Sudah sangat lama rasanya dari terakhir kali saya menulis seperti ini di dunia maya yang memiliki kemungkinan sangat besar untuk dibaca orang. Di umur sekarang ini, saya rasa saya hanya berani terang-terangan di satu media sosial saja. Tapi, kali ini, saya ingin kembali berterus terang pada diri saya sendiri lewat blog yang sudah tua ini.
Saya punya kecenderungan untuk berpikir melebihi yang seharusnya dan seringnya dibarengi dengan cepat merasa bersalah atas hal-hal yang saya lakukan. Contohnya adalah ketika saya ingin sekali-sekali menjadi egois dan memberanikan diri untuk berkata tidak atau pun meminta tolong kepada orang lain. Satu waktu saya merasa tidak apa kalau saya berperilaku seperti itu barang sekali-dua kali, detik berikutnya, saya merasa seperti balas dendam, dan saya tau itu buruk. Saya sering tersandung pikiran-pikiran saya sendiri saking berantakannya. Saya sadar kalau saya hanya menyusahkan diri sendiri dengan semua pikiran yang tidak jelas arah dan tujuannya, tapi ya itu tadi, saya kesulitan mengendalikan kepala saya.
Monday, January 29, 2018
Sunday, May 7, 2017
Tentang Millenials Salurkan Hobi
"Everyone needs a hobby," he said. "And everyone needs a miracle or two, just to prove life is more than just on long trudge from the cradle to the grave." ― Stephen King, Revival
Di era teknologi yang terus berkembang dewasa ini, sebagian besar orang berusaha untuk mengukuhkan eksistensinya di media sosial dan kini, fenomena tersebut tidak bisa terelakkan lagi. Sebut saja kalangan selebgram yang berlomba membuat vlog yang menceritakan tentang kesehariannya, yang bagi sebagian besar orang telah menjadi gaya hidup. Jika diperhatikan, sudah banyak akun-akun vlog di Youtube dengan beberapa konten yang
berbeda. Yunita Elisabeth salah seorang beauty and fashion vlogger yang membuat vlog tentang tips kecantikan rambut, OOTD, dan tutorial make up. Yunita menyalurkan hobinya lewat vlog agar bisa sharing tentang
informasi seputar beauty and fashion khususnya kepada kawula muda.
Sesekali Yunita Elisabeth juga sharing tentang kesehariannya di vlog, berawal dengan
ketertarikannya kepada dunia fashion and beauty, Yunita sadar semua orang layak
tampil cantik dan fashionable, dan untuk dapat tampil fashionable tidak selamanya harus mengeluarkan biaya yang mahal. Dari situlah, Yunita membagikan informasi tentang bagaimana tampil cantik dan fashionable tanpa harus mengeluarkan banyak biaya melalu Youtube channel-nya.
Monday, April 10, 2017
Cerita Tentang yang Asing
Dulu sekali, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya punya kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang asing lewat dunia maya, mencoba berbagai situs hanya untuk mencari teman bicara. Situs yang saya maksud disini tidak memaparkan identitas penggunanya, kita akan bertemu orang lain secara acak, dari seluruh penjuru dunia. Dari pengalaman yang sudah-sudah sebagian besar yang mengakses situs ini adalah remaja dan orang-orang dewasa. Untuk mendapatkan teman bicara yang nyaman bagi saya sendiri butuh beberapa kali percobaan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan yang satu ini.
Biasanya saya berinteraksi dengan orang-orang itu hanya selama beberapa hari bahkan hanya 1 hari itu saja. Dengan teman-kalau bisa saya menyebutnya begitu- saya ini, kami saling bertukar kabar cukup lama setelah sebelumnya bertukar alamat surel, bahkan sampai satu tahun mungkin? Saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, masih dalam kondisi yang cukup labil, sedangkan dia saat itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir kalau tidak salah.
Saya sendiri sampai bingung bagaimana caranya kami bisa begitu akrab, padahal ada begitu banyak hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Ah ya, mungkin karna itu. Karena kami tidak kenal. Kami berdua adalah orang asing yang tidak perlu berbasa-basi, toh pada dasarnya tidak ada tuntutan atau keharusan bersikap. Dan bagi saya sendiri, dia adalah sebuah ruang berlari, tanpa perlu takut dianggap seperti apa. Entah dia menganggap saya apa, saya tak terlalu ambil pusing.
Untuk seorang asing, dia terbilang sangat baik. Dia juga temang bicara yang cukup menyenangkan. Bahkan saling mencaci pun tak terasa menyakitkan. Apa yang perlu ditakutkan dari cacian orang asing?
