjadi kreatif? Sedang kreatif bisa merubah ketakutan menjadi kekuatan untuk menjadi orang yang produktif. Contohnya saja, kita bisa membuat gambar atau bentuk binatang yang paling kita takuti, beri sedikit sentuhan imajinasi menarik, kemudian aplikasikan di beberapa media, dan mungkin bisa menjadi barang yang memiliki nilai jual. Hasil yang akan kita dapat tergantung dengan bagaimana kita menggunakan otak kanan kita untuk menuangkan kreatifitas kita dalam wadah kosong. Bukan soal bila karya yang kita hasilkan berlabel masterpiece atau tidak, karena tidak ada karya yang bagus atau tidak bagus, yang ada hanyalah suka atau tidak suka. Begitulah yang diungkapakan oleh Wahyu Aditya atau yang biasa disapa Mas Wadit dalam bukunya yang berjudul “Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati”.