Sekarang saya sudah berada di tahun ketiga perguruan tinggi. Sudah cukup lama saya tidak mendengar kabar teman saya itu. Terkadang saya merasa rindu bercerita tanpa takut dihakimi. Tapi, di sisi yang lain, saya merasa sudah cukup.
Beda rasanya jika saya berbicara atau bertukar sapa dengan teman lama saya. Saya terlalu takut dengan perubahan-perubahan yang bisa terjadi selama pembicaraan itu berlangsung. Saya takut merasa saya tak mampu mengimbangi mereka. Saya takut merasa mereka tidak ingin berteman dengan saya lebih lama lagi. Ya, saya memang se-insecure itu. Hal yang tidak saya dapati dari orang asing. Saya tidak akan memaksa mereka memahami saya karna sekali pun saya meminta mereka tidak akan pernah benar-benar melakukannya. Dan saya cukup tahu diri untuk tidak meminta hal yang berlebihan seperti pengertian atau yang semacamnya.
Sekarang saya benar-benar penasaran dengan kabar teman saya itu. Apakah dia baik-baik saja? Semoga kebahagiaan selalu ada bersamanya.
Sometimes, they made you think that strangers know you better.
Biasanya saya berinteraksi dengan orang-orang itu hanya selama beberapa hari bahkan hanya 1 hari itu saja. Dengan teman-kalau bisa saya menyebutnya begitu- saya ini, kami saling bertukar kabar cukup lama setelah sebelumnya bertukar alamat surel, bahkan sampai satu tahun mungkin? Saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, masih dalam kondisi yang cukup labil, sedangkan dia saat itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir kalau tidak salah.
Saya sendiri sampai bingung bagaimana caranya kami bisa begitu akrab, padahal ada begitu banyak hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Ah ya, mungkin karna itu. Karena kami tidak kenal. Kami berdua adalah orang asing yang tidak perlu berbasa-basi, toh pada dasarnya tidak ada tuntutan atau keharusan bersikap. Dan bagi saya sendiri, dia adalah sebuah ruang berlari, tanpa perlu takut dianggap seperti apa. Entah dia menganggap saya apa, saya tak terlalu ambil pusing.
Untuk seorang asing, dia terbilang sangat baik. Dia juga temang bicara yang cukup menyenangkan. Bahkan saling mencaci pun tak terasa menyakitkan. Apa yang perlu ditakutkan dari cacian orang asing?
Sekarang saya sudah berada di tahun ketiga perguruan tinggi. Sudah cukup lama saya tidak mendengar kabar teman saya itu. Terkadang saya merasa rindu bercerita tanpa takut dihakimi. Tapi, di sisi yang lain, saya merasa sudah cukup.
Beda rasanya jika saya berbicara atau bertukar sapa dengan teman lama saya. Saya terlalu takut dengan perubahan-perubahan yang bisa terjadi selama pembicaraan itu berlangsung. Saya takut merasa saya tak mampu mengimbangi mereka. Saya takut merasa mereka tidak ingin berteman dengan saya lebih lama lagi. Ya, saya memang se-insecure itu. Hal yang tidak saya dapati dari orang asing. Saya tidak akan memaksa mereka memahami saya karna sekali pun saya meminta mereka tidak akan pernah benar-benar melakukannya. Dan saya cukup tahu diri untuk tidak meminta hal yang berlebihan seperti pengertian atau yang semacamnya.
Sekarang saya benar-benar penasaran dengan kabar teman saya itu. Apakah dia baik-baik saja? Semoga kebahagiaan selalu ada bersamanya.
Sometimes, they made you think that strangers know you better.
Monday, February 29, 2016
The Concert
Saya bukan makhluk konser, bahkan bisa dibilang saya tidak
terlalu menikmati berada di lautan manusia dengan musik yang seakan-akan
mencengkeram gendang telinga saya. Walapun saya pernah mengikuti acara pentas
seni di SMA dulu--karena sebuah keharusan, saya tidak pernah mengikutinya
sampai selesai. Sebelum bintang utamanya keluar, sebisa mungkin saya berada
jauh dari sound system.
Selain konser musikaliasi yang diadakan ekskul saya dulu,
konser Efek Rumah Kaca di acara Iridescent February tempo hari adalah konser yang paling
membuat saya girang. Awalnya saya ragu mau datang, membayangkan kondisi hingar
bingar sebuah konser musik yang tidak pernah terasa nyaman. Tapi, teman kuliah
saya yang teramat sangat persuasif, berhasil membuat saya mengiyakan ajakan
untuk datang, ditambah dengan isu yang mengatakan bahwa ERK akan vakum. Dan
saya tidak menyesal dia terus merecoki saya.
Kali pertama saya berkenalan dengan musik ERK ini saat masih
duduk di bangku SMP, apalagi kalau bukan Desember. Saya menyukai iramanya yang
menenangkan. Setelah itu, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya karena
tidak ada orang lain yang tau tentang band ini. Setelah masuk kuliah, saya
bertemu dengan teman saya ini, dan ternyata playlist-nya
terbilang lengkap. Saya langsung mendengarkan semua albumnya, dan kembali jatuh
cinta. Beberapa orang yang saya kenalkan dengan band ini kebanyakan
mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang mereka dengar. Pun saya tidak
mengerti mereka.
Kembali ke konser, acara ini dimulai jam 19.00, diisi dengan
band-band lokal. Kami berdua duduk di sayap kanan. Memasuki jam 21.00, nama ERK mulai
digaungkan. Bisa dibayangkan, jantung saya berdebar bukan main. Melihat band
yang selama ini hanya saya kagumi dari playlist
saya. Entah siapa yang memulai, penonton yang semula duduk langsung bergerak ke
bibir panggung, berdiri dihadapan ERK. Dibuka dengan lagu Merah, sontak
semuanya berteriak riuh, tepuk tangan dan ikut melantunkan lagunya.
Tak bisa dipungkiri, ketika menonton sesuatu yang saya sukai
seperti ini secara langsung, saya menjadi hyperactive,
badan saya tidak mau diam, berteriak tidak karuan, memanfaatkan kondisi
disekitar saya yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Saya menyukai
atmosfer selama Mas Cholil dan kawan-kawan (minus Mas Adrian) manggung.
Penonton ikut bernyanyi di semua lagu yang mereka bawakan. Saya tidak bisa
mengatakan lagu mana yang paling “berisik”, karena rata-rata lagu yang
dibawakan memicu teriakan maksimal. Lagu-lagu dari album Sinestesia, dan album
lainnya.
Cara mereka membawakan lagu-lagunya pun membuat saya
melupakan tugas-tugas yang harusnya saya siapkan. Mereka terlihat bermain
dengan hati, bergerak mengikuti musik, saya sendiri sampai ikut memejamkan
mata, mengisolasikan diri saya dengan musik mereka. Terlebih cara Mas Cholil bernanyi, membuat saya lebih memaknai lagu-lagu
ERK. Favorit saya? Semuanya! Saya sangat menikmati permainan mereka. Saya jatuh
cinta lebih dalam terhadap karya-karya mereka. Maybe I’m a freak, but at least I have my own world. Sayang aja
saya tidak dapat pick gitar yang
dilempar, padahal mupeng pas liat Mas Cholil ngeluarin pick dari kantong.
Mungkin saya akan mengikuti konser mereka setelah vakum
kalau saya ada kesempatan. Well,
goodluck, Efek Rumah Kaca! You worth
my voice!
Ah ya, kalian harus mulai mencoba untuk mendengar musik mereka. Mulai dengan Desember!
Salam,
T
Tuesday, September 1, 2015
Satu Tahun (Penghujung Abu-Abu III)
Satu tahun lagi terlewati dengan aman sentosa.
***
Genap setahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu. Dalam
jangka waktu itu pula saya menyandang status sebagai mahasiswi. Tidak lagi
berbagi meja dengan Hilda, tidak lagi menelan mata pelajaran yang mengulas
semua bidang sains. Sekarang saya di sini, mengambil jalan yang telah saya
pilih beberapa hari tepat sebelum angket pemilihan jurusan dikembalikan ke
bidang kurikulum sekolah.
Tahun ketiga saya sebagai siswi sekolah menengah atas
terbilang santai. Di saat orang lain menyibukkan diri dengan bimbingan belajar
dengan dalih mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas, saya memilih
untuk mempersiapkan sendiri—dengan bantuan teman saya yang juga mengikuti
bimbingan belajar. Saya hanya mengikuti bimbingan untuk memperdalam ilmu Kimia saya, entah kenapa, itupun
hanya satu semester. Selebihnya, saya terus merecoki teman saya itu.
Tak banyak perubahan dalam pergaulan saya di kelas. Sedikit
banyak, saya mulai membuka diri namun tetap membuat jarak. Saya lebih banyak
menolak ketimbang mengiyakan ajakan mereka untuk sekedar makan bersama. Entah kenapa
saya masih merasa asing. Tapi, tetap, bukan berarti saya membenci mereka. Saya hanya
merasa...berbeda.
Tahun ketiga juga berarti melepas jabatan yang saya sandang
di ekstrakulikuler yang saya geluti. Bagian ini yang paling berat sebenarnya. Selama
3 tahun kami berusaha untuk saling menerima, bukan sedikit waktu yang saya bagi
bersama mereka. Sampai bosan rasanya. Ritual serah-jabatan bukanlah agenda yang
saya sambut secara suka cita. Dengan melepas jabatan seolah menjadi lampu kuning—kami
akan segera meninggalkan kelompok ini. Sekali lagi kami berdiri di hadapan
adik-adik yang kelak akan memegang kendali yang telah setahun kami pegang, menghujani mereka dengan petuah-petuah dan harapan kami kedepannya. Kami
terlalu menyayangi persaudaraan ini. Tapi, toh kami tetap harus bergerak maju.
Wednesday, August 26, 2015
Tamara
Kalau ada orang yang harus saya kagumi karena kepintarannya,
maka Tamara akan menjadi salah seorang di antaranya. Sejak saya mengenalnya
kurang lebih 8 tahun yang lalu, dia selalu hadir dengan prestasi akademis yang
membanggakan. Nilainya selalu cemerlang, terlebih kemampuan berbahasa asingnya
yang tidak perlu diragukan lagi.
Kali pertama saya
mengenal sosok dengan otak brilian ini sewaktu saya duduk di sekolah
dasar, kebetulan kami berada di bimbingan belajar yang sama. Di luar itu, kami
tidak pernah bertemu sekalipun kami satu sekolah. Saat itu, tidak pernah
terlintas di kepala saya kami akan menjalin pertemanan sejauh ini.
Ketika akhirnya seragam saya tak lagi rok lipit merah, saya
tahu Tamara memasuki sekolah yang sama, tapi tidak duduk di kelas yang sama. Saat
memasuki tahun kedualah, saya kembali bertemu dengan Tamara dalam satu ruang
kelas. Dialah yang menjadi teman sebangku Asha selama 2 tahun. Mereka tampak
seperti duo pintar yang tidak berusaha untuk terlihat pintar. Dan beruntungnya,
mereka mau berteman dengan saya yang biasa-biasa saja.
Di antara kami bertiga, saya dan Tamara acap kali berbeda
jalan. Tak jarang kami tidak saling menegur sapa karena ego masing-masing.
Semua perang dingin itu untungnya selalu berakhir secara damai. Tapi, hal itu
justru menumbuhkan rasa pengertian dalam diri kami. Saya tidak pernah menyesali
adanya pertengkaran-pertengkaran itu, bukan berarti saya menginginkannya lagi. Hanya
saja, saya puas, pertemanan kami tidak semudah itu, yang justru menjadikannya
berharga.
Monday, August 10, 2015
Selalu Ada Surat yang Menunggu untuk Dibaca
![]() |
| Sumber: Goodreads.com |
Judul Buku : Surat Panjang Tentang Jarak Kita
yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis :
Dewi Kharisma Michellia
Penerbit :
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan :
I, Juni 2013
Tebal : 240 hal
Rate : 5/5
Buku dengan judul yang cukup panjang ini
sebenarnya sudah pernah saya baca. Review ini saya tulis ketika saya membaca
untuk yang kesekian kalinya, namun sedikit lebih seksama.
Ini merupakan setumpuk surat yang tak pernah
sampai. Dari seorang wanita yang terlalu terpaku pada Tuan Alien—sahabatnya,
berdua mereka menolak dunia, mengklaim bahwa mereka tidak sama dengan “manusia”
lain di bumi. Segala tentang mereka amat mirip, mulai dari bentuk fisik hingga
kesukaan. Sampai terucaplah sebuah janji, mereka akan melawan dunia bersama,
dalam lingkaran pernikahan.
Wush!
Bak tertiup angin, Tuan Alien menghilang tanpa
kabar hingga puluhan tahun. Entah melajang atau tidak “Aku” tak pernah tahu,
yang “Aku” tahu, dia tidak ingin siapapun kecuali sahabatnya, Tuan Alien yang
menerimanya dan mengerti dirinya. Terlepas dari itu, “Aku” memang tidak
memiliki siapa-siapa. Kepada tuan pemilik toko buku langganannya, “Aku”
menceritakan semua tentang satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak kecil,
yang kini bahkan tak ia ketahui keberadaanya. Sampai suatu saat sahabat
sekaligus cintanya itu hadir dalam bentuk sebuah undangan pernikahan. Tuan
Alien tak lagi menjadi alien-nya. Dari situlah, “Aku” mengawali berpuluh
surat-suratnya.
Sunday, July 12, 2015
Vennasa
Waktu itu kami masih mengenakan
rok lipit berwarna merah. Lincah melompat kesana kemari seolah tidak pernah
kehabisan tenaga. Ada satu perjalanan pulang yang berbeda. Bus antar-jemput
yang biasanya tidak ramai, kali ini sedikit lebih padat karena ada penumpang
tambahan. Bus sebelah rupanya menitipkan anggotanya di bus kami. Saya lupa
berapa tepatnya penumpang tambahan itu, namun salah satunya masih berteman baik
dengan saya sampai saat ini, dan mungkin sampai entah kapan. Namanya Vennasa.
Masuk ke sekolah menengah pertama, saya tidak terlalu memperhatikan, karena sebagian besar muridnya telah saya jumpai di sekolah dasar yang masih satu yayasan. Memasuki tahun kedua, saya melihat Asha. Ia adalah satu dari sekitar 40-an orang yang duduk di kelas yang sama dengan saya. Postur badannya yang berisi dan cukup tinggi agak tertutupi di baris belakang. Dia duduk di tepat di sebelah jendela yang mengarah ke lapangan belakang sekolah. Saat itu, saya mendekati Asha dan teman sebangkunya yang juga saya kenal, Tamara. Dari situlah kami memulai tahun-tahun kami yang bergelombang.
Masuk ke sekolah menengah pertama, saya tidak terlalu memperhatikan, karena sebagian besar muridnya telah saya jumpai di sekolah dasar yang masih satu yayasan. Memasuki tahun kedua, saya melihat Asha. Ia adalah satu dari sekitar 40-an orang yang duduk di kelas yang sama dengan saya. Postur badannya yang berisi dan cukup tinggi agak tertutupi di baris belakang. Dia duduk di tepat di sebelah jendela yang mengarah ke lapangan belakang sekolah. Saat itu, saya mendekati Asha dan teman sebangkunya yang juga saya kenal, Tamara. Dari situlah kami memulai tahun-tahun kami yang bergelombang.
Saturday, June 20, 2015
Halo, 13
“Pi, ekskul apa?”
“Ntah. Abangku nyuruh Temuga aja.”
“Terus?”
“Yaudahlah, coba aja dulu. Kau Temuga aja
udah.”
“Ng... Okelah.”
***
“Hilda, nanti mau daftar ekskul apa?”
“Temuga. Tias?”
“Eh, sama.”
“Iya? Ntar ngasih formulirnya bareng, ya.”
“Sip.”
***
“Perkenalkan, nama saya Tias Septilia,
panggilan Tias. Kelas X-2. Mirip artis, Indah D P. Motivasi masuk Temuga, ikut
temen.”
***
Suasana
sekolah yang saat itu sudah riuh akibat MOS, bertambah riuh perihal promosi
ekstrakurikuler. Yang saya ingat, waktu itu ada satu ekskul yang langsung
membuat saya tertarik. Temuga. Tau apa yang membuatnya tampak menarik? Baju
seragamnya. Kaos lengan panjang berwarna hitam. Desainnya pada waktu itu,
terdapat logo Temuga yang setidaknya memakan lebih dari setengah bidang depan
baju, tulisan TEMUGA di kanan lengan, tulisan angkatan serta slogan AKAKIS
tercetak di belakang baju. Kali pertama melihatnya, langsung terbayang tampang
saya saat mengenakannya. Tidak buruk.
Selepas MOS
sekolah, senior dari berbagai ekskul sibuk menjajakan formulir pendaftaran
ekskul yang mereka geluti. Saling berteriak tak mau kalah. Dapat saya rasakan
gulungan kertas HVS berwarna di genggaman saya. Formulir Temuga. Hanya perlu
mengisi biodata, kemudian kembalikan kepada senior di ekskul tersebut.
Masalahnya, niat. Antara ogah-ogahan dan tidak sabar untuk mengembalikan
formulirnya. Terus berusaha mencari teman, lantas berani mengembalikan
formulir.
Pada saat
itu, atau mungkin sampai saat ini, MOS Temuga bukanlah hal yang paling ingin
kuikuti. Adu mulut pun kulakukan karena kepalang tersulut emosi. Bisa kurasakan
mataku menikam orang-orang yang berada di sekitarku saat itu. Sampai akhirnya
ketika saya di posisi mereka, saya paham, beginilah cara mereka menyalurkan
rasa kekeluargaan. Beginilah cara mereka mengajarkan untuk berani mengambil
langkah.
Monday, February 9, 2015
Antara Realistis dan Eskapisme
Satu
semester berlalu dengan ketenangan yang—sebenarnya sedikit—dipaksakan. Waktu
seolah menggelinding begitu saja, tahu-tahu sudah pukul sekian, sudah minggu ke
sekian. Saya sendiri seperti orang linglung karena kesulitan mengingat hari.
Saya ingat pernah meminta biar tahun ini bergulir saja dengan cepat, tapi saya
tidak pernah menyangka akan secepat ini. Masih gamang kalau menelisik beberapa
langkah ke belakang, takjub pada apa yang telah saya lewati, ternyata sekeras
itu saya tertempah 2 tahun yang lalu, yang bisa saya rasakan dampaknya sekarang
ini.
Tidak ada
lagi wajah-wajah menyebalkan yang sangat familier bagi mata saya selama 3 tahun
yang lewat. Wajah baru yang berusaha saya kenali 6 bulan belakangan inilah yang
berlalu lalang hampir tiap hari. Orang-orang yang akan mengumpat bersama saya
ke depannya. Orang-orang yang mungkin akan melihat saya jatuh untuk kemudian
bangkit kembali. Saya sama sekali tidak punya gambaran akan seperti apa saya
menjalani tahun-tahun ke depan. Menerka pun tidak berani, takut dikecewakan
mimpi.
Friday, June 20, 2014
Penghujung Abu-Abu (II)
Beruntungnya saya, tahun pertama SMA bisa saya lewati tanpa kurang apapun.
***
Akhirnya saya terlepas dari tahun sebagai junior. Selama satu tahun saya menjadi siswa yang tidak terlalu aktif di kelas, namun saya imbangi di ekskul, walaupun harus banyak-banyak makan hati. Tahun pertama sebagai senior di SMA dan di Temuga, saya berusaha untuk tidak menjadi senior yang dibenci. Sebisa mungkin saya membangun hubungan kakak-adik yang baik. Kami mencoba mendidik mereka menjadi pribadi yang baik, yang tidak menyalurkan dendam mereka kepada adik kelas mereka nantinya. Saya dan yang lainnya juga berusaha untuk membangun komunikasi dengan Bunda, bertukar cerita dan meminta pendapat atas masalah yang kami hadapi. Banyak yang saya pelajari dari Bunda. Mulai dari menjadi murid yang baik, menjadi kakak kelas yang patut dijadikan contoh, bahkan menjadi seorang remaja yang tidak gegabah dalam memilih berbagai pilihan untuk dijalani. Kami juga semakin sering bertukar pikiran tentang apa saja.
Lain di ekskul, lain pula di kelas. Tahun kedua waktu itu saya merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Saya bingung saat di tempatkan di kelas XI IPA 3, entah apa yang saya bingungkan waktu itu. Kebingungan saya sejenak menguap saat tahu saya kembali satu kelas dengan Hilda, dan juga saya sangat bersyukur satu kelas dengan 3 orang dari Temuga yang lainnya.
Sunday, June 8, 2014
Penghujung Abu-Abu (I)
Assalamualaikum.
Baru bulan lalu saya resmi dinyatakan lulus sekolah menengah atas, menanggalkan seragam sekolah saya untuk seterusnya. Jadilah saya bukan siswa, belum pula mahasiswa walaupun saya sudah tahu di mana saya akan melanjutkan pendidikan saya. Saya ingin bercerita bagaimana tiga tahun saya tumbuh dalam warna abu-abu.
Mungkin waktu itu bulan Juni atau Juli 2 tahun lalu, saya lupa, rok seragam saya abu-abu alih-alih biru. Bukan lagi seragam pendek, melainkan panjang. Saya masuk dengan pemikiran masa orientasi yang akan saya hadapi waktu itu adalah salah satu dari pembodohan yang akan saya temui. Saya bukannya menentang masa orientasi, saya hanya kesal dengan ulah kakak kelas saya yang terkesan mencari-cari alasan untuk marah-marah selama masa orientasi tersebut. Saya dulu saya termasuk orang yang sewot terhadap senioritas yang berlebihan, bahkan mungkin sampai saat ini saya merasa begitu. Kalau boleh jujur dan tidak bermaksud berburuk sangka, saya selalu merasa beberapa kakak kelas saya ingin membuat juniornya merasakan apa yang dulu mereka rasakan saat ada di posisi kami saat itu. Saya tidak pernah pulang dengan hati yang berbunga-bunga selama 3 hari itu. Selalu ada umpatan yang saya sumbangkan setiap sore untuk tingkah mereka. Tapi, tidak semua kakak kelas seperti itu. Selalu ada kakak kelas yang lebih menghargai juniornya tanpa membuatnya dilupakan sebagai senior. Saya senang dengan orang-orang yang tahu kapan harus memasang sikap sebagai senior dan kapan tidak. Karena percayalah, kalian akan lebih senang jika disegani daripada ditakuti.
Friday, May 16, 2014
Mengarungi Pelaruga
Assalamualaikum, hai, semua!
Jadi, beberapa minggu yang lalu. Saya dan kelima teman saya sepakat untuk mengisi waktu libur kami yang panjang ini dengan tracking di Pelaruga. Tempat wisata yang tergolong baru ini sudah memasuki wilayah Langkat. Ada banyak spot jungle track yang bisa dijumpai di sini, antara lain Sungai Abadi dan Teroh-Teroh yang menjadi tujuan kami.
![]() |
| A moment before an adventure |
Kami berangkat dari Medan sekitar pukul 08.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor. Tidak, kami tidak konvoi yang merugikan pengguna jalan. Kami hanya enam remaja yang sedang menikmati masa liburan yang nyaris membosankan. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Kurang lebih membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai ke tujuan. Bisa dibayangkan rasanya naik motor selama 3 jam non stop? Kebas bukan main. Tapi, perjalanan 3 jam belum seberapa dengan medan yang akan kami tempuh nantinya.
Saturday, April 19, 2014
Karena Menjadi Kreatif Itu Sederhana
Judul
Buku : Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati
Penulis : Wahyu Aditya
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2013
II, Februari 2013
III, Mei 2013
Tebal : xviii + 302 hlm
Sinopsis lihat di sini.
“Jadilah seperti anak kecil,
hilangkan prasangka agar tercipta karya-karya kreatif.”
– Thomas Huxley
Kenapa
harus takut menjadi kreatif? Sedang kreatif bisa merubah ketakutan menjadi
kekuatan untuk menjadi orang yang produktif. Contohnya saja, kita bisa membuat
gambar atau bentuk binatang yang paling kita takuti, beri sedikit sentuhan
imajinasi menarik, kemudian aplikasikan di beberapa media, dan mungkin bisa
menjadi barang yang memiliki nilai jual. Hasil yang akan kita dapat tergantung
dengan bagaimana kita menggunakan otak kanan kita untuk menuangkan kreatifitas
kita dalam wadah kosong. Bukan soal bila karya yang kita hasilkan berlabel masterpiece atau tidak, karena tidak ada
karya yang bagus atau tidak bagus, yang ada hanyalah suka atau tidak suka.
Begitulah yang diungkapakan oleh Wahyu Aditya atau yang biasa disapa Mas Wadit
dalam bukunya yang berjudul “Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati”.
Mimpi Melanggar "Teritori"
Katanya,
hidup berawal dari sebuah mimpi. Banyak persepsi tentang mimpi itu sendiri.
Beberapa orang mengatakan, “Jangan bermimpi terlampau tinggi, kelak jatuh akan
mendalam sakitnya.”, beberapa ada pula yang seolah menjawab pemikiran pertama,
“Bagaimana kita tau bangkit, jika tak pernah jatuh sebelumnya?”, beberapa lagi
malah mengatakan, “Gantungkanlah mimpimu setinggi-tingginya, karena percayalah
kamu tidak akan jatuh sedalam-dalamnya.”. Atau yang lebih menggelikan, mereka yang
menghadang mimpi orang lain, entah itu dengan kata, maupun tindakan.
Terkadang
saya merasa lucu sekaligus prihatin melihat orang yang menertawai mimpi orang
lain hanya karena mimpi itu berada di luar lingkarannya. Layaknya sebuah
lelucon yang mustahil dan tidak masuk akal, mereka tertawa atas mimpi yang
setinggi langit itu. Katakanlah mereka yang tertawa itu adalah orang yang
merasa dirinya mampu atas segala hal, pun mimpi orang lain dia yang mengatur.
Apa mereka harus bertindak sekejam itu? Bukankah mimpi itu harusnya indah dan
tanpa beban? Kita bebas untuk menggantung mimpi di bentangan langit, di samping
itu, yang perlu kita lakukan hanyalah mengusahakan agar mimpi itu tidak menjadi
sekedar mimpi. Mereka yang tertawa sesungguhnya telah menghilangkan estetika
sebuah mimpi. Membuatnya menjadi buram, tampak jauh di atas, sehingga si
empunya mimpi tak mampu meraihnya. Seharusnya mereka yang tertawa itu
mengasihani diri mereka sendiri karena tidak mampu bermimpi setinggi orang yang
bermimpi di luar batas.
Saturday, April 12, 2014
Detik-Detik Sebelum Hari Senin
Assalamualaikum!
Hai, dua hari lagi sudah harus membayar 1080 hari di SMA dengan 3 hari UN. Gak nyangka, ya, saya sudah setua ini. *tertawa miris*
Yah, mungkin buat yang baca ini mikirnya, "Ini anak mau ujian bukannya belajar malah nge-blog, emangnya ntar keluar pas UN?", atau hipotesis lainnya. Ya, jujur aja saya sih mumet belajar, mau ngurangin beban di otak lewat nonton tv, malah makin stress, jadilah saya lari ke sini, itung-itung ada temen ngobrol walaupun satu arah. *ngeringkuk di pojokan*
Monday, March 17, 2014
Sebuah Cerita dari Balik Dinding
Menyenangkan rasanya ternggelam dalam rengkuhan yang kuciptakan sendiri. Menjalari hangat yang menyelinap di antara sergapan dinginnya tembok di sekelilingku. Butir-butir rasa nyaman yang kupungut satu per satu di jalan yang mulai terlupakan. Entah aku yang terlalu sensitif atau memang aku yang selalu di belakang.
Aku merasa terlampau monoton, terlampau konsisten dalam arti yang tidak menyenangkan, aku nyaris bisa menebak kemana angin akan membawa kisah yang kuhadapi. Aku tidak menyalahi apa-apa, atau siapa-siapa. Aku hanya...mungkin aku hanya lelah. Sangking lelahnya, aku buta arah, tak lagi tahu kemana harus berlari, tak lagi tahu kemana harus pulang.
Sunday, March 2, 2014
Karena untuk sejenak saja, saya terlena karena merasa begitu penting bagi orang lain. Dan untuk kesekian kalinya, saya merasa begitu menyedihkan, karena harus kembali tertipu. Karena, kemana pun saya berlari, sepertinya akan menemukan hal yang sama. Saya lemah akan iming-iming kata-kata manis. Saya lemah akan segala tindak pencitraan-ala-caleg. Untuk yang entah ke berapa, saya tertipu.
Sunday, December 29, 2013
Farewell Trip to Bukittinggi
Assalamualaikum! Look who's finally posting!
Desember udah mau habis, tahun 2013 juga udah mau tamat. Saya lega, akhirnya semuanya bisa kembali ke keadaan yang lebih baik, setidaknya saya bisa bernafas sedikit lebih lega, walaupun tahun depan saya ngos-ngosan lagi ngadepin status baru, mahasiswi cuuuyyy. Amin!
Tapi, sebelum kesanakan harus ujian dulu. Ujian Semester 1 udah lewat dengan baik, hasil rapor yang...yah lumayanlah. Alhamdulillah, semua tuntas, ndak ada remedial. Semester ini kayaknya lempang aja. Kayak bukan ujian gitu perasaannya, padahal ndak tau sukses apa ndaknya.
Desember udah mau habis, tahun 2013 juga udah mau tamat. Saya lega, akhirnya semuanya bisa kembali ke keadaan yang lebih baik, setidaknya saya bisa bernafas sedikit lebih lega, walaupun tahun depan saya ngos-ngosan lagi ngadepin status baru, mahasiswi cuuuyyy. Amin!
Tapi, sebelum kesanakan harus ujian dulu. Ujian Semester 1 udah lewat dengan baik, hasil rapor yang...yah lumayanlah. Alhamdulillah, semua tuntas, ndak ada remedial. Semester ini kayaknya lempang aja. Kayak bukan ujian gitu perasaannya, padahal ndak tau sukses apa ndaknya.
Labels:
#ThingsOfTheMonth,
EndOfTheMonth,
Momen,
People,
Place(s)
Friday, November 29, 2013
Pensiun
Assalamualaikum!
Akhirnya kami ada dipenghujung masa jabatan sebagai pengurus Temuga. Udah setahun juga ternyata ngurus Temuga, dan 3 tahun jadi bagian dari Temuga. Mulai dari adik paling bungsu yang mengkek, anak tengah mau tidak mau harus berdiri sendiri, dan menjadi anak sulung yang harus melindungi dan membimbing adik-adiknya.
Terlalu banyak cerita yang terjadi dalam keluarga sederhana saya yang kedua ini. Mulai dari merasa dikucilkan, dipojokkan, dibenci, bahkan disayangi, kami merasakannya bersama-sama. Saya mengenal arti saudara di sini, rasanya saya sudah hapal gelagat orang-orang di angkatan saya. Semua sifat ada, tapi syukurnya itu yang membuat kami merasa kami harus saling melengkapi untuk membuatnya sempurna. Kebersamaan kami tidak ada artinya tanpa didampingi Bunda Reni, Ayah Jum, Kak Mun.
Subscribe to:
Posts (Atom)




